Novel Watashi, Nouryoku wa Heikinchi de tte Itta yo ne! Bahasa Indonesia chapter 4






Chapter 4   Pembelajaran


Esok harinya dimulailah latihan praktek mereka.

“Baiklah semuanya! Waktunya mula latihan! ” (Sensei)


Rupanya wali kelas mereka, Burgess-sensei juga bertanggung jawab atas pendidikan fisik.
Semua siswa mengenakan armor kulit menutupi baju olahraga mereka, dan tidak seperti seragam, armor ini tidak dibagikan gratis. Alat itu dipinjamkan ke berbagai kelas, bau kulit dan keringat orang lain memenuhi udara di sekitar Adele dan teman-teman sekelasnya. Para siswa di Akademi Ardleigh yang bergengsi tidak diragukan lagi masing-masing menerima peralatan serta senjata dan armor, beda dengan siswa Eckland yang tidak bisa mengharapkan kemewahan itu.

 "Aku harus mulai dari dasar-dasar latihan teknik dan fisik, tapi rasanya itu akan membuat kalian semua menangis,"  Burgess-sensei memulai.

 "Jadi, kita mulai dulu dengan latih tanding, jadi kalian semua bisa memahami pentingnya menguasai dasar-dasar skill itu.
Coba kita pilih contoh yang bagus ... Mereka yang sudah punya pengalaman sebelumnya, majulah!" (Burgess)

Beberapa anak cowok maju ke depan atas perintahnya.

"Salah satu dari kalian — maju lalu tunjukkan padaku yang kamu miliki!" (Burgess)

Namun tidak ada yang iklas untuk menjadi sukarelawan.
Tepat disaat Burgess-sensei  mau nyerah dan memilihnya sendiri ...

"Aku mau!"  Kelvin, putra kelima baron itu maju selangkah.

"O-ho! Kelvin, kan? Baiklah ayo! Kamu boleh memilih lawanmu. " (burgess)

Di akademi ini kedudukan itu tidak berlaku, sehingga bahkan anak-anak bangsawan pun dipanggil dengan nama depan mereka.
Saat Kelvin melihat ke arah kumpulan lawan potensial itu, mereka semua perlahan mengalihkan pandangan. Setengah dari murid yang maju tadi adalah bangsawan dan mereka menyaksikan kehebatannya selama penilaian fisik.
Setelah sejenak mengamati mereka dengan santai, Kelvin menunjuk seseorang.

"Kau yang disana! Maju sini!" (Kelvin)

Ialah Adele yang balas menatap, dengan mulut ternganga.

"Hah? Kenapa, aku tidak punya pengalaman sama sekali lho ... " (Adele)

Dia menatap Burgess-sensei, berharap untuk keluar dari situasi ini.

Namun…

"Itu Adele, kan ?! Oke — yah, ini pasti yang menarik. Ayo lakukan! "Mr. Burgess menyeringai.

 Rumor tentang Adele telah tersebar di antara para guru dan juga siswa, dan ia senang punya kesempatan menguji kemampuannya.

"Hah…?" Adele, mendengar itu jadi bingung.

 Kenapa Tiba-tiba Kelvin dan gurunya ingin dia bertanding?
Dia baru saja mengenal wajah dan nama bocah lelaki yang memanggilnya itu — bocah lelaki selama ini mengawasinya. Awalnya Adelebertanya-tanya apakah ia jatuh cinta padanya, tapi sikap itu menunjukkan kebalikannya.

Bahkan, tatapan tajam itu seolah-olah melabeli dirinya sebagai saingan.
Namun jika harus memilih saingan, pikir Adele, bukankah lebih baik memilih seseorang dengan kemampuan yang lebih hebat — bukan gadis biasa seperti dirinya?

"Tolong lembutlah padaku ..." Adele memohon ketika mengangkat pedang kayunya, tapi Kelvin hanya diam saja sambil menyiapkan senjatanya.

Adele menguatkan dirinya, Kelvin tampak cukup serius. Mungkin ini hanya pedang kayu, tapi jika dia memukulnya cukup keras itu pasti akan menyakitkan, bahkan dengan armor kulit sekalipun.
Strategi pun dibuat.

Bertarung dalam Mode Gadis Normal dengan level yang dimiliki sebelum ingatannya kembali, dan itu agak sulit. Terlebih lagi ia harus tetap mempertahankannya di sesi latihan berikutnya, yang berarti tidak akan pernah bisa berlatih dengan serius. Ini akan menjadi masalah.

Meskipun mungkin dia itu lincah dan kuat, Adele sama sekali tidak memiliki pengetahuan soal skill. Oleh karena itu demi persiapaan diri setelah lulus, ia harus serius berlatih. Untuk itu Adele harus menunjukkan kekuatannya saat bertarung — setidaknya secara bertahap — dengan ia yang terkuat di antara  laki-laki, dan juga memahami apa yang diajarkan para guru.
Tentu saja terkena pukulannya akan menyakitkan.

Atau mungkin dia bisa menghindari pukulan itu?

Jika bisa mengatasi itu dan membiarkan pedangnya dihantam pada titik yang tepat, mungkin saja pertarungan bisa berakhir sebelum ia menderita luka serius.
Dengan memikirkan ini, Adele pun siap bertarung.

"Mulai!"

Tepat ketika perintah itu keluar dari mulut Tuan Burgess, Kelvin bergegas menghampiri Adele.
Di dunia ini tidak ada yang namanya suri-ashi atau okuri-ashi, teknik loncatan kendo Jepang itu. Disini kondisinya hanya menghantam lawan mungkin di arena.

Merasakan keraguan Adele, Kelvin bergerak cepat lalu mengayunkan pedangnya dari atas ke bawah. Memang lebih fatal jika mengarahkannya langsung ke kepala si gadis, tapi dia malah memilih menyerang bahunya yang ditutupi armor kulit. Dalam kendo serangan seperti itu disebut kesa-giri.
Kemenangan sudah di depan mata — atau begitulah pikir Kelvin. Tapi pedangnya hanya memotong udara, tanpa aroma apapun.

"Hah…?" (Kelvin)

Disaat Adele dengan mudahnya menghindari tebasan itu, keyakinan Kelvin pun goyah. Namun, dia tidak cukup bodoh untuk membiarkan dirinya lengah. Dengan cepat ia mengangkat pedangnya lagi dan mengayunkannya ke sisi kanan Adele dengan tubuhnya menghindar ke kiri.

Thunk!

Adele menangkis tebasan itu dengan pedangnya.

Dia menyerang cepat ke sisi kirinya, berharap kesimbangannya goyah. Namun dengan mudah juga ditahan.

Kelvin terus menyerang, dan Adele terus menangkisnya.

