Novel Potion-danomi de Ikinobimasu! Bahasa Indonesia chapter 22

Potion-danomi de Ikinobimasu! Chapter 22




*** Kuil Kerajaan Balmour ***

Sebenarnya, itu disebut hanya sebagai "Kuil"




Karena hanya ada satu Dewi di dunia ini yaitu dewi Celestine
Tidak perlu repot menyebutkan nama kuil karena semua orang di dunia ini hanya memuja Celestine.
Bahkan jika kita mencoba untuk membedakannya dari sekte negara lain dengan perbedaan dalam ajarannya, kita hanya akan menyebutnya "Goddess Faction Orthodoxs "
(Ga saya terjemahin karena bingung mau diterjemahin jadi apa)

Yang memiliki peringkat tertinggi di Kerajaan ini adalah Pendeta Agung Sornie.

Di bawahnya, ada beberapa uskup, lebih banyak pendeta, kepala pendeta, biksu, dsb.
Ada beberapa orang di bawah kepala pendeta di kuil daerah, dan para pendeta yang biasanya bekerja di kuil besar di kerajaan.

Tidak ada perbedaan antara pria dan wanita pada tingkat ini.

Tetapi ada wanita yang disebut "Miko" yang sepenuhnya terpisah tingkatnya.

"Miko" tidak memiliki makna seperti "Pengantin Dewa" karena  Dewa kita adalah seorang dewi.

Tetapi karena dewi Celestine memiliki sosok seorang gadis, orang-orang berpikir bahwa mereka akan membutuhkan seorang gadis untuk melakukan komunikasi dengan sang dewi.
Miko yang memiliki kontrak dengan dewi, bahkan jika menikah atau menjadi tua, gelar mereka masih dipertahankan.

Gelar yang lebih tinggi dari uskup agung adalah kardinal dan paus yang hanya ada di Kekaisaran Suci Rueda.
Paus memegang kekuasaan absolut di kuil.
Tidak seperti Raja, kata-katanya mungkin mempengaruhi banyak negara sekaligus.

Adapun negara selain Kekaisaran Suci, setiap kali sesuatu terjadi, mereka perlu waspada apakah negara suci akan mengeluarkan instruksi agama dengan nama Paus.

Dewi Celestine memiliki penampilan seperti seorang gadis. Kadang-kadang, ia tampaknya memberikan "Oracle" untuk memberi tahu manusia tentang bencana dalam beberapa tahun atau beberapa dekade.

Tetapi selama lebih dari 50 tahun, belum ada Oracle dan bencana besar.
Generasi baru dari mereka yang bekerja di kuil tidak pernah didatangi oleh dewi.
Iman mereka yang bekerja di kuil mulai memudar, mereka menggunakan nama dewi sebagai sarana untuk mencari uang, dan korupsi menyebar.

Orang di kuil pisat tahu bahwa sang dewi belum menunjukkan diri selama lebih dari 50 tahun dan tentang ramalan yang dikeluarkan  dari Paus Kekaisaran Suci Rueda.
Itu dibuat oleh Kuil Agung dari Tanah Suci tanpa izin.
Mereka tidak benar-benar percaya pada Dewi, jadi mereka tidak benar-benar takut pada hukuman Dewi.
Mereka bahkan berani menggunakan hukuman Dewi untuk mengancam orang.

Uskup Sarazan.
Dia tidak pernah melihat dewi dengan matanya, dan dia naik ke peringkat ini hanya demi kekayaan.
Citra dewi adalah seorang gadis yang tampak lembut juga merupakan faktor yang membuat Sarazan berpikir bahwa "Bahkan jika sang dewi itu nyata, dia tidak akan marah soal hal-hal sepele"



* POV Uskup Sarazan *



"Apa kamu mengatakan adanya malaikat dewi?" (Sarazan)



Uskup Sarazan baru saja mendapatkan informasi dari bangsawan rendahan, yang menyebar ke pastor lain dan akhirnya mencapai telinganya.



"Ya, banyak bangsawan melihat keajaiban ..." (Imam)



Ini bodoh.
Dalam catatan masa lalu, Dewi selalu membuat Oracle secara langsung.
Dia tidak pernah memberikan Oracle melalui perantara seperti malaikat.
Dia secara bersamaan muncul di kuil agung masing-masing negara dan memberi tahu uskup dan pendeta secara langsung.

Sudah 53 tahun sejak oracle terakhir diturunkan.

Apakah gadis kecil ini menggunakan beberapa trik yang berhasil mengadopsinya dalam keluarga bangsawan ...?
Tidak, ... tunggu.
Apakah dia malaikat asli atau bukan, itu tidak masalah.
Jika orang-orang dan para bangsawan percaya pada desas-desus itu, aku bisa menggunakannya ...

