Novel Watashi, Nouryoku wa Heikinchi de tte Itta yo ne! Bahasa Indonesia chapter 2






Chapter 2   Akademi Eckland


Keesokan sorenya kereta tiba di ibukota Kerajaan Brandel, Adele mengambil barang bawaannya kemudian menuju akademi. Ia hanya membawa sebuah tas ringan saja.

Akademi Ardleigh, sekolah yang akan dihadiri Prissy berada di dekat istana Raja yang terletak di pusat ibukota. Sedangkan Akademi Eckland, sekolah Adele terletak di pinggiran dekat gerbang utara ibukota. Gerbang utama terdapat di sebelah selatan, perbedaan kedua lokasi sekolah terlihat sangat jelas.
Kereta berhenti di alun-alun kota, setelah berjalan jauh akhirnya Adele sampai di akademi Eckland. Menunjukkan izin masuk di gerbang lalu mengikuti arahan penjaga menuju asrama perempuan.
Apa mereka memang baik? Atau hanya disiplin saja? Nasib Adele selama 3 tahun ke depan akan ditentukan oleh sosok ini. Dengan muram, ia mengetuk pintu ruang pengawas.
Seorang wanita tua berkacamata menjawab, tatapannya tajam layaknya seorang pengawas.
Dia hanya menatap Adele, lalu menyerahkan kunci kamarnya.
"Apa cuma itu barang bawaanmu?" (Pengawas)
"Y-ya ..." (Adele)
"Apa isinya?" (Pengawas)
"Pakaian dalam, perlengkapan mandi, dan peralatan menulis." (Adele)
"Itu saja?" (Pengawas)
"Yah." (Adele)
"Aku mengerti…" (Pengawas)
Setelah jeda cukup lama, dia lanjut berbicara.
"Datang dan bilang saja Jika kau mau kerja di akhir pekan." (Pengawas)
Yah, Adele pikir mungkin dia bukanlah orang jahat. Adele lalu naik tangga ke lantai dua dan mencari kamarnya.
Setelah membuka pintu dia masuk ke kamar, istana kecilnya selama tiga tahun ke depan. Ruangan seluas delapan kaki persegi yang setengahnya diisi tempat tidur dan sisanya dipenuhi oleh meja, kursi, dan lemari.
Menurut Adele ini adalah asrama sekolah yang layak. Dia tidak bisa komplain karena sudah cukup beruntung mendapat kamarnya sendiri. Paling tidak jauh lebih menyenangkan daripada tinggal di rumah.
Bongkar barangnya cuma waktu empat puluh detik. Dia cuma perlu meletakkan perlengkapan mandi di atas lemari, pakaian dalam di lemari, alat tulis di atas meja, dan selesai.
Jika harus melarikan diri saat keadaan darurat dan hanya punya empat puluh detik untuk bersiap-siap, mungkin dia bisa kabur dengan mudah.
Upacara masuknya empat hari lagi, besok lusa mengikuti tes bersama bangsawan lainnya, dan esoknya lagi dia akan menerima seragam berikut perlengkapan lainnya sebelum ikut upacara penerimaan. Jadi besok akan jadi hari terakhir kebebasannya.
Adele berbaring telentang di tempat tidur dan berpikir sekali lagi.
Darimana asal sihir air itu?
Dari mana datangnya air sebanyak itu?
Adele merenungkannya sambil beristirahat.
Jika memikirkan apa yang diketahuinya tentang bagaimana dunia ini bekerja, jika memikirkan penjelasan sihir dari Dewa — kesimpulan apa yang bisa ia dapatkan?
Kesimpulan pertama: Kemampuan sihirnya sudah berkembang, jadi kekuatan yang dihasilkannya lebih besar ...
Tapi bukankah kemampuan sihir Adele harusnya "rata-rata"?
Kesimpulan kedua: Kekuatan visualisasinya sangat kuat dan mengakibatkan konversi ke sihir jadi sangat efisien.
Mungkin saja, Adele menyetujui itu — pengetahuannya tentang dunia modern bisa saja memiliki semacam dampak pada berbagai aspek. Meski nampaknya terlalu berlebihan jika menganggap visualisasinya bisa menciptakan kekuatan yang dia inginkan.
Yang membawanya ke ...
Kesimpulan ketiga: Kekuatan lain.
Apa yang berbeda saat itu? Sesuatu selain pembacaan mantra ...
Oh…
“Jangan kecewakanku, Nanomachine-san!”
Itulah yang terpikirkan oleh Adele.
Mungkinkah air itu adalah jawaban darinya? Mustahil, pikirnya.
Nanomachine diciptakan oleh makhluk seperti dewa. Mereka tak sebanding dengan mesin yang ada di dunia lama Misato. Tidak mengejutkan kalau masing-masing dari mereka memiliki kecerdasan buatan. Mesin dengan fungsi yang sederhana takkan pernah bisa menerima dan mengimplementasikan pikiran dengan cara seperti itu.
Bagaimana jika makhluk-makhluk itu menerima mantra yang tidak biasa, menilainya sebagai permintaan lalu mewujudkannya? Apa yang akan terjadi jika seseorang memanggil nama mereka?

Itu mungkin saja.
Namun tidak ada waktu bagi Adele untuk menguji teori ini.
Berlatih di kamarnya itu mustahil karna bisa saja menghancurkan sesuatu. Ruang latihan, yah — dia tidak bisa meminjam ruangan sebelum sepenuhnya terdaftar. Bahkan jika bisa, mereka pasti akan bertanya.
"Kalau saja aku bisa bertanya pada Nanomachine ..." (Adele)
(Jika kamu punya pertanyaan, kami akan jawabannya.) (???)
Suara itu terdengar di telinga Adele, ia terkejut dan kepalanya kepentok dinding.
"Gaaaahh !!" (Adele)
Dia mengerang dan meringkuk memegangi kepalanya.
(Jika kamu punya pertanyaan, kami akan jawabannya.) (???)
Suara misterius itu muncul lagi!
Tak ada seorang pun di ruangan selain Adele. Siapa lagi yang bisa mengatakan itu?
Adele memanggil lagi sambil tetap waspada.
"Halo? Nanomachine-san? "
(Benar. itulah nama yang diberikan oleh pencipta kami.) (Nanomachine)
Adele tahu kalau di bumi penelitian nanomachine sudah dilakukan. Komputer telah berevolusi dalam beberapa dekade, dari seukuran bangunan menjadi mesin yang muat di telapak tangan saja.
Dengan pemikiran itu, tidak mungkin membayangkan ada Nanomachine yang muncul sebelum manusia dan bukan dibuat oleh ilmuwan atau peneliti melainkan makhluk seperti dewa.
Adele memahami bahwa mereka hanya menerima permintaan manusia dan menjawabnya, itu mudah dimengerti. Yang tidak dapat dia prediksikan itu apakah nanomachine hanya merespon kata-kata sesuai pemrograman saja, atau mereka memiliki kemauan dan kepribadiannya sendiri.
Ini adalah kesempatan sempurna untuk mempelajari jawaban atas pertanyaan tersebut.
"Aku ingin tahu keapa sihirku tiba-tiba jadi sangat hebat?"
(Mohon tunggu sebentar...)  (Nanomachine)
Setelah beberapa detik loading, Nanomachine-san menjawab.
(Data kami menunjukkan bahwa perintah yang diberikan selama latihan sihir terakhir kali meningkatkan efisiensi prosedur melebihi batas normal.) (Nanomachine)
Dugaannya benar. Melegakan. Tapi Adele masih punya pertanyaan.
"Berapa banyak peningkatannya?"
(Hampir 3,27 kali lipat.) (Nanomachine)
"Hmmm…" (Adele)
Jelas terlalu kecil untuk menjelaskan fenomena sebelumnya.
"Kenapa kekuatanku lebih kuat dari rata-rata anak berusia sepuluh tahun?" (Adele)
(Sederhananya. kekuatan pikiranmu itu kuat, imajinasimu jelas dan terfokus. lebih jelas lagi, kekuatan pikiranmu mampu menciptakan sihir yang bahkan mencapai setengahnya makhluk terkuat di dunia ini, yaitu naga.) (Nanomachine)
Adele tidak bisa mempercayai apa yang didengarnya.
"Um, maaf. Kau bilang setengah dari ... apa? " (Adele)
Nanomachine-san lalu menjelaskan dengan perlahan.
(Kapasitas.kekuatan. dari. pikiran. mu. kurang lebih. setengah. dari. seekor. naga.tua.) (Nanomachine)
"Bagaimana dengan manusianya?" (Adele)
(Sekitar enam ribu delapan ratus kali lebih kuat dari rata-rata manusia yang jago sihir.) (Nanomachine)
"E-enam ribu ..."  (Adele)
(Enam ribu delapan ratus kali.)  (Nanomachine)
Wah!
Adele membenturkan kepalanya ke dinding.
Pwoomp.
Ia jatuh ke tempat tidur.
"Ke-kenapa ...?" (Adele)