Kelvin kesal. Bagaimana ini bisa terjadi? Gadis itu sikap dan tekniknya seperti seorang amatir. 
Bagaimana ia bisa bergerak secepat itu?! Bagaimana ia bisa menangkis setiap seranganku ?!
Kelvin kewalahan dan kebingungan — tapi Adele juga demikian.
Eeek! Serangannya semakin kuat. Bagaimana dia bisa bertarung sebagus itu tanpa membiarkan dirinya terluka?

Akhirnya, sisi sembrono Kelvin muncul.

Jika Adele bisa menahan semua tebasannya, dia tidak punya pilihan selain membidik pedangnya dengan sengaja. Dan setidaknya, mungkin Kelvin akan memiliki kesempatan untuk mengalahkan Adele dengan kekuatannya.

Dia membungkuk, mencengkeram kuat pedangnya. Mengumpulkan kekuatan dan memposisikan pedangnya, ia memfokuskan kekuatan pada sepertiga ujung pedangnya. Pedang Adele tidak bergerak, dan begitu dia menebas, pedangnya akan mengenai pangkal pedang Adele.

Dia akan menyerang!

Tanpa berpikir lagi, Adele menjadi tegang.

Cra-aaack!

Pedangnya berbentur dengan suara yang mengerikan.

Thwap!

Pedang kayu Kelvin menghantam pangkal pedang kayu Adele. Sebuah pedang pun melesat dari cengkeraman pemiliknya, lalu jatuh ke lantai.

"Hah…?" (Kelvin)

Orang yang menatap tangannya yang kosong adalah Kelvin.

Sial, pikir Adele. Tapi sudah terlambat.
Sama dengan sihirnya dan seperti yang ia perbuat pada pegangan pintu sebelumnya, jelas kalau Dewa itu melakukan sesuatu pada kekuatan fisiknya. Tak peduli itu karena kesalahan, kesalahpahaman, ataupun sengaja, Adele tak bisa melakukan apa pun untuk mengubahnya.

Dalam kehidupan Adele hingga saat ini ia selalu bisa bertahan, hampir secara tidak sadar bertingkah sebagai gadis normal dengan kemampuan yang normal. Karena itu dia memerlukan waktu  beberapa hari setelah ingatannya kembali untuk menyadari kalau ada yang tidak beres.

Saat ini, jika Adele mengerahkan sedikit saja kekuatannya , bahkan tanpa disadari dampaknya akan sama sekali berbeda.
Sama halnya dengan persneling yang berpindah pada mobil matic, peningkatan hp juga menciptakan kenaikan  torsi.
(TN: hp itu Horse Power yah, btw maaf klo salah saya bukan bidangnya otomotif)

Apa yang akan terjadi jika kekuatan itu dialirkan ke dalam pedang kayu?
Biasanya ketika dua pedang saling berbenturan, kekuatan kedua pedang akan saling membatalkan. Namun apabila pedang lawannya lebih keras, seluruh akumulasi kekuatan akan dipantulkan kembali ke lengan si pengguna pedang itu.

Itu sama saja dengan memukul sebongkah besi, akibatnya kemungkinan besar lengan orang itu akan mengalami  keram, dan menyebabkan pedang terlepas. Inilah yang sebenarnya terjadi pada Kelvin.
"Pertandingan selesai!" Kata Burgess.

“T-tidak! Tanganku terpeleset! ”Kelvin memprotes ketika si guru memberi isyarat akhir pertandingan.

“Itukah yang akan kamu katakan ketika menjatuhkan pedang di medan perang? Apa kau akan bilang ke musuh, ‘Oh, tunggu sebentar! Tanganku terpeleset! Berikan aku waktu sebentar untuk mengambil pedangku? " Balas Burgess jengkel.

"Er ..." (Kelvin)

Tidak berjalan baik.

Bahkan Adele, yang tidak tahu apa-apa soal pedang pun yahu kalau ini bukan situasi yang menguntungkan. Dia, orang super pemula, mengalahkan seorang bocah lelaki yang percaya diri dan sangat kuat. Meskipun dia mengklaim itu adalah pertama kalinya menggunakan pedang ...
Ini tidak bagus. Sebagai "gadis normal," ini sama sekali tidak bagus.

“U-um! Aku masih bisa lanjut ... "kata Kelvin.

"Oh?" Burgess tampak tertarik ketika berbalik melihat Kelvin, yang diam-diam mengambil pedangnya.

"Apa yang akan kamu lakukan?" (Burgess)

Apa yang akan kulakukan? Adele bertanya-tanya. Jika menjatuhkan pedang, jelas dia akan ketahuan berpura-pura. Jadi ia harus menerima serangan itu.

Adele menyiapkan pedang untuk bertarung lagi.

Sikap Kelvin berubah, dan bentrokan pedang pun dimulai lagi.

Dia tidak punya cukup waktu untuk memulihkan tenaga, tapi begitu juga dengan lawannya. Mengingat perempuan itu kekuatan fisiknya lebih lemah, wajar saja kalau Adele akan sangat kelelahan. Dengan pemikiran itu, Kelvin berulang kali menyerang, namun Adele terus menangkis semuanya dengan presisi.

Pertandingan terus berlanjut dan Adele tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan, Kelvin pun mulai ga sabaran. Akibat serangan hebat itu, dia sudah mencapai batasnya. Kelvin bisa merasakan dirinya mulai lelah, cengkeraman pedangnya mulai melemah, dan napasnya jadi terengah-engah.

Kenapa? dia ngamok. Kenapa aku tidak bisa mendaratkan satu pukulan pun?! Melawan gadis ini — si pemula ini ?!

Kekalahan itu tak termaafkan — begitulah standar Kelvin.



***



Adele yang terus menahan setiap serangan Kelvin hampir secara refleksif, masih meratapi sulitnya mengalah secara wajar tanpa ada yang terluka.

Dia tidak mau dipukul pada tempat tanpa perlindungan, atau dibilang pada tempat yang kulitnya tipis atau lembut. Mengingat Adele tidak pernah goyah menghadapi serangan Kelvin sebelumnya, akan terlihat konyol apabila ia menjatuhkan pedangnya dengan santai. Adele teralihkan oleh kekhawatiran ini, sehingga tidak terpikirkan olehnya kalau kecepatan, kekuatan, dan daya tahannya saat ini benar-benar abnormal bagi anak usia sepuluh tahun normal. Atau fakta kalau Kelvin, yang lebih unggul dari siswa baru lainnya sudah mulai kelelahan.

Pertandingan terus berlanjut sampai ...

Sekarang!

Postur Kelvin pun hancur, dan ayunannya jadi jauh lebih lemah daripada sebelumnya. Saat melihat setiap kesempatan untuk kalah menghampirinya, Adele sengaja memperlambat gerakannya, memutar tubuhnya sedemikian rupa hingga memungkinkan pedang Kelvin menyerangnya tepat di tempat yang dilindingi kulit tebal.

