Novel Si penjahat, Membawa Kehancuran dengan Senjata Modernnya chapter 1





Chapter 1  Identitas Si Penjahat



…………………

──Gadis itu dikenal sebagai karakter penjahat.

Rumah-rumah terbakar. Gedung berkobar. Ibukota menjadi lautan api.

Jalanan yang dulunya dikenal sebagai pusat budaya ibukota kini tercekik oleh asap hitam pekat. Karya musik, opera dan sastra. Semua impian mereka.

Saat ini hanya tinggal menyisakan reruntuhan.


Aku melangkah melintasi bangunan yang hancur di kota itu.


Dengan meriam terlampau besar di tangan kananku – Meriam Tank 120mm, menghancurkan bangunan di hadapanku hingga berkeping-keping saat aku menekan tombolnya. Kumusnahkan apa pun yang menghalangi jalan dengan Meriam tank sambil melangkah menuju istana tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Tentara yang nyaris berhasil selamat dari seranganku mencoba membalas dengan busurnya, namun aku melacak objek yang melesat di udara dan menghindari mereka dengan kelincahan Superhuman.

──Gerakan Adaptasi Tempur Class 3 bekerja dengan baik. Baik kemampuan fisik dan refleksku meningkat drastis. Seolah-olah panah itu terhenti di udara. Aku tanpa kesulitan menghindari mereka, dan masih memiliki waktu untuk serangan balasan.

Jadi aku memberi tentara itu hadiah tembakan peluru. Ya, terima kasih kembali!

"Baiklah, Blau, Gelb, Rot. Di mana sisa tikus itu berada? "

Begitu menanyai mereka, aku bisa melihat visual ketiganya - Tiga peri yang merupakan pengikutku ini mengenakan gaun lucu berkibar dan muncul dalam jarak pandangku.

Sosok itu tergambar melalui saraf otak dan ditampilkan dalam penglihatanku seperti Hologram. Seperti yang mereka lakukan, aku juga melihat pemandangan yang sama seperti mereka bertiga lihat.

"Ada tentara yang diposisikan di depan istana, Master."

"Tidak ada musuh di belakang."

"Area ini bersih!"

Sungguh, para peri itu sangat ahli dalam memeriksa lokasi sambil tetap tidak terdeteksi, mereka adalah pengganti yang sempurna untuk pesawat pengintai. Meskipun kadang-kadang mereka sedikit enggan untuk melakukan pekerjaan namun selama menjanjikannya hadiah permen, kau bisa bebas meminta.

Sambil melangkahi mayat-mayat dan tentara yang terluka parah dan tidak mampu melawan, aku menghancurkan kereta dan barikade tanpa penjaga  yang berdiri di antara diriku dan istana, suasana hatiku begitu baik sampai aku hampir ingin bernyanyi.

Memang ada penjaga berdiri di depan istana. Mereka adalah prajurit yang dipanggil sebagai pertahanan terakhir, veteran perang. Aku mengenali seragam biru-putih itu.


"Ha ha ... Kamu pasti bercanda. Kukira itu hanya mitos di medan perang. Sekarang kau memberitahuku kalau dirimu benar-benar ada? "

Salah satu pria tua di Pengawal Kekaisaran meringis sambil tertawa kering.

"Iblis Merah. Penyihir Dragon Slayer. The Punisher of Plussen. Kenapa monster sepertimu datang kemari? Bukankah ini aneh? Hanya ... Menyerang Istana Kekaisaran sendiri dan menelannya dalam lautan api ... Hanya saja ... Kenapa kau melakukan semua ini ...? "

Kakek tua itu menatapku dengan wajah seolah-olah mengatakan dia benar-benar tidak mengerti sama sekali.

“Salahkan pemikiran sempitmu itu. Aku menyelesaikan semua ini hanya dengan sedikit sihir. Meskipun mungkin memiliki beberapa bakat, satu-satunya alasan aku ada di sini sekarang adalah karena diriku telah melampaui batas, tanpa pernah kehilangan akal sehatku. Apa perlu penjelasan lebih dari itu? "

Menanyakan itu pada Pengawal Kekaisaran itu, aku pun tersenyum.