***

Setelah menenangkan diri, Adele mengajukan banyak pertanyaan ke Nanomachine-san.
Berpikir akan punya banyak waktu untuk belajar nantinya, dia lupa menanyakan Dewa soal detail dari sihir. Sekarang resikonya jadi lebih tinggi. Jika terjadi kesalahan mungkin akan terjadi bencana, jadi sangat penting untuk memahami situasinya secepat mungkin.
Nanomachine itu menjelaskan semuanya.
(Apa yang dianggap sebagai kekuatan sihir manusia adalah kombinasi kekuatan, ketahanan, dan kekuatan pikiran yang dihasilkan seseorang. menggabungkannya ke dalam suara yang tersusun dari volume, stamina, dan kejelasan vokal. perwujudan imajinasi bukan hanya berdasarkan kekuatan sihir, tapi juga tergantung pada tingkat skillnya. kemampuan yang dipelajari melalui latihan, bukan bakat bawaan lahir.)  (Nanomachine)

"Jadi kamu bilang kalau aku ahli dalam semua itu? Alasan aku bisa memujudkan sihir dengan jelas itu berkat pengetahuanku sebelumnya, tapi sisanya ... Oh, tidak. " (Adele)
Tiba-tiba semua menjadi jelas baginya.
Tapi Nanomachine-san mengucapkan kata-kata itu.
(Kapasitas kekuatan pikiranmu berkisar setengah dari seekor naga tua yang merupakan makhluk terkuat di dunia ini.)  (Nanomachine)
Jika dihitung antara mereka yang terlemah dan terkuat di dunia ini , dia tepat berada di tengahnya.
Bang! Bang! Bang!
Adele membenturkan kepalanya lagi ke dinding.
"Ini salah! Semua ini salah! Bukan gitu caranya menghitung rata-rata! Yang kuinginkan hanyalah menjalani hidup sebagai GADIS NORMAL !!! ”  (Adele)
Sekali lagi dia bahkan belum mendekati median.
Tentu saja akan merepotkan membandingkan kekuatan semua makhluk yang ada, tapi bukankah seharusnya jumlah sebesar itu sepele bagi dewa?
Atau Dewa melakukan ini dengan sengaja? Tindakan karena khawatir akan keselamatan Misato di dunia ini?
Setelah meluangkan waktu untuk menenangkan diri, Adele melanjutkan interogasinya.
"Adakah yang pernah menanyakan pertanyaan ini sebelumnya?" (Adele)
(Belum pernah ada manusia yang melihat dan berkomunikasi dengan kami secara langsung. lagipula kami tidak diizinkan untuk berkomunikasi pada siapapun yang memiliki otorisasi kurang dari level tiga.)  (Nanomachine)
"Otorisasi?"   (Adele)
(Hanya mereka yang punya otorisasi level tiga memiliki wewenang untuk menggunakan kekuatan kami. segala ciptaan, termasuk manusia memulai dari otorisasi level satu. naga yang lebih kuat dimulai dari level dua dan tiga. di masa lalu pernah ada manusia yang mencapai level tiga, tetapi itu adalah kejadian langka yang luar biasa.)  (Nanomachine)
(Manusia itu sudah sangat tua, ia mencapai level tiga tak lama sebelum kematiannya. bisa dibilang selama sumber sihir itu berasal dari kami, mereka yang mengetahui informasi ini takkan pernah membocorkannya kepada siapa pun.)  (Nanomachine)
(Kami mewujudkan diri kepada manusia dengan mempengaruhi retina dan menyesuaikan suara sehingga menciptakan resonansi di membran tipranik mereka ...)  (Nanomachne)
"Hah? Jadi maksudnya ... " (Adele)
(Orang lain menganggap kami hanya sekedar ilusi saja, jadi saat ini kamu seperti orang gila yang bicara sendiri.)  (Nanomachine)
"Eeh!"  (Adele)
(Jangan khawatir, saat ini tidak ada siapa-siapa di kamar sebelah.)  (Nanomachine)
Sementara Adele menatap dinding ke kiri dan kanan dengan panic, Nanomachine-san melanjutkan.
(Kalau kamu mau, kami bisa menciptakan getaran di udara yang memungkinkan mereka mendengar kami dan menyesuaikan gelombang cahaya untuk mewujudkan diri…) (Nanomachine)
"Tidak tidak! Tetaplah seperti itu. ” (Adele)
Lagipula dia hanyalah gadis biasa dan tak butuh teman Roh sihir.
(Lebih baik aku menanyakan semuanya sekarang dan tak usah bicara lagi pada mereka kecuali ada keperluan mendesak.)  (Pikir Adele)
 "Jadi kita bisa berkomunikasi itu karna aku sudah level tiga?"  (Adele)
(Pencipta kami memiliki tingkat otorisas tertinggi yaitu level 10, sedangkan kamu berada di level 5.)  (Nanomachine)
Yah. level rata-rata antara 0 dan 10.
"Bisa jelaskan padaku apa saja yang tidak boleh kulakukan?"  (Adele)
(Ada batasan bagi jenis sihir tertentu  untuk mencegah produksi masal bakteri atau virus, Fisi Nuklir, Fusi Nuklir, radiasi, dan segala tindakan yang melibatkan kami.)  (Nanomachine)
"Seperti yang kuduga." (Adele)
Adele menemukan sesuatu yang menarik saat mengajukan pertanyaan, yaitu ‘Item Box’.
Dia bertanya apakah ada sihir yang bisa mengakses dimensi lain di mana waktu dan perubahan wujud terhenti, lalu nanomachine menjawab bahwa di antara dimensi yang tak terbatas, ada dunia yang mana ruang-waktunya telah hancur. Tak ada lagi konsep waktu disana. Jika seseorang membuka celah dimensi ke sana dan menyimpan item di dalamnya, maka itu akan jadi sejenis Item Box. Selain itu Item Box terhubung dengan dimensi yang sudah ada sebelumnya sehingga tidak perlu energi tambahan untuk mempertahankan ruang penyimpanan. Nanomachine juga menyimpan dan mengambil barang dengan cara ini.
Rupanya ada beberapa penyihir mampu menggunakan apa yang disebut sihir "penyimpanan", yang sangat berguna, namun punya kelemahan dimana ruang-waktu terus berjalan di dalamnya. Jika Adele berpura-pura memiliki sihir itu, maka dia bisa menggunakan Item Box di depan orang lain dan mereka akan menganggap kalau ia hanya menggunakan sihir "penyimpanan" biasa.