Bahkan jika dia palsu, aki hanya perlu melimpahkan semua kesalahan kepadanya bahwa dia berpura-pura menjadi malaikat dan menipu semua orang.
Aku juga hanya korban yang tertipu.
Tidak akan ada masalah.
Aku bisa menggunakannya untuk menghasilkan banyak keuntungan ...

Untungnya, uskup agung dan uskup lainnya belum tahu tentang dia.
Aku akan menjadi orang pertama yang berbicara dengan gadis kecil itu dan menjadi juru kunci untuknya.
Aku bisa mendapatkan informasi dari bangsawan termasuk keberadaan gadis kecil yang sedang dicari oleh istana kerajaan.
Di istana kerajaan juga, ada banyak orang yang menuruti imannya.

"Panggil pendeta Dorun" (Sarazan)



Uskup Sarazan memerintahkan pendeta Dorun untuk menjemput gadis itu setelah dia mendapat informasi.



* Kembali ke sudut pandang Kaoru *



Sehari setelah Kaoru dilecehkan oleh penjaga gerbang Istana.
Saat membersihkan bagian depan pintu masuk bengkel, sebuah kereta kuda datang.
Dan orang di dalamnya membuka jendela bertanya dari dalam ...



"Apakah tempat ini bengkel Maiyaru?"

( entah kenapa aku punya firasat buruk ...) (Kaoru)



Kaoru berhenti menggerakkan sapu di tangannya dan menjawab.



"Ya, ini adalah bengkel Maiyaru, aku Kaoru" (Kaoru)



Karena akan merepotkan, Kaoru memutuskan untuk segera menanganinya.
Ketika dia mendengar jawaban dari Kaoru, pria itu turun dari kereta.
Pria berusia sekitar 50 tahun itu, memiliki banyak lemak, mengenakan pakaian yang indah.
Namun, ini bukan pakaian bangsawan.



"Aku pendeta Kuil Besar, Dorun, uskup telah memanggilmu, datanglah!" (Dorun)

(Ah, satu lagi ...) (Kaoru)



Pendeta Dorn, yang diperintahkan oleh Uskup Sarazan untuk membawa Kaoru kepadanya, juga mirip dengan uskup Sarazan.
Ketika dia disuruh membawa "Malaikat" dari Sarazan,
dia memikirkan hal yang sama dengan Sarazan.
Tentu saja, karena dia berada di fraksi Sarazan, dia penuh obsesi.
Seperti Sarazan, dia tidak berpikir bahwa Kaoru adalah malaikat yang nyata sehingga tidak ada rasa hormat padanya.
Pertama, karena perintah dari Sarazan bukan "mengundangnya" tetapi "mengajaknya"



"Tapi aku menolak" (Kaoru)

"Huh ……" (Dorun)



Dorun tidak tahu harus berkata apa untuk sesaat dalam menanggapi Kaoru.
Bagaimanapun, tidak terduga, untuk berpikir orang biasa yang berani menentang kata-kata pendeta.
Wajah Pendeta Dorn secara bertahap berubah merah.



"Kurang ajar, apa yang kamu katakan! Ini adalah perintah uskup! "(Dorun)

"Yah, karena aku bukan dari negara ini.
Aku tidak punya kewajiban untuk mematuhi apa yang dikatakan orang dari kuil negara lain.
Selain itu,  pendeta tidak memiliki hak untuk memerintah orang lain ”(Kaoru)

"Kamu ......" (Dorun)



Saat Kaoru menjawab, Dorun menjadi lebih marah dan mencoba meraih Kaoru.
Orang-orang mulai berkumpul karena keributan.
Memperhatikan bahwa ada banyak orang yang berkumpul, Kaoru melanjutkan.



“Apa yang kamu coba lakukan, memaksa gadis yang kamu tidak suka ke belakang kuil ...
「Dan kemudian tidak ada lagi yang melihat gadis itu dimanapun」
Atau 「beberapa hari kemudian, mayat gadis itu ditemukan di tepi sungai ...」
Maafkan aku untuk hal-hal seperti itu ”(Kaoru)

"Ki ~, kamu, kamu ..." (Dorun)



Wajah Dorn memerah dan dia mengangkat suaranya sambil berteriak.



“Kamu, kamu tidak takut dengan hukuman Dewi! Kemarahan Dewi ... "(Dorun)

“Hukuman Dewi? Kemarahan Dewi ...? ”(Kaoru)



Kaoru sedikit menyeringai.



"Sesuatu seperti ini?" (Kaoru)

DO ~ O ~ ON! (SFX)



Atap kereta kuda itu terbang dengan suara ledakan.