"Kau monster…"

"Kita tak bisa menang ..."

"Iblis ..."

Para penjaga mengarahkan busur  ke arahku, dengan tangan yang gemetar ketakutan.

“Kalau begitu izinkan aku bertanya padamu, Iblis Merah! Bukankah kau hanya anak-anak? Membunuh orang yang tak terhitung jumlahnya tanpa pandang bulu ... Bahkan wanita dan anak-anak juga... Para prajurit ini hanya ingin kembali ke keluarga mereka, bagaimana dirimu bisa begitu tenang melalui semua ini !? "

Kata-kata pria tua itu membuatku bosan.

"Bukan masalah. Terdapat saraf di otak yang menyebabkan seseorang enggan membunuh. Saraf inil akan memaksa apa yang disebut 'hati nurani', satu-satunya rintangan terbesar untuk membunuh. Tapi, bagaimana apabila aku bisa memaksa mereka untuk berhenti bekerja? "

Ya, sebenarnya itu adalah sesuatu yang cukup aku banggakan.

"Hal seperti itu, tidak mungkin! Kau mengacaukan otakmu menggunakan sihir? Lalu menghapus hati nuranimu sendiri !? ”

“Tepat sekali. Aku takka merasakan lagi apa itu hari nurani, kasih saying, maupun belas kasihan. Diriku saat ini hanyalah mesin yang menghancurkan musuh-musuhnya. Jika lawan adalah tentara musuh, aku bisa menarik pelatuk tanpa keraguan dihati. Diriku juga tidak akan merasa belas kasihan atas kerusakan apapun itu. "

Aku akhirnya memahami itu. Otak manusia sangatlah cocok untuk berperang.

"Kau monster. Psikopat pembunuh tanpa hati nurani. Bahkan tentara pun masih memiliki keraguan untuk membunuh musuh mereka. ”

"Para prajurit itu cacat, Pak tua. Tentara tidak memerlukan hati nurani. Seorang prajurit yang maju dengan suara peluit atau drum, dan takkan berhenti bertarung sampai lawannya mati, itulah seorang prajurit sejati. Bukankah itu benar? "

Sepertinya orang tua itu melihat perang dengan cara yang romantis. Hobi semacam itu tidak cocok untukku. Aku tipe yang menuntut efisiensi penuh. Pergerakan dan formalitas medan perang masa lalu membuatku jijik. Sangat disayangkan jika ada tentara profesional yang ragu untuk membunuh musuhnya.


"Apa dirimu tidak memiliki rasa patriotisme?"

"Hmm. Tidak. Aku hanya tertarik untuk membasmi musuh. Namun tentu saja aku akan senang jika orang di Negara menghargai upayaku. "

Patriotisme, ya? Aku bertanya-tanya apakah sebuah negara yang akan mengasingkan seluruh keluarga Duke hanya karna aku sedikit menggertak pahlawan wanita itu punya hak mengoceh tentang patriotisme.

“Sekarang, saatnya mengakhiri kisah ini. Aku akan sangat sibuk merubah istana yang indah dan mewah ini kembali menjadi tanah kosong. Mengobrol itu lumayan menyenangkan, tapi aku tidak bisa membiarkan itu mengganggu pekerjaanku. "

Aku mengatakan ini dengan santai, lalu mengarahkan laras Meriam tank ke arah Pengawal Kekaisaran.

HE Round. Sempurna untuk sebuah pembukaan.

"Dasar iblis! kau tidak akan lolos dari neraka untuk semua ini! "

"Iblis ... Menurutmu sebenarnya apa itu Iblis dan manusia? Kau tahu, diriku memiliki nama indah yang diberikan oleh orang tuaku. ”

Penjaga itu berteriak tidak jelas saat aku menembak.

HE Round mencapai sasarannya dan barikade hancur oleh ledakan, menghempaskan penjaga di dekatnya. Orang tua yang berbicara denganku tadi juga ikut terlempar, bergabung dengan sisa-sisa mayat hancur yang berserakan di kota.