Setelah menanyakan berbagai pertanyaan untuk menurunkan output sihirnya hingga setara manusia biasa, Adele akhirnya puas.
"Terima kasih atas informasinya, kupikir aku akan bisa menjalani hidup sebagai gadis biasa."  (Adele)
“Kau bilang ... gadis biasa?”  (Nanomachine)
Terdengar seperti pertanyaan yang disengaja. Adele menggembungkan pipinya.
"Aku akan jadi gadis biasa, menjalani kehidupan normal, dan mendapatkan kebahagiaan yang biasa!" (Adele)
(Kami harap semua bejalan sesuai keinginanmu.)  (Nanomachine)

***

Setelah menyelesaikan percakapannya dengan Nanomachine-san, Adele tiba-tiba merasa takut. Dia belum pernah sekuat ini sebelumnya, setelah semua yang terjadi ia mulai bertanya-tanya ...
Koin sangat berguna disini, tetapi saat ini dia tidak punya sama sekali.
Ketika mencari sesuatu yang lain untuk digunakan, tatapannya tertuju ke gagang logam pintu lemari. Karena tak ada pilihan, dia mencengkeram dan meremasnya sedikit —
Gagangnya retak.
Jadi kekuatan fisiknya juga setengah dari naga tua?
Sungguh Terrr…lalu!

***

Adele yang pikirannya tenggelam berakhir melewatkan makan malam.
Melewatkan makan itu sudah biasa, tidak perlu dikhawatirkan. Yang lebih membuatnya khawatir adalah apa yang harus dia lakukan ke depannya.
Dia tidak punya uang karna orang tuanya tidak memberikan satu koin pun.
Uang sekolah termasuk biaya makannya sudah dibayar. Setidaknya waktu makan tiga kali sehari takkan jadi masalah walau hanya bisa di kantin sekolah. Di sisi lain dia tidak bisa membeli cemilan atau barang apapun sama sekali. Tidak ada pakaian, tidak ada pakaian dalam, tidak ada sabun ... Tidak ada buku harian, tidak ada pen, tidak ada tinta ...
Apa yang harus dia lakukan?
Apa yang sebenarnya dipikirkan si ayah dan ibu tiri?
Saat dia dilema sambil berbaring, Adele memutuskan untuk pergi esok harinya dan mendatangi ruang pengawas. Tidak ada pilihan lain.
Adele pun meringkuk di balik selimutnya.
Kali ini dia harus hidup sebagai orang biasa, tak lagi dipandang sebagai sosok yang istimewa dan dibebani oleh banyaknya harapan.
Dia akan berstatus yang sama dengan orang lain, ngerumpi dengan normal, lalu — mungkin, dia bisa mendapatkan seorang teman ...

***

"Tolong berikan aku pekerjaan!" (Adele)
"Apa yang kamu lakukan jam segini?" Kata si pengawas yang kemudian menghela nafas.
"Kurasa aku memang memberitahumu untuk datang menemuiku jika tertarik pada pekerjaan ..." (Pengawas)
“Saat ini aku tidak punya uang dan hanya punya dua pakaian dalam cadangan! Ujiannya besok, jika aku tidak kerja hari ini, takkan ada kesempatan lagi sampai minggu depan. Aku akan kesulitan! " (Adele)
Dia menggosok pelipisnya dengan alis yang berkerut.
"Apa kamu pernah kerja sebelumnya?"  (Pengawas)
"Belum."  (Adele)
Dia belum pernah bekerja bahkan di kehidupan sebelumnya.
"Ikuti aku." (Pengawas)
Adele mengikutinya menuju sebuah toko roti sederhana.
"Aaron-san, aku membawakanmu pegawai baru. Bagaimana menurutmu?"
Dia menjelaskan situasinya kepada pemilik toko roti tentang Adele yang merupakan siswa kere dan tidak punya pengalaman kerja sebelumnya lalu ingin kerja saat hari libur sekolah.
"Hmm. Yah, jika kamu memilihnya, kurasa tak masalah.” Kata Pemilik toko roti yang lalu berbalik ke Adele.
 “Di sini kami melakukan pekerjaan membawakan pesanan ke semua meja tamu dan tidak bisa mengambil cuti sehari pun. Setelah kupikirkan, ada baiknya jika aku libur sehari dalam seminggu setelah memanggang cukup roti.” (Pemilik)
“Setelah itu kami mencari seseorang untuk menjual rotinya seminggu sekali dari pagi hingga sore. Bagaimana? Kau mau coba kerja disini? Kamu bisa berhenti kapan pun jika merasa tidak cocok. "  (Pemilik)
Sepertinya itu pekerjaan yang cocok untuk Adele.
Gadis sepuluh tahun saja bisa menghafal harga roti, apa yang dipanggang di sana tidak  jauh berbeda dari yang dijual di Jepang ... Bagaimanapun dia adalah Adele. Bahkan jika ada segunung roti, dia pasti bisa menghafal harganya secepat kilat.

Lagi pula kerjanya cuma seminggu sekali —sesulit itukah?
"Aku mau, tolong pekerjakan aku!"
Sepertinya Adele bisa menjalani hidupnya sebagai siswa biasa.
Di dunia ini satu minggu terdiri dari enam hari dengan enam minggu dalam sebulan, tiga puluh enam hari sebulan dan sepuluh bulan per tahunnya. Jadi setahun itu 360 hari, pembagian Minggu dan bulannya mudah dimengerti.
Di akhir tahun ada dua "Hari Ungkapan Terima Kasih Kami Atas Tahun Ini," satu " Hari Pergantian Tahun," dan "Hari Perayaan Menyambut Tahun Baru. ”Yang terakhir berlangsung dua hari. Jadi ditambah lima hari dengan total 365 hari setahun.
Satu hari tiap minggunya adalah hari waktu libur bagi semua orang termasuk siswa akademi, jadi saat itu Adele akan bekerja di toko roti.
 Artinya Adele tidak punya hari libur. Mau bagaimana lagi, lagipula pikirnya sekolah yang diperuntukkan bagi anak-anak berusia sepuluh hingga tiga belas tahun mungkin tidak akan terlalu menyulitkannya. Jadi ia tidak membayangkan akan ada masalah soal pekerjaan rumahnya. Meskipun para siswa pasti akan belajar hidup mandiri di asrama, itu tidak berlaku untuk Adele.
Hari ini bukan hari libur, tetapi tukang roti meminta Adele bekerja pada hari itu untuk latihan. Si pegawas meninggalkan Adele di sana dan kembali ke asrama.