Yang diperlukan hanyalah berpura-pura tidak sempat melindungi dirinya.
Dia menegangkan tubuh dan memejamkan matanya, bersiap menghadapi rasa sakit akibat pukulan itu.

…Hah?

Serangan itu tidak pernah datang, dan setelah beberapa saat Adele membuka matanya.

Terlihat Kelvin, wajahnya merah dan gemetar oleh amarah, dan di sebelahnya, Burgess-sensei dengan ekspresi datarnya mengatakan, "Sekarang kau sudah melakukannya."

"Berhentilah main-main denganku!" Kelvin berteriak, lalu melemparkan pedangnya ke lantai dan melangkah pergi.

Adele berdiri, rahang kendur, tidak mengerti.

"Kau tahu, Nak ... Kamu harus lebih memikirkan kebanggaan seorang pria," kata Burgess-sensei.
 Di belakangnya, siswa lain ikut mengangguk.

Apa yang terjadi? Apa itu salah Adele?

"Yah, begitulah" lanjut guru mereka.

 "Aku tidak menyalahkannya karena marah, jadi kurasa kita tidak akan menghukumnya karna bolos kelas ... kali ini. Sekarang, kalian semua berpasanganlah dan coba bertanding. " (Burgess)

Para siswa berpisah dan mulai berlatih, namun dengan perginya Kelvin meninggalkan jumlah ganjil, menyisakan Adele sendirian. Bahkan Marcela pun menghindari tatapannya.

Bagaimana ini bisa terjadi? Adele bertanya pada dirinya sendiri.

Gagang dari pedang kayu yang telah dicengkeramnya begitu lama sekarang membekas oleh jari-jarinya, menjadikannya tidak dapat digunakan lagi.



***


Hari pertama pelajaran sihir dan Adele bertekad untuk tidak mengacau seperti terakhir kali.
Di antara tiga puluh murid di kelas, sekitar enam dari mereka menunjukkan bakat sihir yang hebat, sementara sembilan lainnya mungkin akan mampu mencapai setidaknya level sihir sehari-hari. Secara keseluruhan, jumlah pengguna sihir berbakat sedikit lebih banyak dari biasanya, tapi ini tidak mengejutkan. Wajar apabila mereka yang bercita-cita menjadi penyihir hebat melakukan apa pun yang mereka bisa untuk masuk ke sekolah yang layak.

"Pertama-tama, kita bisa mencoba beberapa hal yang kalian pelajari di pelajaran kelas? Ingat, ini berlaku untuk kalian semua, akankah kalian bisa menggunakan sihir atau tidak. Memahami skill sihir, bahkan jika hanya secara teori pun akan berguna bagi kalian untuk ke depan. " (Guru)

Atas arahan guru mereka, Michella-sensei, para siswa mulai membaca mantra.
Di sebelah Adele, Trio Marcela melakukan yang baik.
Kemampuan Marcela ada di tingkat sehari-hari, sementara itu Monika dan Aureana sepertinya sama sekali tidak memiliki bakat sihir.

Biasanya, bakat pengguna sihir dinilai dari kekuatan yang bisa mereka hasilkan dengan mantra tunggal, berapa lama mereka bisa mempertahankan mantra itu, dan berapa banyak waktu yang mereka butuhkan untuk pulih sebelum mengulangi mantra.

Tidak peduli seberapa kuat mantra yang kau hasilkan, jika itu hanya bisa bertahan beberapa detik atau jika butuh jeda lama sebelum bisa menggunakan mantra itu lagi, kemampuanmu takkan terlalu berguna. Di sisi lain meskipun sihirnya lemah, mereka yang mampu mengucapkan mantra terus menerus dan cooldownnya cepat jauh lebih berguna.


Dengan kata lain contohnya seseorang hanya bisa mengeluarkan lima liter air, tapi bisa melakukannya tiga kali berturut-turut - atau seseorang hanya bisa mengerluarkan dua liter sekaligus, namun bisa pulih dalam satu jam – lebih dibutuhkan daripada seseorang yang bisa memanggil sepuluh liter hanya sekali sehari.

Sihir perang adalah satu-satunya jenis yang tergantung pada situasi, dimana pemula pun mungkin berguna. Namun ini pengecualian, bukan sebuah ketentuan.

Hmm?

Saat menyaksikan ketiga temannya melantunkan mantra, sesuatu yang aneh terjadi pada Adele. Namun, mereka sedang berada di kelas, jadi ia membuang pikiran itu dari benaknya — dia akan menghadapinya nanti.

Setelah mencoba mantra mereka, Ms. Michella yang merupakan tipe yang sempurna untuk seorang guru, mengizinkan semua orang mencoba menggunakan sihir, sementara mereka yang tidak bisa sihir memperhatikan dan “Membiasakan diri dengan fenomena tersebut. ”
Meskipun berhasil menggunakan sihir yang paling normal, saat kelas berakhir Adele merasa sedikit kecewa seolah-olah tujuannya telah gagal.

"Um, bisakah aku meminta sedikit waktumu setelah kelas berakhir?" Tanyanya pada Marcela, yang tidak bisa menolak permintaan tulus dari Adele dan langsung setuju.



***


Sepulang sekolah di hari yang sama ...

"Aku minta maaf membuatmu datang jauh-jauh ke sini." (Adele)

Adele membawa ketiga gadis itu ke hutan jalan setapak di luar gerbang utara ibukota.

"A-apa yang kita lakukan di tempat seperti ini?" (Marcela)

"Maaf. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengan kalian ... Tapi pertama-tama - bisakah kalian berjanji untuk merahasiakan semua ini? " (Adele)

"T-tentu saja, itu baik-baik saja." (Marcela)

Mengikuti pimpinan Marcela, Monika dan Aureana mengangguk tegas.

"Um, well." Adele memulai.
 "Tidakkah menurutmu cara kita semua menggunakan sihir itu aneh ...?" (Adele)

Ketiga gadis itu menatapnya, bingung.

"Um, well, ketika melihat semua orang di kelas, sepertinya mereka berkonsentrasi sangat keras pada mantranya ..." (Adele)

"Ya, ya," jawab Marcela.
 "Itu karena mantra adalah bagian terpenting dari menggunakan sihir ... bukan?" (Marcela)

"Tidak begitu," kata Adele.

"Hah?"

Ketiga gadis itu terkejoet.

"Mantra itu tidak lebih dari untuk membantumu membentuk gambaran sihir yang ingin kau wujudkan. Tidak masalah kata apapun yang digunakan, selama bisa membentuk gambarannya, kamu bisa menggunakan sihir mengucapkan sepatah mantra pun. Pernahkah kamu memperhatikan kalau orang menggunakan sihir itu tidak semuanya menggunakan mantra yang sama — dan beberapa bisa melakukannya diam-diam? " (Adele)

"I-Itu benar ..." Perlahan, Marcela mulai mengerti apa yang Adele maksud.