Mekanisme Reload dengan otomatis mengeluarkan dan memuat peluru berikutnya, dan pistol itu meraung saat aku menembaki para penjaga yang berhasil selamat dari tembakan pembuka.

"Blau. Berapa musuh yang tersisa? "

"Tidak ada, Master."

Begitu aku mengarahkan laras senapan merah panas itu ke langit, si peri melanjutkan.

"Tapi tidak apa-apa kah, Master? Sampai sejauh ini ... "

"Itu perlu, Brau. Musuh sudah meremehkan kita. Aku harus memberitahu mereka apa sebenarnya rasa takut itu. Aku juga ingin mendapatkan data mengenai perang sungguhan. ”

Yah, alasan sebenarnya adalah demi data. Tee hee

Aku membalikkan moncong meriam tank ke arah istana.

"Ah. Aku lupa menyebutkannya. Namaku Astrid-Sophie von Oldenburg. Seorang inovator sihir yang tiada taranya, dan manusia dengan tumpukan amunisi. Kebetulan juga aku menjadi karakter penjahatnya. Senang bertemu dengan kalian semua. Dan, selamat tinggal. "

Aku memperkenalkan diri, lalu dengan tawa yang luar biasa membuat istana yang indah itu menjadi puing-puing.


Aku yakin kalau meledakan tempat itu menjadi kepingan kayu adalah hal paling keren yang pernah ku lakukan. Menyaksikan saat-saat terakhir dari sesuatu yang begitu indah adalah yang terbaik. Aku sangat menikmati diri saat melihat sebuah kehancuran. Kesempatan seperti itu tidak terjadi setiap hari.

Sekarang, kenapa kita tidak mundur sedikit dan melihat bagaimana semua ini akan berakhir?

…………………

…………………

Pada waktu itu, diriku Astrid-Sophie von Oldenburg, baru berusia empat tahun.

Astrid-Sophie von Oldenburg… Meskipun memiliki nama yang begitu panjang, diriku memiliki titik pesona yang jelas pada rambut merah nyala api ini. Aku suka memamerkan rambut ini kepada semua orang yang melirik, dan membiarkannya tumbuh sampai ke pinggangku.




Suatu hari, saat mendengar bahwa sepupuku Iris datang bermain, aku berlari menuruni tangga dengan tergesa-gesa lalu tersandung dan wajahku menghantam lantai pada langkah kelima, dan aku mengingat semua itu.

... Ingatan dari kehidupanku kembali!

Tidak, aku tidak perlu dibawa ke rumah lucu, sekarang tolong dengarkan kisahku.

Dalam kehidupan sebelumnya, aku adalah mahasiswa baru di perguruan tinggi yang belajar di fakultas seni liberal.

Aku adalah seorang gadis otaku militer yang menikmati kehidupan menyenangkan dan bahagia, juga sedikit culun. Aku bisa memberi tahu kalian semua detail kapal angkatan laut favoritku, MBT dan Jet Tempur ... Tunggu, jangan keluar dari topik ceritanya.

Aku berhasil masuk ke sekolah pilihan dan berusaha menggapai impian. Aku menghabiskan seluruh tahun pertama menjomblo dan asyik dengan hobiku, namun tanpa disadari, aku tiba-tiba berada dalam tubuh seorang gadis berusia empat tahun. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Sungguh, apa-apaan semua ini?

Tapi, satu hal yang jelas ku mengerti bahwa namaku adalah Astrid-Sophie von Oldenburg. Nama itu sangat cocok dengan judul game otome yang setengah dipaksa main oleh seorang temanku, 'Harapan Menggapai Bintang'.
(TN : Judul Engnya “Wish Upon a Shooting Star”)
Tak butuh waktu lama bagiku untuk mengingat sisanya.