***

Pelatihan Adele berjalan lancar.
Di kehidupan sebelumnya Misato punya beberapa kenalan, meski hanya sebatas kenal saja. Bukan karna dia canggung atau tidak nyaman bersama orang lain, tapi karna mereka yang kesulitan mendekatinya.
Berbekal ingatan dari keramahan orang Jepang, akan mudah bagi Adele untuk memainkan peran sebagai penjaga toko muda, dan para pelanggan pun sangat menyukainya.
Malam itu, Adele kembali ke asrama dengan dua koin perak tergenggam erat di tangannya.
Buah dari kerja kerasku! Penghasilanku sendiri! Uang yang bisa kugunakan sesuka hati! Adele berjalan sambil membayangkannya.
Namun, rasa gelisah dengan cepat menyusul kegembiraan itu.
Apa yang terjadi jika aku menghilangkan koinnya? Bagaimana jika ada pencuri?
Ada beberapa begal yang mungkin tega menargetkan anak berusia sepuluh tahun, Adele tidak bisa tenang. Lagipula ada sebagian otaknya yang masih berusia delapan belas tahun dan sepenuhnya sadar akan bahaya dunia ini.
Tiba-tiba, dia ingat — Item Box!
Jika ia menyimpannya di sana, Koin-koin itu takkan pernah hilang atau dicuri.
Saat memikirkan ini, Adele mengucapkan mantra pelan dalam pikiran. Seketika, koin di tangannya menghilang.
Selanjutnya dia mencoba mengambil koinnya lagi. Dalam hitungan detik logam itu kembali ke telapak tangannya. Lalu dia menyimpan semua koinnya lagi.
Untuk sesaat, hati Adele penuh rasa bangga atas kesuksesannya, tetapi tiba-tiba terjadi sesuatu yang membuat wajahnya memucat.
Jika salah mantra, dia bisa kehilangan semua uang hasil jerih payahnya. Kenapa ia tidak mengujinya pada kerikil dulu sebelum melakukannya dengan koin? Dia memang bodoh.
Yah, dia merenung sambil berjalan, setidaknya koin itu ga lenyap. Semuanya baik-baik saja, manun dia harus lebih berhati-hati untuk ke depannya.
Untuk membandingkan mata uang Jepang modern dengan dunia Adele, satu koin tembaga bernilai sekitar 10 yen. perak kecil bernilai 100 yen, perak besar bernilai 1.000yen, emas kecil senilai 10.000 yen, dan emas besar senilai 100.000 yen.
Buah-buahan dan sayuran itu murah, daging dan barang mewah lainnya cukup mahal, dan peralatan dan perhiasan harganya selangit menurut standar Jepang yang berarti taka dag gunanya jika dihitung dengan konversi moneter sederhana. Namun, dinilai dari standar hidup rata-rata penduduk dan tingkat kebutuhannya, upah Adele ini cukup masuk akal.
Biasanya keluarga pengrajin rata-rata berpenghasilan sekitar 3 keping emas per bulan. Dikurangi libur sehari, seseorang bekerja 30 hari sebulan, dengan konversi gajinya sekitar 10.000 yen per hari.
Sebaliknya gaji Adele adalah dua perak sehari atau sekitar 2.000 yen, yang berarti sekitar 250 yen per jam. Meskipun tak banyak, itu adalah upah yang sangat memadai untuk anak-anak. Gaji bulanannya 12 keping perak atau sekitar 12.000 yen itu akan lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kemungkinan dia tidak bisa membeli pakaian tambahan, namun dikarenakan seragam akademinya gratis, Adele bisa bertahan dengan itu.
Untuk mempertahankan penampilan, akademi juga menyediakan layanan perbaikan dan penukaran pakaian yang terlalu besar secara gratis. Semua itu sudah dipertimbangkan, jadi meski dibilang gratis, sebenarnya semua itu dibiayai dari iuran murid.
Dia harus membeli pakaian dalam sendiri, tetapi saat ini Adele tidak perlu mengenakan apa pun di bagian atas tubuhnya. Meskipun sisi delapan belas tahun dalam dirinya menganggap ini sebuah bencana, untuk saat ini dia bersyukur karan tak perlu mengkhawatirkan soal itu.
Bagaimanapun masalah uang telah terselesaikan.
Sejak itu, saat hari kerja Adele dan tukang roti selalu datang sebelum fajar untuk membuat roti. Papa penduduk mampir membeli roti yang baru dipanggang untuk sarapan, dan mereka yang bekerja saat hari libur akan mampir siangnya untuk membeli bekal seperti biasa. Ketika sore si tukang roti meninggalkan toko di tangan para pegawai dan mengambil kesempatan ini untuk istirahat demi kesehatannya atau menghabiskan waktu bersama istri dan anak-anak.

***

Hari berikutnya adalah ujian, semua anak bangsawan berkumpul untuk melakukan tes pemilihan kelas.
Tentu saja, anak bangsawan seperti Prissy masuk ke Akademi Ardleigh yang jauh lebih unggul. Yang ada di Eckland hanya anak dari bangsawan yang jauh lebih rendah — mereka yang hanya punya sedikit untuk mewarisi keluarga, mereka yang terbukti ga guna dan dijadikan pion dalam perjodohan politik — mereka yang biasa-biasa saja dan hampir tidak lebih baik daripada anak pedagang.
Ada juga anak pedagang termasuk anak perempuan dari keluarga tanpa anak lelaki, yang dikirim untuk menjalin hubungan dan menikah dengan keluarga pedagang yang lebih khaya.
Semua ini sangat penting untuk dipahami oleh anak berusia sepuluh tahun, terutama seorang bangsawan berusia sepuluh tahun yang dibesarkan dengan istimewa dan sejak lahir sudah berbeda dari orang biasa. Namun semua itu membuat Adele menghela napas lega. Dia tidak menonjol dari siswa lain yang ikut ujian. Meskipun memiliki kualitas yang jauh lebih rendah dari yang diberikan pada Prissy, pakaian Adele sebenarnya adalah milik putri bangsawan dan walau agak kusut akibat perjalanan kereta, penampilannya dengan pakaian itu masih terlihat lumayan mewah seperti anak bungsu bangsawan rendah. Fakta bahwa pakaiannya kemarin basah dan berkerut saat dikeringkan itu bisa membantu soal penampilan.

***

Ujian itu dimulai dengan tes tertulis yang mencakup sejarah dasar, nama-nama Raja, tokoh-tokoh berpengaruh, informasi tentang negara-negara tetangga, etika, logika, dan berbagai bidang lainnya.
Sejak dikucilkan oleh keluarganya, Adele tidak punya banyak kegiatan selain belajar. Hasilnya Adele sudah jenius bahkan sebelum ingatannya kembali, dan sekarang, dipersenjatai dengan perspektif barunya, ia melibas soal ujian dengan mudah.
Begitu juga dalam MTK. Dibandingkan apa yang dia ketahui dari kehidupan sebelumnya, perhitungan ini seperti soal untuk anak-anak dan Adele tentu bisa mengerjakannya. Jika tidak mendapatkan peringkat tertinggi di kelas, dia tidak akan puas. Selain itu, konsep seorang gadis yang memiliki bakat untuk terus belajar itu cukup biasa. Wajar bagi seseorang untuk berusaha berada di puncak saat ujian.
Seperti sekarang ini, penempatan kelas sebagian besar dilakukan sesuai dengan hasil ujian tertulis. Untuk pengajaran dan sejenisnya, perlu untuk mengelompokkan siswa berdasarkan kemampuan. Jika sekolah mencampurkan siswa dengan kemampuan yang jauh berbeda, akan sulit untuk menentukan kurikulum yang dapat dipahami oleh semua siswanya.
Namun pendekatan ini tidak berlaku dalam semua kasus. Akan sangat sulit bagi guru untuk mengelola kelas yang penuh dengan murid jenius atau sebaliknya. Bagaimanapun semua siswa membutuhkan perlakuan yang sama.
Dengan mencampurkan siswa dari tingkat ahli dan pemula, guru dapat meninggalkan anak yang lebih pintar belajar sendiri dan fokus pada siswa yang lebih membutuhkan bimbingan mereka. Dan, jika ada siswa yang bisa melampaui ajaran para guru, maka akan disiapkan metode pembelajaran independen untuknya.
Khusus untuk pendidikan sihir dan fisik, lebih mudah untuk tidak membagi siswa berdasarkan kemampuan. Walaupun ini membuat segalanya menjadi lebih mudah bagi anak-anak yang lebih ahli, tapi bukan berarti mereka tak punya kesempatan untuk berkembang.
Mereka yang tidak bisa menggunakan sihir juga diminta untuk mengambil kelas sihir. Bagaimanapun juga, di masa depan mereka mungkin dipekerjakan sebagai pembantu atau sekretaris seorang penyihir — atau jika menjadi prajurit, suatu hari nanti ia mungkin harus bertarung melawan pengguna sihir. Jadi meskipun bukan penyihir, setidaknya memiliki pengetahuan dasar tentang sihir itu sangat penting.