"Jujur," Adele melanjutkan,
 "yang paling penting adalah membentuk imajinasi yang kuat di kepalamu — gambaran sihir apa yang ingin kamu gunakan dan bagaimana kau ingin menggunakannya. Kemudian buat gambar itu terwujud secara nyata. Dalam hal mantra, yang kamu butuhkan hanyalah beberapa kata yang sesuai dengan imajinasimu. ” (Adele)

Mereka bertiga menatap kosong. Penjelasan sihir Adele tidak seperti apa pun yang pernah mereka dengar sebelumnya.

 "Beberapa kata?" Seru Marcela.
 “Aku belum pernah mendengar hal seperti itu! Bahkan dalam mantra tanpa suara, kami diajari bahwa kamu masih harus mengucapkan mantra sebelum melepaskan sihirnya. Apa yang kamu maksud dengan 'mewujudkan' itu? (Marcela)

Adele menjelaskan konsep mewujudkan gambaran pikiran. Ketiganya tampak skeptis.

"Dan soal gambarannya ... saat kamu ingin menciptakan air, bayangkan saja meremasnya dari udara, seperti meremas-remas handuk basah. Silakan, coba saja. ” (Adele)

Di antara mereka yang paling penasaran adalah Monika si putri pedagang, yang tidak bisa menggunakan sihir sama sekali. Dia adalah orang pertama yang mencobanya.

"Umm ... Air, air, ayo keluarlah, peras airnya dari langit!" (Monica) 

Splash..!

"Hah…?"

Sekitar sepuluh liter air mengalir ke depan Monika, membuat tanahnya jadi berlumpur. Monika, yang seharusnya tidak memiliki kekuatan sihir sama sekali! Dan sekarang dia mengeluarkan bukan hanya sihir dasar sehari-hari, namun sihir dari seseorang yang berbakat — dengan asumsi, tentunya ia memiliki level pengucapan mantra  dan waktu pemulihan seorang penyihir ahli. Dan jika diizinkan berlatih ...

"Tidak mungkin." Monika terperangah.

Ketika itu terjadi, sihir air memiliki banyak kegunaan untuk pedagang.

Manusia membutuhkan minimal dua liter air per hari. Ketika melakukan perjalanan di terik panas, tentu saja kebutuhannya menjadi lebih banyak. Di atas semua itu, seekor kuda butuh sampai tiga puluh atau empat puluh liter air per hari.
Misalnya, berapa banyak air yang harus dibawa oleh pengemudi kereta kuda dengan tiga penjaga untuk bertahan hidup dalam perjalanan dua puluh hari tanpa sumber air di sepanjang perjalanannya?

Jawabannya kira-kira 1.600 liter, atau 1,6 ton air. Dikombinasikan dengan makanan manusia dan kuda yang sudah cukup menyita ruang penyimpanan barang dagangannya.
Namun gimana kalau mereka punya penyihir yang bisa menghasilkan sepuluh liter air per jam? Itu adalah cerita yang berbeda.

Sebagai putri pedagang kelas menengah, Monika sudah memiliki sejumlah keunggulan. Sekarang di atas semua aset lainnya, dia adalah gadis menarik yang juga bisa berfungsi ganda sebagai tong air raksasa. Nilainya sebagai pedagang baru saja sangat meningkat.
Lebih penting lagi, meskipun dia memiliki kakak lelaki dan perempuan, kemungkinan dia berakhir sebagai wanita simpanan penguasa menurun secara dramatis. Paling tidak, dia kemungkinan besar akan bisa mendapatkan seorang lelaki kaya — atau, lebih baik lagi putra seorang pedagang kelas atas ...

"Tak bisa dipercaya ... ini tidak mungkin!" Monika berlutut.

Mendengar itu  Aureana berteriak, “A-air! Air yang diperas dari udara, tunjukkan dirimu di depanku! Aqua sphere, muncullah! "

Kata-kata itu terdengar seolah dia membacanya dari buku yang tidak dikenal.

Splash!

Tidak sebanyak air yang dikeluarkan Monika, tapi tetap saja, itu adalah sesuatu. Cukup sampai dia tidak perlu membawa kantung air, atau mengambil air dari sumur untuk memasak dan mandi.

"Ha! Aha ha ha ha! "

"I-Itu tidak bisa ..."

Marcela telah memperhatikan dua lainnya terdiam membisu, tapi begitu indranya kembali dia mencobanya mantra itu. Dia memang bisa menghasilkan air sejak awal. Dan sekarang ...

"O, air! diperas dari udara dan jadilah tombakku ...! Melesatlah, untuk menembus musuhku! ” (Marcela)

Splash…!

Semburan air menghantam pohon sepuluh meter jauhnya dan menimbulkan percikan.
Tidak cukup untuk menembus pohon, tapi bagaimanapun itu adalah mantra serangan yang bagus, setidaknya cukup untuk melumpuhkan musuh.

“A-aku berhasil! Mantra serangan! "Suara Marcela bergetar.

Sepuluh persen manusia memiliki bakat sihir yang diperlukan untuk menyajikan makanan di atas meja. Dari jumlah tersebut, sebagian besar berkerja di pemerintah, mengisi kembali persediaan air dan mengganti bahan bakar. Hanya satu dari beberapa lusin orang yang memiliki sihir untuk bertarung.

Tidak seperti sihir yang hanya memanipulasi air atau api, mantra bertarung memiliki sejumlah rintangan tambahan. Bukan hanya memproduksi zat tersebut, seseorang juga harus memadatkannya, menanamkan sihir dengan energi kinetik yang cukup untuk mendorongnya melesat dengan kekuatan dan kecepatan yang cukup.
Dan bagi mereka yang tidak memiliki pengetahuan akan kebenaran sihir, dibutuhkan bakat yang cukup untuk memujudkan imajinasi pikiran secara diam-diam, tanpa menggunakan mantra yang sesuai.

Orang-orang di dunia ini percaya bahwa dengan diucapkan ataupun tidak, kau memerlukan " Kekuatan Mantra" untuk menciptakan sihir, dan hasilnya lebih banyak dilakukan upaya untuk menyatukan kata-kata yang tepat daripada membentuk gambaran detailnya untuk mewujudkan sihir yang diinginkan. Ini berakibat pada sulitnya menghasilkan sihir secara terus menerus atau dengan cepat.