Ledakan itu disebabkan oleh sesuatu "seperti nitrogliserin" yang jatuh di atap dari atas.

"Hi ~ iii!" (Dorn)



Dorun terjatuh ke tanah.

Kereta kuda itu juga rusak. Dua kusir yang mencoba melarikan diri juga kehilangan keseimbangan dan jatuh ke tanah.



Pon! Pon! Pon !! (SFX)



Ada serangkaian ledakan kecil di sekitar pria yang jatuh.



“Kepada siapa dewi akan marah?
Kepada siapa, sang dewi akan memberikan hukumannya? ”(Kaoru)

"Hiii ~ iiiii !!" (Dorun)



Dorun berdiri dengan putus asa dan melarikan diri. Dua pengikut itu juga mengejarnya.

Dan gosip pun menyebar seperti api.



"Pendeta Kuil Besar mencoba untuk menculik malaikat dan membuat dewi marah"

"Kuil itu menghina malaikat dan dijatuhi hukuman" dll.





*** Istana Kerajaan ***





“Yang Mulia, ini Gaswaat!
Kuil mencoba untuk menculik malaikat, dan mendapat hukuman sang dewi! ”(Ksatria)

“Apa …!?” (Raja)



Raja muda itu tercengang oleh laporan penting dari para mata-mata yang terus menjaga Kaoru.



(Hukuman Dewi!
Beberapa ratus tahun yang lalu, menghadapi kemarahan Dewi Celestine, satu negara telah hancur total ...
Ini buruk! Benar-benar buruk!) (Raja)

"Saudaraku, apa yang harus kita lakukan?" (Raja)



Raja Serge biasanya bertindak sebagai raja yang bijak, tetapi ketika dia dalam keadaan darurat, dia sering mengandalkan kakak lelakinya Roland.



“Tenang, Serge!
Bagaimanapun, kamu harus mengamankan dan melindungi malaikat!
Ingat, malaikat itu berkata 「Aku tidak akan pergi ke istana kerajaan ini dan aku tidak akan mendengarkan pejabat negara ini atau bangsawan lainnya」
Berarti itu akan baik-baik saja selama tempat itu bukan istana kerajaan 」
Dan, "Aku tidak akan mendengarkan" adalah untuk mengatakan bahwa dia tidak akan mengeluh, itu juga tidak berarti bahwa kita tidak dapat berbicara dengannya! "(Roland)

“Seperti yang diharapkan dari kakak!
Aku akan segera mengirim bangsawan yang rendahan! "(Serge)

"Aha ha ha ..." (Roland)

(Hati-hati dengan caramu mengatakannya, Serge, Kamu adalah Raja ...) (Roland)
Saudara Raja Roland bergumam begitu.

……………………….…



"Jadi itu sebabnya kamu memanggilku?"

"Ya, jika kamu memikirkannya,
Kamu adalah satu-satunya bangsawan yang memiliki hubungan dengan malaikat. Dan kamu juga ingat wajah Malaikat ”(Menteri)

"Eh ..." (Lyotal)


*** Kuil ***



* Sudut pandang Uskup Agung *



Oh Apakah itu Pendeta Dorun?

Ini jarang terjadi.

Dia biasanya tidak antusias untuk bekerja. Dia hanya ingin melayani bangsawan atau pedagang besar.

Untuk berpikir bahwa dia terus berdoa dengan penuh semangat ...

Uskup Agung Sornie yang sedang senggang mampir ke gereja dan melihat seorang pendeta, yang dengan serius berdoa tak seperti biasanya, mengangguk puas.

... Tapi tunggu, ketika aku melihat dari dekat, ada yang aneh di sini.

Daripada berdoa kepada dewi, Dia lebih seperti berdoa untuk keselamatannya. Apakah iblis menyerangnya atau sesuatu?

Dia dipenuhi oleh rasa takut, ... Jelas, ini adalah suasana yang tidak biasa.



"Apa yang kamu lakukan, Dorun?" (Uskup Agung)



Saat memperhatikan uskup agung, Pendeta Dorun berlutut.



“Oh, uskup agung! Aku, aku adalah orang yang berdosa !! ”(Dorun)



Dan Dorun menceritakan segalanya kepada Uskup Agung.

Terkejut, Uskup Agung menjadi pucat juga.



“Kita harus segera menjemputnya! Panggil Uskup Perrier, ini mendesak! ”(Uskup Agung)



Pada waktu itu, Uskup Sarazan berpikir bahwa kembalinya pendeta Dorun agak terlambat. Tapi dia tidak terlalu peduli dan mengira gadis itu akan pergi ke kuil dan sedang menghabiskan waktunya berdandan.


Sebelumnya            Daftar Isi             Selanjutnya

Post a Comment