***

Penilaian fisik dilakukan setelah ujian tertulis.
Mereka tidak perlu latihan otot untuk masuk sekolah, hanya untuk menguji bahwa mereka sehat dan cukup bugar sehingga bisa berpartisipasi dalam kelas pendidikan fisik.
Adele melakukan semuanya seperti yang diperintahkan. Dia tidak mau memperlihatkan keabnormalan disini. Lagipula dia adalah "gadis rata-rata, rata-rata sekali."
Menghitung jumlah siswa yang berbaris di depannya, ia mencoba yang terbaik untuk menyesuaikan kemampuannya agar terlihat sangat rata-rata.
Mereka dibagi menjadi beberapa tim yang terdiri dari lima orang lalu diarahkan untuk menyelesaikan berbagai ujian berturut-turut. Adele ditempatkan posisi kedua di timnya, hanya satu anak di depannya yang bisa dijadikan referensi.
Dia membuat perhitungan di kepalanya. Siswa di depannya adalah seorang anak laki-laki, tapi pada usia ini Adele memperkirakan tidak aneh bagi seorang gadis jika memiliki kemampuan yang sama. Bukannya mereka mengatakan bahwa anak perempuan tumbuh lebih cepat daripada anak laki-laki saat masih muda?
Dalam hal apa pun, selama ia tetap berada di kisaran rata-rata, tidak masalah jika melakukannya dengan baik ataupun buruk. Selama dia tidak menonjol.
Dalam setiap peristiwa — Spint, lari, lompat jauh, chin-up, push-up, dan lempar lembing — Adele berusaha keras meniru pria muda di depannya.
Dengan ini meskipun kelihatan sedikit berbakat untuk seorang gadis, ia masih bisa dianggap anak "rata-rata".

***

Akhirnya, mereka sampai pada tes sihir.
Di dunia ini, sekitar tiga puluh persen penghuninya memiliki kemampuan sihir. Di antara mereka mungkin sepertiganya memiliki bakat untuk itu. Artinya total pengguna sihir  di dunia ini adalah sekitar sepuluh persennya. Semuanya hanya mampu melakukan tugas-tugas sederhana dan praktis seperti menyalakan tungku atau menciptakan air yang cukup untuk meredakan haus.
Sebelum ingatannya kembali, tak ada yang tahu apa Adele bisa masuk dalam sepuluh besar bahkan jika sudah berlatih. Namun setidaknya ia selalu menjadi salah satu dari tiga puluh persen itu. Jika sebuah kereta melakukan perjalanan melalui padang pasir dan terjadi masalah, peluang mereka untuk bertahan hidup akan sedikit lebih tinggi jika ada Adele di dalamnya.
Tapi sekarang…
Untuk keamanan, akan lebih baik bagi Adele untuk tidak menggunakan sihir sama sekali. Dia paham betul akan hal itu.
Sayangnya strategi ini tidak efektif. Karena dia bisa menggunakan sihir, akan mubazir apabila tidak dipakai walau hanya sedikit. Berpura-pura tidak bisa menggunakan sihir bisa menimbulkan masalah nanti, Adele tidak akan siap jika ada situasi darurat.
Jadi seperti halnya ujian fisik, ia berencana untuk menyesuaikan kemampuannya mendekati murid-murid lain yang memiliki kemampuan sihir.
Sama seperti sebelumnya, Adele dengan hati-hati menyimak yang lain melakukan uji sihir, dan ketika gilirannya tiba, ia menghitung output  sihirnya.
Rata-rata manusia memiliki sekitar 1 / 6.800 dari kekuatan sihirnya, jadi apabila dia menekan kekuatannya menjadi sekitar 1 / 10.000 dari kekuatan maksimal, outputnya akan sama dengan anak di depan.
Buuf…
Bola api dengan ukuran pas muncul, dan Adele menghela napas lega. Itu bukanlah sihir yang yalak tempur, hanya semburan api kecil.
Tapi semua orang termasuk guru menatap Adele dengan mulut ternganga.
"Di-dia tidak menggunakan mantra ..."
Adele merasakan perutnya jatuh. Dia lupa melafalkan mantra.
Tentu saja kenyataannya mantra tidak diperlukan untuk mewujudkan sihir. Namun kebanyakan manusia tidak dapat mewujudkan imajinasi secara instan atau menyalurkan molekul dan membuat reaksi kimia, mereka membayangkan pembentukan sihir dengan menggunakan mantra: "O, api! Berputar dan berkumpullah padaku, dan hancurkan musuhku! "
 Akan lebi mudah saat melafalkannya dengan keras, tidak mustahil dilakukan secara diam-diam namun itu lebih sulit dan hanya digunakan saat menyelinap. Jika ia tidak melantunkan mantra dengan keras, kekuatan sihirnya akan berkurang drastis bahkan jika waktu yang diperlukan dan kata-kata yang diucapkan itu sama.
Namun Adele bisa mewujudkan dan menembakkan sihir tanpa menyebutkan apapun, dengan kekuatan yang sama seperti anak di depannya. Meski bisa dianggap melakukan "pelafalan tanpa suara" , namun kekuatannya sangat besar bagi orang di dunia ini sehingga mereka tidak bisa mengabaikan apa yang telah ia lakukan.
Untungnya bagi Adele, orang dewasa yang melihat itu tidak terlalu curiga soal pelafalan mantranya - meskipun jelas bagi semuanya kalau kemampuan sihir itu jauh melampaui anak seusianya.
Dalam panik, Adele berusaha untuk membetulkan kesalahannya. Meyakinkan dirinya sendiri bahwa pasti ada banyak orang yang bisa mengeluarkan sihir tanpa mantera, hanya saja kebanyakan tidak melakukannya. Aku hanyalah gadis normal yang kebetulan jago sihir api. Hanya itu!
Para siswa baru belum memperkenalkan diri satu sama lain. Jadi ruangan itu tetap tenang dan hanya terdengar bisikan saja. Meskipun mereka sangat terkejut, para guru memutuskan melanjutkan tes sesuai jadwal. Akan ada banyak waktu untuk bertanya nanti.
Tes pembagian kelas berakhir tanpa insiden lain, para siswa bubar dari tempat latihan, dan Adele kembali ke kamarnya.