Daripada mengucapkan mantra yang mewujudkan suatu gambaran, mereka lebih percaya kalau kekuatannya terdapat dalam kata-kata itu sendiri, yang didengar dan diberitahukan oleh makhluk misterius. Dan tentu saja mantra ini bekerja sebagaimana mestinya, dengan demikian menegaskan keyakinan ini. Demikianlah mereka pun mengabdikan diri untuk meneliti mantra, tidak pernah berpikir kalau keberhasilan mantra itu mungkin dikarenakan faktor lain.

Soal sihir tempur, mereka yang bisa mewujudkannya memiliki salah satu dari dua kekuatan:
kemampuan membuat gambaran yang jelas atau konsentrasi pikiran; atau besarnya kekuatan untuk mewujudkan imajinasi. Dalam kedua kasus ini tidak ada proses di mana pengguna sihirnya terlibat secara sadar, alih-ali mengucapkan mantra, kekuatan bawah sadar merekalah yang memungkinkan mereka untuk berhasil di mana begitu banyak orang lai gagal melakukannya.
Dengan demikian, mereka yang bisa menggunakan sihir tempur itu sangat sedikit.

Dan sekarang, Marcela baru saja berhasil menggunakannya — dengan mudah.
Berapa banyak gadis cantik bangsawan yang bisa menambahkan itu ke dalam daftar pencapaian mereka?
Dengan Marcela sebagai istri, kau akan selalu memiliki pelindung di sampingmu, bahkan saat tidur sekalipun. Dan bakat itu mungkin akan diturunkan kepada anak cucu mereka.
Berapa banyak nilai yang dimiliki seseorang seperti itu di mata seorang bangsawan dengan musuh?
Marcela akan menerima banyak lamaran yang menguntungkan. Hampir dipastikan.
Masa depannya sebagai istri kedua dari om-om tua atau nyonya bangsawan berpengaruh lenyap dengan cepat dan jalan baru pun terbuka.

"(Nangis) Waaahhh ... "

Adele hanya berencana untuk membantu teman-temannya sebagai ucapan terima kasih kecil atas kebaikan kepadanya dan tidak pernah memikirkan perbedaan besar pengetahuan ini dalam kehidupan mereka. Ketika mereka menangis, dia menatap kebingungan.

Mungkin dia melakukan kesalahan?

"U-um, sebenarnya kita harus menjaga rahasia ini, jadi ... Lain kali saat latihan sihir, mungkin kalian bisa berpura-pura terkejoet gitu? Seperti ‘Whoa, bagaimana aku melakukan itu? Dan bisakah kamu mencoba, mungkin, untuk meninggalkan bagian ‘Peraslah dari udara’ di mantramu? Cukup bayangkan saja bagian itu di kepalamu daripada mengatakannya ... ” (Adele)

Akhirnya, ketika ketiga gadis itu lebih tenang, mereka mengerti persis apa yang dimaksudkannya.
Akan menjadi bencana jika rahasia ini untuk bocor. Jika mereka tahu bahwa perbedaan antara yang mampu menggunakan sihir dan yang tidak itu bisa diabaikan — juga fakta bahwa perbedaan itu dapat dihapuskan dengan sedikit usaha dan fakta bahwa kemampuan sihir bisa ditingkatkan dengan hanya beberapa teknik sederhana— akan ada kehebohan besar. Adele mungkin akan dipenjara karena mengatakan yang sebenarnya, disiksa untuk mendapat informasi oleh pihak kerajaan, atau lebih buruk lagi, dibunuh oleh ayahnya dan ibu tirinya yang cemburu karna menggagalkan rencana mereka ...

"T-tentu saja!" Marcela tergagap.
"Tidak ada bangsawan yang akan mengkhianati penyelamat mereka ... Tidak, teman mereka!" (Marcela)

"Tidak ada masa depan bagi pedagang yang merusak ikatannya!" (Monica)

"A-dan, dan ... seorang petani selalu menepati janjinya!" (Aureana)

"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha!" Mereka semua tertawa bersama.

Dua hari kemudian, saat latihan sihir, Michella-sensei sangat senang melihat bakat sihirketiga gadis itu tiba-tiba bangkit satu per satu. Itu jelas merupakan hasil dari didikannya yang baik.
Secara khusus ia menaruh minat pada Marcela, yang menunjukkan tingkat kemampuan mengesankan bahkan untuk penyihir dewasa. Tak lama kemudian, ketertarikannya pada Adele yang hanya bisa menggunakan sihir biasa pun menghilang.



***


Setahun dan dua bulan berlalu sejak mereka pertama kali memasuki akademi.
Selama masa ini, Adele yang sekarang adalah siswa tahun kedua telah berhasil menjalani kehidupan yang cukup damai tanpa menonjol dari teman-temannya. Kebanyakan teman sekelas mereka tetap di Kelas A setelah naik kelas — hanya segelintir yang dipindahkan ke kelas lain karena nilainya menurun.

Adele yang ulang tahunnya jatuh di awal tahun, sekarang berusia dua belas tahun.
Dalam waktu kurang lebih setahunan, dia telah mendapatkan 144 keping perak dari pekerjaannya di toko roti dan setengahnya disimpan di Item Boxnya. Kalau bukan berkat hadiah dari Marcela yang murah hati, ia mungkin tidak akan bisa menabung sebanyak ini. Bagaimanapun pakaian dalam biasanya mahal.

Sedangkan untuk tubuhnya, dada Adele tidak seterkenal itu pada saat usia dua belas tahun di kehidupan sebelumnya, tapi perlahan mulai tumbuh sedikit ...
Pakaian dalam yang diberikan Marcela padanya lebih dari setahun lalu termasuk beberapa kamisol dan bra, sampai baru-baru ini telah tertidur di dalam Item Box bersama pakaian bekas Adele dan koin peraknya.

Perhatian penuh yang ditunjukkan Marcela dalam memilih pakaian yang bagus membuat hati Adele sakit.

Adele pun unggul dalam bidang akademik. Dalam olahraga skillnya kurang, tapi kekuatan dan kecepatannya membuat ia menjadi pemain cadangan yang kuat. Dalam hal sihir, dia adalah seorang "Pemula berpotensi" yang sangat normal. Kecuali saat menciptakan bola api luar biasa yang dia lemparkan tanpa mantra selama penilaian awal.
Itulah kondisi  Adele di sekolah.

Di sisi lain, Marcela telah menjadi semacam bintang naik daun sejak sihirnya mulai berkembang pesat.
Begitu keluarganya mengetahui kemampuan itu, mereka mulai sering mengirim surat dengan saran seperti, "Jangan terburu-buru," dan, "Berhati-hatilah untuk hanya bergaul dengan mereka yang terbaik." Secara alami, mereka berharap untuk memastikan bahwa ia bisa melakukannya. memungkinkan pernikahan terbaik. Marcela sendiri mengatakan bahwa ia akan menunggu sampai pria yang tepat meluluhkan hatinya dan hanya menerima "Lebih dari sekedar pria yang luar biasa." 
Akibatnya, belum ada pembicaraan tentang pertunangan.