Nama negara ini adalah Kekaisaran Prusia yang diperintah oleh Yang Mulia Kaisar Wilhelm III. Sekolah dimana aku akan daftarkan disebut Akademi Magister Saint Satanachia. Dan, nama Putra Mahkotanya adalah Frederick.

Itulah story dari game 'Harapan Menggapai Bintang'.

Setelah meminjamnya, aku menyelesaikan setiap rute dalam game dan memahami semuanya.

Pertama-tama, diriku bukanlah protagonis.

Aku adalah karakter penjahat sampingan, yang perannya adalah menyalahgunakan posisiku untuk melecehkan Heroine.
(TN : Ow Yeah, Ugly Bastard)
Dan setelah Heroine dan si Protagonis mencapai  Happy Ending, aku akan menjadi katalis dengan hancurnya rumahku dan kemudian diasingkan.


Jika diriku adalah orang biasa, maka hidupku akan sekakmat! Tapi tentu saja bukan itu masalahnya. Mottoku adalah selalu untuk hidup dengan caraku sendiri.

Jika ingatanku benar, aku seharusnya memiliki kekuatan sihir untuk menyaingi sang Heroine. Ya, ada sihir di dunia ini. Dan mereka yang mampu mengendalikan sihir akan menjalani kehidupan yang indah. Itu adalah dunia pedang dan sihir.

Dan jika memang seperti itu ...

Aku akan melatih dan mengembangkan kekuatan sihirku untuk mematahkan Bad End yang ditakdirkan itu!

Pengetahuan akan kehidupanku yang sebelumnya tentu sangat berguna.

Lagipula aku adalah seorang gadis otaku militer. Aku memiliki pengetahuan tentang mekanisme tembak peluru penembus armor dari senjata tank,  teknik penerbangan  jet tempur dan bahkan rudal yang ditandai laser.

Dari apa yang kujelaskan, senjata atau sihir yang cukup kuat untuk menirukan mereka belum dikembangkan di dunia ini. Jelas, karena itu adalah dunia pedang dan sihir.

Begitulah jadinya.

Aku akan melatih bakat sikhirku secepat mungkin, dan dengan keajaiban dunia terbelakang ini ... Aku akan mengembangkan teknologi senjata modern, dan menghancurkan Bad Ending yang menungguku!

Ya! Ini adalah rencana terbaik yang pernah ada!

"Semua orang yang setuju, tolong angkat tangan kalian."

"Aku setuju!"

"Setuju!"

"Setuju!"

Di ruang rapat dalam otak Astrid, musyawarah mencapai mufakat dengan suara bulat.

Dengan demikian, tujuan hidupku telah diputuskan saat usia empat tahun.

Pertama, jangan mengabaikan latihan pengembangan bakat sihir.

Kedua, memadukan sihir di dunia ini dan pengetahuanku mengenai persenjataan modern.

Ketiga, sebisa mungkin menghindari rute Bad Ending.

Dan terakhir, hasilkan uang sebanyak mungkin kalau ada kemungkinan aku tidak bisa menghindari hancurya rumahku.


Selama aku berpegang teguh pada itu, apa pun yang terjadi aku akan baik-baik saja!

Pada hari dimana pertama kalinya aku memikirkan itu, diriku jatuh mengalami demam yang parah dan terbaring di tempat tidur selama seminggu penuh. Sepertinya otak kecilku tidak mampu menerima gelombang ingatan yang tiba-tiba, orang tuaku panik dan memanggil seorang tabib.

Namun begitu bangun, tubuhku kembali segar seperti biasanya!

Aku tidak akan mencapai Bad Ending itu! Jika takdir itu mencoba menghampiri, aku akan meledakkannya dengan tembakan yang luar biasa! Diriku berbeda dengan Astrid yang menyedihkan dari kisah itu!

Tidak, aku tidak bisa tidur lagi, Gadermann! Mulai hari ini dan seterusnya aku harus mempelajari sihir dengan intens!

Eh? Aku bisa belajar sihir di sekolah?

Jika menunggu saat itu, sudah terlambat, ayah!

…………………



                 Daftar Isi       Selanjutnya

Post a Comment