***

Hanya satu anak laki-laki yang tersisa disana yaitu Kevin von Bellium, putra kelima dari seorang baron miskin.
Keluarga Bellium hidup miskin. Meskipun demikian, Baron telah diberkahi tiga putra dan seorang putri oleh istrinya, memiliki hubungan dengan pelayan wanitanya dan mendapatkan dua putra lagi, serta seorang putri lainnya.
Baron bukanlah tukang selingkuh yang tidak bermoral. Dia memberikan banyak hal untuk pelayan yang telah memberinya keturunan ini. Dia membiarkan anak-anaknya tinggal di mansion dan membesarkan mereka dengan baik. Istri dan anak-anaknya tidak pernah membully mereka, menyayangi mereka layaknya keluarga kandung.
Namun, keluarga si pelayan masih menginginkan uang.
Awalnya Baron berencana menyekolahkan putra-putranya di Akademi Ardleigh, tapi itu tak akan menyisakan uang sekolah untuk para putra pelayan wanita itu.
Putra tertua akan jadi pewaris Baron dan yang kedua akan jadi penggantinya. Yang ketiga mungkin akan jadi ksatria, penjaga, atau seorang pejabat. Jika beruntung  dia bisa menikah dengan keluarga baron atau viscount yang tidak punya pewaris laki-laki.
Anak gadis dari pelayan akan dikirim ke Akademi Eckland yang iurannya sepersepuluh dari  Ardleigh. Dengan begitu, ada kemungkinan ia bisa menikahi pewaris bangsawan atau putra pedagang terkenal sehingga bisa meningkatkan kekayaan keluarganya. Untuk memberi putrinya sendiri peluang lebih  untuk menemukan pasangan yang memenuhi syarat, Baron harus mengirimnya ke Ardleigh bahkan jika itu berarti menambah beban keuangan keluarga. Begitulah pertaruhan yang harus dilakukan keluarga bangsawan miskin dengan harapan terbebaskan dari kesulitan mereka.
Ternyata si putri pelayan itu lebih cantik. Sedemikian rupa sehingga meskipun sebagai putri haram seorang baron, dia pasti akan cepat dapat jodoh. Apabila putri pelayan disekolahkan ke akademi bergengsi, mau tak mau putri sulungnya harus ke akademi yang lebih rendah. Jika dia melakukannya, orang-orang mungkin akan bergosip anek kalau ada sesuatu dengan gadis itu, hingga dapat mengacaukan kesempatannya untuk menikah. Oleh karena itu, tidak ada pilihan bagi keluarga baron yang malang selain mengirim kedua putrinya ke Akademi Ardleigh dan keluarga itu dan berdoa agar kecantikan itu dapat membawa mereka menuju kekayaan nantinya.
Maka putra keempat Baron — anak pertama si pelayan — dan putra kelimanya Kelvin memasuki Akademi Eckland. Seperti itulah kronologinya.
Putra keempat memiliki bakat sihir yang cukup baginya untuk bisa mencari nafkah — atau bahkan, bergantung pada situasinya, bisa saja menjadi penyihir istana atau bergabung di Guild Penyihir.
Orang tuanya sangat bahagia, dan akhirnya diputuskan bahwa dia juga akan dikirim ke Ardleigh, hanya menyisakan Kelvin si putra kelima yang masuk Akademi Eckland sendirian.
Satu-satunya dari ketujuh anak mereka.
Bagaimana? Kenapa? Kelvin mengutuk ketidakadilan dunia ini, meskipun jauh di lubuk hatinya ia tahu bahwa itu tak dapat dihindari. Mengirim anak-anaknya ke akademi bergengsi bukanlah beban kecil bagi keluarga bangsawan yang miskin.
Selain biaya masuknya yang mahal, masih ada biaya sekolah, buku, makanan, penginapan, seragam, dan lainnya selama tiga tahun, apabila dikali tujuh tidak mungkin keluarga Baron sanggup membiayainya. Biaya tak terduga untuk sekolah putra keempat saja mungkin sudah membuat merana. Mereka bahkan menjual beberapa perhiasan istrinya dan meminjam uang. Sebuah pertaruhan besar untuk anak dari seorang pelayan.
Daripada mengeluh dengan biaya pendidikan anak-anak pelayannya, si istri Baron malah meminta maaf. Andai saja ada cukup uang agar Kelvin bisa sekolah di Akademi Ardleigh bersama saudara-saudaranya — tapi sayangnya harapan itu tak terkabul.
Maka Kelvin tiba di Akademi Eckland setelah semua upaya dikatakan dan dilakukan, dengan sepersepuluh dari biaya pendidikan Ardleigh. Dia adalah putra kelima, lahir dari seorang pelayan, dan meskipun secara fisiknya kuat, tidak seperti saudara lain dia tidak memiliki kemampuan sihir.
Namun Kelvin bertekad untuk melakukan yang terbaik menghadapi situasinya.
Jika aku akan terjebak di tempat ini, pikirnya, aku harus jadi bintang! Dia bermimpi menjadi siswa terbaik Eckland, melampaui para elit di Ardleigh. Dia akan lulus dan menjadi sultan, membayar kembali semua yang telah diberikan ibunya, ayahnya, dan saudarinya.
Berkat waktu yang dihabiskan bersama kakak laki-lakinya, tubuhnya telah menjadi kuat dan ia sangat menantikan ujian fisik.
Segera, akan kutunjukkan pada mereka siapa bosnya, pikir Kelvin.
Tapi tepat setelah dia memamerkan sprint tercepatnya, gadis di belakangnya menunjukkan kemampuan yang sama persis.
Dia telah mendorong batas kemampuannya ketika melakukan chin-up, tetapi sekali lagi gadis itu menatapnya lalu mendapatkan nilai yang sama. Lebih buruknya lagi, terlihat bahwa dia hanya pura-pura cape, berhenti di nilai yang sama meskipun bisa bertahan lebih lama.
Begitu pula dengan lempar lembing, lompat jauh, dan push-up.
Dia berhenti di saat dan titik yang sama, meskipun masih memiliki kemampuan lebih dalam dirinya.
Dan di atas semua itu, bahkan dia juga bisa menggunakan sihir.
Sialan! Sialan! Sialan!
Dia dipermainkan, tapi lain kali Kelvin bersumpah akan memukulnya.
Kelvin von Bellium, putra kelima Baron. Saat itulah saat cita-citanya untuk tiga tahun ke depan diputuskan.

***

Keesokan harinya adalah pembagian buku yang sudah lama ditunggu-tunggu.
Sebenarnya Adele tidak terlalu senang menerima materi pelajarannya, yang benar-benar diinginkannya adalah pakaian, yang dibagikan pada saat bersamaan dengan bukunya.
Ada dua model seragam, satu untuk musim panas dan satunya untuk musim dingin, dua tipe pakaian olahraga, serta sepatu dan kaus kaki.
Akhirnya dia akan memiliki pakaian baru dan selama mengenakan seragam, takkan ada yang memperhatikan kalau dia mengenakan pakaian yang sama setiap harinya. Bahkan jika seragam dan pakaian olahraganya kebesaran atau jika ada yang rusak, dia akan bisa menukarkannya. Jika terlalu banyak menukar mungkin saja ia menerima pakaian bekas siswa lain yang diperbaiki, tetapi itu tidak terlalu membuatnya khawatir.
Barang-barang barunya terlalu banyak untuk dibawa sekaligus, jadi setelah bolak-balik Adele mencoba seragamnya. Dia dapat yang sedikit kebesaran untuk mengantisipasi pertumbuhan yang cepat, tetapi itu memberikan semacam perasaan "rata-rata", yang ia sukai. Pakaian bawaannya sudah compang-camping karena dipakai selama berhari-hari, jadi agar aman Adele memutuskan untuk menyimpannya ke dalam Item Box.
Menghadap cermin, dia melihat penampilannya.
Semoga diriku bisa mendapatkan seratus teman! Adele, yang belum punya teman di kehidupan ini ataupun sebelumnya berseri-seri dengan penuh harapan.

***

Sorenya dia pergi ke papan pengumuman untuk melihat daftar nama beserta kelas yang sudah diumumkan.
Mereka akan berbaris sesuai dengan daftar nama ini lalu latihan untuk upacara penerimaan. Upacara itu sendiri diadakan besok diikuti sesi perkenalan diri. Kelas akan dimulai minggu depan setelah hari libur.
Seperti harapannya, Adele ditempatkan di Kelas A.
BTW ini bukan "A" dari alfabet dunia Misato — tetapi berdasarkan alpabet yang diajarkan dalam sistem penulisan negara itu, huruf "A" adalah pengganti yang cocok.
Latihan untuk upacara penerimaan besok berjalan dengan lancar. Ada beberapa keluarga siswa yang hadir, namun kebanyakan rumah mereka terlalu jauh sehingga sulit untuk menghadiri upacaranya. Meskipun ada lumayan banyak keluarga bangsawan kelas bawah yang tinggal di kota ini. Upacara masuk Eckland berlangsung bersamaan dengan acara Ardleigh, jika anaknya ada di kedua akademi mereka pasti memilih menghadiri upacara akademi yang lebih bergengsi.
Anak-anak dari keluarga miskin dan anak yang tidak diprioritaskan dalam keluarga lalu dikirim ke Eckland juga sendirian. Yah, Adele adalah salah seorang diantaranya.