"Ini semua berkat kamu," katanya kepada Adele.
"Aku tidak akan pernah berpikir bahwa diriku memiliki kekuatan untuk memilih tunangan sendiri." (Marcela)

“Tidak, tidak, aku yang harus berterima kasih. Kamu satu-satunya yang bisa menarik perhatian anak-anak cowok itu dariku. " (Adele)

Marcela dan Adele saling menyeringai.

Segera setelah orang lain menyadari kecakapannya dalam sihir air, Monika juga mulai menerima lamaran dari anak-anak mitra dagang ayahnya dan seorang pegawai bisnis keluarga, seorang pemuda ambisius yang berharap dapat memulai usahanya sendiri.

Namun dia memilih untuk menunggu juga dan mengatakan,
 “Kehidupan seorang pedagang itu berisiko! Lima tahun dari sekarang tunanganku bisa saja bangkrut, dan kemudian apa yang akan kulakukan ?! ”Dalam hal ini pun Monika terlihat seperti putri seorang pedagang.

Sementara itu Aureana, setelah menerima beasiswa ia akan diminta untuk bekerja sebagai pegawai pemerintah atau guru di masa depan. Meskipun sihir yang bisa dia gunakan masih tak lebih dari sekedar "sehari-hari" yang cocok untuk pekerjaan rumah tangga dan tugas-tugas kecil lainnya, fakta bahwa bisa menggunakan sihir itu selalu membuatnya bahagia.
Takkan perlu khawatir soal air lagi karna bahkan kalaupun terdampar di suatu tempat, ia akan selalu bisa membuat cukup air untuk minum. Selain itu, Adele diam-diam mengajarinya cara menggunakan sihir untuk membuat airnya lebih dingin, yang juga sangat berguna.

Tentu saja sihir pendingin itu ada, tapi metode yang diajarkan Adele ke Aureana jauh lebih efisien. Bahkan dengan kemampuannya yang relatif rendah, ia bisa membuat minuman lebih dingin serta mengawetkan daging dan ikan. Semua itu sangat bermanfaat.



***


"Hei! Kalian sudah tahu, kan? "

"Kami tahu. Ini hari pertandingan. "

Pada tanggapan Adele, Kelvin yang telah mendekati gadis-gadis itu secara agresif beberapa saat sebelumnya berbalik dengan ekspresi datar.

"Tidak ada yang menghalangi itu, kan?" Tanya Marcela.

"Kurasa tidak ..." jawab Adele, senyumnya pahit.

Sejak latihan mereka di awal tahun pertama, sebulan sekali Kelvin menantang Adele. Dia bahkan membuat kesepakatan dengan Burgess-sensei untuk mengadakan latih tanding selama pelajaran pendidikan fisik, jadi tidak ada masalah soal waktu. Namun semua percobaan itu membuat Adele prihatin.

Adele paham kalau dia telah berjuang keras, dan bukan seolah-olah dia tidak mengerti perasaannya, tapi dia benci melihat tatapannya yang terbakar oleh permusuhan, atau wajahnya yang kosong dan tak bisa berkata apapun saat kalah . Mereka adalah teman sekelas, jadi Adele tahan bertahan dan menerima tantangannya setiap kali, tapi tentu ia tidak menikmatinya.

Selain hal itu, Kelvin tampak seperti anak laki-laki baik yang mudah bergaul dengan teman-teman sekelasnya. Adele sering bertanya-tanya kenapa dia memperlakukannya seperti itu, dan semakin lama dia merenungkan ini, semakin meningkat pula ketidaknyamanan itu.

Dia tidak bisa lagi sengaja mengalah, tidak setelah konseling pribadi yang panjang dari Burgess mengenai "kerapuhan manusia."

"Ayo, berhentilah berpura-pura!" Si Guru memberitahunya. "Jika kamu terus melakukan ini, dia pasti akan tahu.  Jujur, cobalah untuk mempertimbangkan keangkuhan pria itu ... " (Burgess)

Sulit untuk menatap mata Kelvin setiap kali pertarungan mereka berakhir.
Namun, nasihat Burgess-sensei tentang "sifat seorang lelaki" telah membantu Adele — memang sedikit membantunya.



***


Sudah waktunya untuk latih tanding.
Seperti biasa kelas dimulai dengan pertandingan Adele dan Kelvin, dan seperti biasa kemenangan memihak ke Adele.

Dalam hal skill Kelvin adalah yang terbaik, namun itu tidak berarti apa-apa di hadapan perbedaan besar antara mereka dalam hal kekuatan dan kecepatan.
Tentu saja kekuatan yang ditunjukkannya tidak seperti manusia super, tapi apabila Adele melepaskan "mode normalnya" —dengan kata lain, jumlah kekuatan yang diharapkan dari gadis seusianya — tidak mungkin ada anak laki-laki puber  yang bisa jadi tandingan Adele betapapun berbakatnya dia. Tidak, kecuali jika Adele sengaja mengalah.

Namun bukan karna Burgess-sensei mengatakan hal itu, tapi Adele yang saat ini telah dengan susah payah menyadari kekurangan skill aktingnya sendiri.

Ekspresi Kelvin yang tidak menyenangkan di hari itu, tatapan memelototi seperti yang selalu dilakukannya, Adele pun mulai gelisah. Kenapa dia harus menatap seperti itu? Dia tidak pernah melakukan sesuatu yang pantas mendapatkannya. Mereka telah melalui rutinitas ini setidaknya sepuluh kali sekarang, dan setiap kalinya dia selaluberekpresi begitu itu dan menatapnya. Kali ini, entah bagaimana dia terlihat penuh amarah — seolah kemarahan telah menumpuk di dalam dirinya dan meledak.

"Aku tidak akan bertarung lagi denganmu," katanya.
 "Kita akhiri ini!" (Alede)

"Hah…?"

Untuk sesaat, Kelvin menatapnya dengan tatapan kosong, seolah dia tidak bisa memahami kata-katanya. Kemudian, ia dipenuhi amarah dan wajah memerah.

"A-apa yang kamu bicarakan ?! Sampai aku mengalahkanmu, aku ... " (Kelvin)

“Tidak bisakah kau melihat betapa egoisnya itu ?! Apa hubungannya denganku? " (Adele)

Kelvin membuka mulutnya untuk menjawab, tetapi Adele memotong sebelum dia bisa mengucapkannya.