***

Setelah upacara, guru menunjukkan ruangan kelas para siswa.
Setelah sedikit waktu untuk berkomunikasi satu sama lain, akhirnya tiba saatnya bagi para siswa untuk mengenal teman sekelas mereka. Hati Adele penuh perasaan gugup dan cemas. Apa dia bisa berteman dengan mudah? Atau kurang beruntung dan berakhir kesepian seperti di masa lalu?
Guru wali kelas A adalah lelaki berbadan tegap yang berusia sekitar tiga puluh tahun.
 "Namaku Abe von Burgess, wali kelas A. Aku akan bertanggung jawab untuk tahun ini. Faktanya aku berencana untuk menjadi guru kelas A di tahun kedua, jadi kemungkinan kita akan bertemu juga tahun depan. Meski begitu, pada akhir semester penempatan kelas bisa berubah tergantung pada nilai kalian, jadi aku akan mengucapkan selamat tinggal pada siapa pun yang gagal mempertahankan kinerja mereka. ”
Burgess-sensei tidak mirip seorang guru dan lebih seperti bajingan yang sudah pensiun, tipe orang yang akan menjadi pemburu level menengah di guild. Namun kata "von" dalam namanya menunjukkan ia adalah seorang bangsawan, jelas bahwa dia bermaksud memperingatkan para anak bangsawan yang memiliki tengkorak tebal bahwa status tidak akan bisa membuat mereka terlepas dari kerja keras.
“Sekarang, mari kita mulai perkenalannya. Kenapa kita tidak mulai dari depan, dimulai dari… kau? "
“A-Ashiap!” Bocah laki-laki di depan barisan paling kiri memulai perkenalan seperti yang diperintahkan. "Namaku Marcus, putra ketiga dari keluarga Buick dari ibukota. Kemampuanku adalah ... "
Kelas itu terdiri dari dua belas anak laki-laki dan delapan belas anak perempuan dengan total tiga puluh siswa, semuanya memperkenalkan diri — menyebutkan nama, kampong halaman, kemampuan, hobi, cita-cita, dan lainnya, perkenalan yang cukup biasa.
Wajar jika anak perempuan melebihi jumlah anak laki-laki di kelas ini dikarenakan jumlah siswi di akademi lebih banyak, anak lelaki bangsawan rendah dan keluarga pedagang diusahakan menghadiri sekolah yang lebih elit, sementara anak gadis yang tidak bisa melakukan pernikahan yang menguntungkan dikirim ke akademi yang lebih low budget. Para anak laki-laki kebanyakan menekuni bidang olahraga daripada pelajaran yang berarti nilai mereka tidak sebagus anak perempuan.

Adele berjuang mengingat wajah mereka karna dia sudah bertekad untuk berteman, melakukan itu akan menjadi kebutuhan mutlak. Saat masing-masing siswa memperkenalkan diri, ia menatap dengan seksama dan menghafalkan ciri-ciri mereka. Mereka yang memperhatikan perilaku aneh itu menjadi bingung dan pipinya memerah, namun Adele sama sekali tidak menyadari melakukan kesalahan itu.
"Namaku Kelvin von Bellium, seorang calon ksatria. Keahlianku adalah permainan pedang yang juga menjadi hobiku. Tujuanku saat di Eckland adalah menjadi lebih kuat! ”
Perkenalan Kelvin sangat berbeda dari yang sebelumnya, namun tidak menurunkan minat Adele. Tentu saja, hampir tidak terlintas dalam benaknya bahwa ia adalah anak laki-laki yang ditirunya selama ujian fisik awal minggu  ... Dia juga tidak memperhatikan tatapan tajam Kelvin saat melihat ke arahnya.
Perkenalan terus berlanjut hingga akhirnya giliran Adele.
"Nama saya Adele. saya tidak punya kemampuan khusus. Bagaimanapun kelihatannya, saya hanyalah gadis biasa yang sepenuhnya rata-rata. ”
Semua orang di kelas selain Adele memikirkan hal yang sama bersamaan.
Dia bohong.
Mereka sepakat sepenuhnya. Gadis ini, yang bisa dengan santainya melafalkan mantra pada tingkat yang sama dengan murid yang katanya memiliki kemampuan sihir terkuat, yang dengan persis menyamai kemampuan fisik terkuat dari murid putra bangsawan dan jelas bisa melampauinya — Pastinya dia berbohong. Mungkin dia bermaksud membuat siswa itu berhenti pesimis, tapi sebenarnya  itu malah memperparah keadaan — meskipun tampaknya ia tidak menyadari masalah itu.
Apa memang begitu sifatnya? Atau semacam sindiran? Sejak ujian berakhir, gosip seperti ini telah beredar di antara anak bangsawan di area umum dan kantin.
"Ini pertama kalinya saya datang ke ibukota," lanjut Adele. “Hobi saya adalah membaca dan makanan enak. Saya tidak punya banyak teman sebelumnya, jadi saya harap bisa berteman baik dengan kalian semua, "Lalu tersenyum.
Aku melakukannya, pikirnya. Perkenalan sempurna oleh gadis biasa. Inilah awal dari kehidupan barunya yang  “rata-rata” di Akademi Eckland.
Adele sama sekali tidak tahu kalau anak-anak lain telah menilai kelakuannya selama ujian fisik, juga tidak menyadari bahwa berteman hanya dengan murid teratas itu buruk. Satu lagi, meskipun mengklaim sebagai orang biasa, ia mengikuti ujian bersama anak-anak bangsawan. Selain itu dia membuat pernyataan aneh kalau hobinya adalah "membaca dan makanan enak," meski mungkin untuk memiliki buku-buku mahal atau makan makanan maknyus namun aneh bahwa ia hidup selama sepuluh tahun tanpa seorang teman.
Namun Adele benar-benar percaya bahwa ia bisa bersikap sebagai siswa yang sangat rata-rata tanpa mempedulikan apa yang dipikirkan teman-teman sekelasnya.

***

Setelah perkenalan dilanjutkan dengan orientasi. Burgess-sensei menjelaskan tata letak sekolah, rutinitas, peraturan, dan pelajaran yang akan dimulai awal minggu depan. Lalu setelah itu para siswa dipulangkan. Semua itu hanya berlangsung  setengah hari, ia menginstruksikan para siswa untuk menggunakan waktu di sore dan hari libur esoknya untuk istirahat, belanja keperluan dan bersiap untuk pelajaran minggu depan.
Situasinya berbeda dengan Adele. Tukang roti sudah menunggunya besok, dan selain itu dia masih tidak punya cukup uang untuk belanja. Membeli kebutuhan wajib seperti sabun, buku catatan, dan tinta sudah menghabiskan koin yang didapatnya saat hari pertama di toko roti. Karena semua itu dianggap barang mewah jadi harganya cukup itu mahal dan uangnya hampir tidak cukup.
Adele memutuskan lebih baik menabung gajinya besok untuk sesuatu yang sama pentingnya. Setidaknya dia ingin membeli dua pakaian dalam, tapi harus menunggu lain kali.
Saat berdiri merenung galau, Adele mendapati dirinya dikelilingi oleh sekelompok anak laki-laki.
"Adele, apakah kamu mau ikut belanja denganku?"