 "Setelah sekian lama, apakah kamu benar-benar akan puas dan berpikir, 'Oh ya, aku yang terkuat!' Setelah menang sekali saja? Jika kamu mendapat satu kemenangan dari dua belas kekalahan, apa kau benar-benar akan berhenti? Apa kau bodoh ?! ” (Adele)

"Ap ..." (Kelvin)

“Bagaimana, tepatnya, apa yang kamu dapat dari mengalahkanku? Dari mengalahkan seseorang yang bahkan tidak bertujuan menjadi seorang ksatria? Apa yang akan kau katakan pada mereka? Ya, benar, tiga tahun diriku di akademi dipenuhi dengan usaha untuk mengalahkan seorang gadis kecil yang bekerja di toko roti. Dan sekarang, gadis itu sedang bersiap untuk menjadi pengantin wanita. 'Apakah itu yang ingin kau ucapkan ?! " (Adele)

"Pfft!"

Sejumlah teman sekelas mereka tertawa terbahak-bahak. Bahkan Tuan Burgess harus menahan tawanya. Seorang guru yang PRO tidak boleh terlihat menertawakan hal seperti itu. Jelas tidak.

"Kau tahu kalau aku ini pengguna sihir, kan? Aku tidak ahli dengan pedang. Apa kau akan memberi tahu mereka soal itu juga? Dengan bangga mengumumkan, "Oh ya, aku melakukan empat belas pertandingan pedang dengan penyihir yang memakai pedang, dan pada percobaan kelima belas aku akhirnya bisa merebut kemenangan!" ?! " (Adele)

“Gaha! Bwah ha ha ha ha! ”Burgess yang PRO akhirnya menyerah.

"A-apa kau ...?" (Kelvin)

"Itu yang kamu lakukan, bukan ?! Kau tidak pernah sekalipun melawanku dengan sihir yang merupakan keahlianku, hanya menantang kami di bidang yang kau kuasai. Apa hebatnya mengalahkan penyihir dalam pertarungan pedang? " (Adele)

"Uh ..."

"Uh?"

"Uh-aku, aku ...... Waaaaaaaahhh!"

Kelvin berlari keluar.

"Adele, gadisku ..." Burgess-sensei tampak cemas.
"Bisakah kita mengobrol sebentar? Ada beberapa hal di dunia ini yang tidak boleh kau ucapkan kepada seseorang, tidak peduli seberapa benarnya dirimu ... " (Burgess)

Sisa jam pelajaran berubah menjadi ceramah Burgess yang lain untuk Adele tentang “Menjadi perhatian pada ego anak lelaki,” dan pada siswa lainnya juga.

"Jadi, salahkah aku?" Tanyanya.

"Aku tidak akan repot-repot menghukum Kelvin karna bolos. Diriku pasti tidak akan sanggup menanggungnya. ” (Burgess)

Semua orang di kelas mengangguk setuju dengan keputusan itu. Kecuali Adele.

"Setelah itu, hmm ..." Burgess menoleh ke Marcela dan teman-temannya.
 "Trio Macan, ikut aku." (Burgess)

“Trio Macan? Apa maksudnya kami? Apa itu…?"

Gadis-gadis itu terlihat bingung mendengar julukan baru mereka.

"Aah, maaf. Itu julukan kami untuk kalian. Orang biasa, anak perempuan pedagang, dan seorang bangsawan — meskipun berasal dari tiga latar belakang yang sangat berbeda, kalian bertiga bergaul dengan luar biasa. Lebih luar biasa lagi,kalian bertiga telah mengembangkan kemampuan sihir kalian. Sepertinya kalian menarik perhatian para roh sihir, atau sang dewi senang melihat persahabatan kalean. Jadi ya, Trio Macan, Trio Ajaib, Trio Penyihir... Kami punya banyak julukan untuk kalian bertiga. " (Burgess)

"Hah?" Ketiganya tertegun dan mulai memerah.

"Tapi bukan itu intinya. Ada seorang bocah lelaki tertentu yang perlu dihibur, dan aku ingin meminta bantuan dari Tiga Gadis terpopuler di kelas A, Ditambah Satu lagi. " (Burgess)

"Apa maksudnya?"

Ketiganya terkejut, tetapi melihat situasi Kelvin mereka tidak mungkin menolak.

"Kurasa kami harus — jika ada yang bisa kami lakukan untuk membantu ..."

Namun seperti yang diduga, ketiga gadis ini masih mengharapkan suatu balasan, bahkan jika tindakan mereka demi teman sekelas.

"Oh, baiklah," Burgess mengakui.
"Lain kali jika ada masalah, aku akan mengurusnya untukmu." (burgess)

"Itu janji kalau begitu. Dan ngomong-ngomong…"

"Hm? Apa itu?"(Burgess)

"Apa yang kamu maksud dengan 'plus satu'?"

"Oh, itu." (Burgess)

Dia menunjuk ke Adele.

 "Meskipun kurasa, untuk saat ini kita lebih baik menyingkirkan pelakunya dari sini." (Burgess)


***


Maka, seolah ketiga gadis itu telah melakukan semacam keajaiban, Kelvin datang untuk pelajaran sore.

Setelah kelas terakhir selesai dan guru meninggalkan kelas, ia mendekati kursi Adele.
Saat melihat ini, Adele mengernyitkan hidungnya, tahu ada masalah yang akan muncul.

Padahal kuharap dia sudah meninggalkanku sendiri!

"Aku tidak akan kalah! Aku, putra kelima dari Baron Bellium, dan atas namaku, aku ... " (Adele)

"Oh?" Suara rendah Adele bergema melalui ruang kelas yang sunyi. Kemarahannya mulai bangkit lagi begitu Kelvin mulai berbicara.

Saat itulah teman-teman sekelasnya tahu, pembicaraan panjang di pagi hari tentang perhatian terhadap perasaan Kelvin belum benar-benar meresap.

"Siapa kamu?" (Adele)

Suara terengah-engah bergema di sekitar ruang kelas, karena semua orang terkejut bersamaan dengan Kelvin.

"A-apa ...? Apa kau ...? ”Kelvin bingung tetapi berusaha menyelamatkan muka.

Adele mengabaikan ocehannya.

“Yang kulawan adalah seorang bocah lelaki bernama Kelvin, teman sekelas yang tidak peduli berapa kalipun kalah, ia terus memaksa menantangku terus. Orang yang kukalahkan terus-menerus, terlepas dari dendam misterius dan tatapan menyeramkannya.
Dan sekarang? Kau bukanlah orang yang disebut Kelvin, lawan dan teman sekelasku, orang yang terus berjuang dan ingin menjadi ksatria, kau adalah makhluk yang disebut 'putra kelima baron'? Ada urusan apa aku denganmu? " (Adele)

"Hah…?" (Kelvin)

"Apa itu 'putra kelima baron'? Apakah itu mengesankan? Apakah itu berarti sesuatu? Yang berarti menjadi penerus seorang bangsawan, dan leluhurmu melakukan sesuatu yang disukai raja. Meskipun sebelum itu mereka hanyalah petani biasa seperti yang lainnya.
Tentu, mungkin dia itu luar biasa, namun menjadi keturunan mereka tidaklah membuatmu istimewa. Atau apakah warna darahmu itu berbeda dari orang biasa? " (Adele)

Ada nafas terhirup saat teman-teman sekelas Adele dan Kelvin membeku oleh kritikan pedasnya.