“Mending ikut aku! Diriku dibesarkan di ibukota, jadi aku tahu semua toko terbaik! ”
"Tidak, aku lebih tahu!"
Adele mundur secara refleks. Dan lagi…
Meskipun anak-anak itu mengejutkannya, mereka tampaknya tidak ounya niat buruk. Apa ini artinya dia ... populer?
Adele terdiam sejenak dalam kebingungan. Sebagai Misato dia memang terbilang cantik. Meskipun terlahir dari orang tua yang benar-benar biasa dalam penampilan, Misato sudah cantik dair sononya dengan tubuh yang ramoing, tipe yang mungkin dicari oleh pencari bakat dan agen model. Tetap saja, ia tidak pernah sedikitpun populer di sekolahnya. Karena semua orang mengira dia beda level dengan mereka, tidak ada yang berani mengajaknya berkumpul bersama.
Sementara Adele memiliki wajah yang imut, simetris, dan penampilannya biasa-biasa saja. Dia tidak glamor ataupun mencolok, lebih tepatnya dirinya berpenampilan menyenangkan dan cenderung membuat orang lain—
Tunggu.
Saat itu Adele teringat pada sebuah program TV yang dilihatnya bertahun-tahun lalu. Si Presenter menjelaskan bahwa jika seseorang memiliki rata-rata dari ratusan wajah manusia, hasilnya adalah "kecantikan universal" - bukan penampilan menonjol, melainkan punya penampilan yang menyenangkan dan membuat orang lain merasa nyaman.
Jika seseorang mendapatkan penampilan rata-rata itu. Jika dia bisa rata-rata ...
Bukan itu. Saat bilang ingin penampilannya "rata-rata", yang dimaksud adalah rata-rata seperti pada umumnya, yang biasa — hanya wajah biasa di antara kerumunan, bukannya rata-rata seperti kecantikan universal!
"Maaf," Adele tergagap. "Aku sudah selesai belanja!"
Melihat Adele bingung dan memerah, anak-anak itu malah berusaha lebih keras, persaingan pun semakin sengit.
"Anak laki-laki! Tenanglah! ”Seorang gadis yang seperti ketua kelas menjauhkan mereka dengan raungannya. Adele mengucapkan terima kasih dan melarikan diri dari kamar, pikirannya berputar-putar.
Sampai sekarang baik dalam kehidupannya sebagai Adele maupun Misato, anak-anak lelaki di kelas tidak pernah mengatakan sepatah kata pun padanya selain "Boleh kuambil PRmu!"
(TN: Maksudnya pas ngumpulin PR biasanya ada siswa yang bertugas ngambilin dari meja kita.)
Setelah kembali ke asrama, dia masuk kamar mandi dan melihat pantulan dirinya di cermin  yang terbuat dari sepotong logam yang dipoles.
(TN: Mungkin Blom ada kaca ato kemahalan)
Dia sedikit lebih pendek dari orang seusianya dan memiliki rambut perak yang diwarisi dari sang ibu. Sosoknya tidak memancarkan keindahan seperti yang dimiliki Misato, tetapi wajahnya tertata dengan baik, dan itu memang, dia kira, memberikan sebuah keseimbangan.
Apa penampilanku ini menarik?
Gelembung tawa muncul di dadanya.
Berjalan ke pintu kamar mandi, gadis-gadis lain mengalihkan pandangan mereka saat melihat ekspresi aneh Adele.
Lagipula itu semua salah. Ia seharusnya tidak menarik. Hanya gadis biasa yang tentu saja tidak membutuhkan sekelompok pelamar — terutama sebelum ia dewasa.
Saat Adele menggelengkan kepalanya sambil melihat cermin, pikiran lain muncul di benaknya.
Aneh bukan, ia baru saja mulai tumbuh di usia sepuluh tahun? Di dunia ini gadis-gadis lebih dewasa sebelum waktunya san meulai usia puber sekitar tujuh atau delapan tahun. Misato sendiri mulai tumbuh sejak berusia delapan tahun, dan pada saat mencapai usia delapan belas tahun ukuran dadanya sudah sedikit di atas rata-rata. Di sisi lan Adele tidak menunjukkan tanda-tanda pertmbuhan apa pun. Ada banyak gadis di kelasnya dengan dada yang menonjol, jadi ini adalah satu area dimana Adele tidak bisa mendekati “rata-rata.”
Kenapa begitu?
Memang benar dia tidak banyak makan selama dua tahun setelah kematian ibu dan kakeknya. Mungkinkah itu yang menghambat pertumbuhannya?
Adele menghela nafas. Dia tampak seperti elf, atau kurcaci ...
Oh Dewa. Adele shock ketika pikiran mengerikan itu menghampirinya.
Bersama-sama, manusia, elf, dan kurcaci membangun perkumpulan ras yang disebut "humanoid." Namun, jika Dewa menganggap mereka semua sebagai satu ras ...
Dia seharusnya memiliki tinggi rata-rata, tetapi kenyataannya lebih pendek. Dada Adele hampir sepenuhnya Flat.
Tidak tidak tidak tidak tidak tidak tidak!
 Ada jauh lebih sedikit kurcaci dan elf daripada manusia. Memasukkan mereka dalam perhitungan rata-rata seharusnya hampir tidak memiliki efek apa pun ... dalam situasi normal apa pun.
Tetapi dalam keadaan khusus ... akan merepotkan untuk menghitung rata-rata berdasarkan keseluruhan populasi dunia, jadi bagaimana jika dia hanya menambahkan "rata-rata manusia," "rata-rata kurcaci," dan "rata-rata elf ” lalu menghitung rata-ratanya?
Dan bagaimana jika makhluk bodoh tertentu berasumsi bahwa perhitungan ketiga ras ini dapat membuat rata-rata yang akurat?
Tunggu tunggu tunggu tunggu tunggu tunggu tunggu tunggu!
Adele melihat sekeliling kamar dengan panik. Seharusnya mustahil. Itu tidak mungkin.
Setidaknya Orc dan goblin tidak dianggap sebagai humanoid ....
Bang bang bang bang bang!
Beberapa menit kemudian, teman-teman sekelas melihat Adele membenturkan kepala ke dinding lorong asrama.

***

Berbaring di tempat tidur sore itu, Adele berusaha menghibur dirinya sendiri.
Setidaknya menjadi Loli itu sangat imut ...
Faktanya kurcaci perempuan tidak sepenuhnya berbeda dari manusia. Mereka sedikit lebih pendek dan agak bulat dalam penampilan tapi tidak kekar seperti lelaki, dan tentu saja tidak menumbuhkan janggut. Mereka tidak beda jauh, pikir Adele, dari seorang loli pada umumnya. Begitulah.
Selain itu jika Adele memang memiliki fisik loli, maka akan bertentangan dari bentuk fisik elf. Baik elf laki maupun perempuan tubuhnya tinggi dan ramping, sehingga memiliki pengaruh besar pada fisik Adele, jadi seharusnya tubuhnya yang mungil sudah masuk perhitungan. Atau begitulah seharusnya.
Tinggi Adele, jika dikombinasikan dengan masalah dadanya ...
Dia menggelengkan kepala. Ini semua hanya spekulasi saja.
Jika dia menanyakanya pada Nanomachine, maka kebenarannya akan ...
Aku tidak bisa menanyakan itu kepada mereka! Bagaimana kalau semuanya ternyata benar ?! Semua itu terlalu mengerikan.
KAU TIDAK DENGAR?
"AKU TIDAK AKAN MELAKUKANNYA !!" Adele berteriak sampai bagian atas paru-parunya, lalu memandang ke kiri dan kanan dengan panik. Syukurlah tampaknya penghuni kamar tetangga sedang keluar, jadi ia tidak akan menerima keluhan karna gangguan tersebut.



Sebelumnya             Daftar Isi             Selanjutnya

3 Comments

  1. Gw cari2 Ini web sush bnget
    Pas ketik di pencarian pico TL tpi kg ketemu mlah msuk google TL:(
    Lnjut doong tpi gw mulai pusing krna kbnykan basi basi gaje

    ReplyDelete

Post a Comment