"Um, sebenarnya, menjadi seorang bangsawan itu bukan berarti kamu terlahir sebagai seorang bangsawan," kata Kelvin.
 “Itu artinya kamu dilahirkan untuk menjadi bangsawan. Kamu dibesarkan dengan baik oleh orang tuamu, dididik sebagai seorang bangsawan, dan hatimu dipenuhi dengan semangat bangsawan — mewajibkan bangsawan, 'kewajiban bangsawan.” (Kelvin)

Waktu kembali berputar! Ruang kelas perlahan melega, tapi Adele melanjutkan.

 "Apa yang kau lakukan saat ini? Kamu belajar di antara rakyat jelata, kamu belum dilatih sebagai bangsawan, kau belum berkontribusi apa pun pada negara ini atau siapapun. Kau belum melakukan apa pun selain menikmati hasil pajak. Apa hakmu untuk mengakui diri sendiri?
Kamu pikir dirimu pantas disebut bangsawan, padahal kualifikasimu satu-satunya adalah nama keluarga istimewa itu? Sungguh? Dan kau mengambil kesempatan untuk membanggakan nama itu? " (Adele)

"Uh ..." (Kelvin)

Ini tidak berjalan dengan baik. Melihat Kelvin mundur ke sudut, para siswa mulai panik. Itu mulai terasa seperti pengulangan pagi itu.

"... Apakah hatimu terbakar?" (Adele)

"Huh ...?" Kelvin menatap kosong, tidak yakin apa yang ia maksud.

“Apakah semua hasrat yang kamu curahkan untuk berlatih tanding benar-benar murni dari keinginanmu sendiri? Atau apakah itu sesuatu yang harus kau lakukan untuk melindungi harga dirimu sebagai putra kelima bangsawan?
Apakah kamu bahkan menikmati latihanmu? Apa kau senang tumbuh jadi lebih kuat? Atau apakah itu sulit dan menyakitkan — apa kau harus memaksakan jalan hidupmu?
Dan ketika kau melakukannya, akankah hatimu menjadi gelap dan dingin? Atau akankah terbakar lebih panas dan lebih erang, dengan meyakini masa depan dimana kekuatanmu sendiri akan bersinar terang, terlepas dari nama keluargamu? " (Adele)

Kelvin terdiam, wajahnya kembali merah padam.

"Bagiku, kamu bukanlah seorang bangsawan atau 'putra kelima baron.' Kamu laki-laki, orang yang percaya pada kekuatannya sendiri, yang terus berlatih karena kemauannya sendiri, dan terus berjuang untuk meningkatkan dirinya sendiri , terlepas dari didikannya. Itulah yang kuyakini, dan itulah sebabnya aku selalu menerima tantanganmu.
Tahukah kau bahwa ada tempat di mana kata 'Kelvin' digunakan untuk mengukur suhu? Bukan dalam skala kecil yang menyenangkan, di mana air membeku pada nol derajat, dan mendidih pada 100 derajat." (Adele)

"Dan pada Kelvin, itu berarti 273 derajat di bawah nol. Itu adalah suhu di mana semua materi membeku — bahkan pergerakan waktu. Ini adalah skala mengerikan yang menetapkan titik itu sebagai nol derajat — atau sebagaimana mereka menyebutnya, 'nol mutlak.'
Kalaupun suhunya terlampau tinggi, mereka akan memberimu dunia yang bersinar terang di mana bahkan batu dan besi pun meleleh dan menguap!" (Adele)

Sambil membentak, Adele menunjuk jari ke Kelvin.

"Apakah dirimu seorang anak yang tidak berarti tanpa prestasi di luar posisimu sebagai 'putra kelima baron'? Atau apakah dirmu seorang pria yang hidup tanpa nama keluarga itu, yang memiliki hati yang membara dan jiwa yang bersinar dengan cahaya yang cemerlang — 'Kelvin, sang Inferno' ?! ” (Adele)








"Uh — aku ... aku ..." (Kelvin)

Melihat mata Kelvin yang mulai berkaca-kaca, Adele tersentak kembali ke akal sehatnya. Dia melihat sekeliling dimana teman-teman sekelasnya menatap dengan kagum, seolah-olah mereka baru saja menyaksikan sesuatu yang luar biasa.

Oh sayang. Apakah dia sudah berlebihan?

Dengan bingung, Adele memandang Marcela, namun Marcela hanya mengangkat bahu dan menunjuk ke pintu tanpa kata.

Mengikuti saran singkat yang mengagumkan itu, Adele bergegas keluar dari ruangan.



***


Keesokan harinya, Adele dengan mali-malu memasuki kelas dan menemukan suasana tenang yang tak terduga. Siswa-siswa lain menyambut Adele dengan normal, seperti yang selalu mereka lakukan.

Dia merasa lega.
Namun, bagian yang aneh datang setelahnya.

Bukan hal yang buruk.
Hanya saja semua orang tampak menunjukkan usaha yang luar biasa.

Selama belajar di kelas, selama latihan fisik, selama latihan sihir ...

Mereka belajar dengan antusias dan mengajukan pertanyaan yang produktif. Usaha para siswa bangsawan terlihat jelas.

Ini adalah hal yang baik tentunya. Namun, sikap mereka benar-benar berbeda dari sebelumnya. Adele sangat bingung akan hal itu.

Bahkan Kelvin anehnya bersikap tenang dan tampak biasa saja saat mereka mengikuti pelajaran. Tidak ada sedikitpun cemas ataupun kegelisahan yang ia tunjukkan seperti selama setahun terakhir.
Burgess-sensei yakin bahwa ini berkat upaya ketiga gadis itu, gosip pun menyebar di antara para guru bahwa mereka ketiga itu sangat berguna. Semakin banyak guru mulai mengajukan berbagai permintaan kepada mereka sampai mulai sedikit mengganggu.

Adele yang polos pun mengomentari perubahan situasinya.

"Kau tahu, Marcela ... Sebelumnya kamu sudah berhasil menarik perhatian semua anak laki-laki, tapi belakangan ini sepertinya mulai berbalik lagi ke arahku, bukan?" (Adele)

Marcela mengangkat bahu dan menjawab, "Adele-sama, apakah engkau pernah mendengar ungkapan 'Kau menuai apa yang kau tabur' ...?" (Marcela)




Sebelumnya             Daftar Isi             Selanjutnya

1 Comments

Post a Comment