Novel Si penjahat, Membawa Kehancuran dengan Senjata Modernnya chapter 7





Chapter 7   Si Penjahat Membaca Makalah Akademinya



"Wolf-sensei, Wolf-sensei" (Astrid)

Setelah menguasai dasar-dasar Sihir Elemen, sekarang aku mempelajari penerapan Sihir Darah. Sihir Ini bisa menyembuhkan atau malah melukai. Diriku bertanya-tanya apakah tak masalah mengajarkan sihir yang dapat melukai orang lain ...


Tetapi aku tertarik akan hal itu.

Sihir Darah memungkinkan untuk mengotak-atik otakku ini secepatnya, walaupun masih banyak pertanyaan mengenai fundamentalnya.

"Ada apa, Astrid-sama?" (Wolf)

"Bisakah sensei mengontrol mana yang dituangkan ke dalam suatu benda?" (Astrid)

Itu benar, aku ingin tahu soal kontrol aliran mana.

Versi awal dari senjata yang kubuat mengharuskan untuk memasukkan mana yang sesuai ke dalam silinder agar tidak meledak, namun metode ini menyebalkan dan berbahaya. Akan lebih mudah jika mana yang kutuangkan bisa dibatasi untuk mengalir hanya ke amunisi saja. "

"Hmm, itu tidaklah mustahil. Mudahnya, dengan Sihir darah Anda bisa merasakan aliran mana dalam tubuh Anda, bukan? Jadi dengan metode yang sama, mengendalikan mana yang dituangkan ke dalam objek bukan tidak mungkin dilakukan, begitulah teorinya. ” (Wolf)

“Teori? Jadi belum ada yang benar-benar mengimplementasikannya? ” (Astrid)

Aku jadi tertarik dengan apa yang ia bicarakan.

“Ya. Beberapa tahun yang lalu para ilmuwan menerbitkan sebuah makalah, di dalamnya tertulis bahwa seseorang dengan jumlah Mana yang stabil mampu menuangkan jumlah Mana tetap ke suatu objek dan mengendalikannya. ” (Wolf)

 "Hoho! Sangat menarik! " (Astrid)

Jadi ada cara untuk mengendalikannya.

"Akan tetapi perbedaan antara mana yang dimiliki dan kapasitas mana yang dapat dikontrol sangat besar dan memiliki hambatan, sehingga jauh dari praktis." (Wolf)

"Eh? Perbedaanna jauh? ” (Astrid)

Itu benar. Jika bisa digunakan secara praktis maka Wolf-sensei sudah mengajariku dari tadi.

“Patokannya ada di 500 kali lipat. Misalkan penelitian menemukan bahwa seseorang dengan mana 100 poin dapat mengendalikan 0,2 mananya. Ngomong-ngomong, kalau dihitung mantra percikan batu api akan memakan 10 MP. ” (Wolf)

"Kamu tidak bisa bekerja dengan itu, kan ...?" (Astrid)

Hmmm.

Aku ingin tahu apa yang salah dengan itu.

“Ngomong-ngomong, bolehkah aku membaca makalah itu?” (Astrid)

"Anda boleh membacanya, tapi saya pikir akan ada banyak poin yang tidak Anda mengerti, Astrid-sama" (Wolf)

Saat aku menanyainya, ekspresi Wolf-sensei terlihat gelisah.

“Kumohon! Aku ingin mengontrol mana yang dimasukkan ke dalam objek gimanapun caranya! " (Astrid)

“Saya mengerti. Jika Anda segitunya menginginkan makalah itu, saya akan bawakan saat pelajaran berikutnya. " (Wolf)

Yaay! Wolf-sensei, aku sayang kamu!

"Ngomong-ngomong, saya dengar anda menangkap beberapa pencuri ternak?" (Wolf)

"Eh? Tidak, uhm ... kejadiannya baru saja ... " (Astrid)

Tepat saat aku menikmati sinar kebahagiaan, Wolf-sensei menanyakan hal yang tak ingin kuingat lagi.

“Duke-sama menanyakannya karena dia pikir itu karena diriku, tetapi apa yang saya ajarkan harusnya takkan bisa sampai seperti itu. Sungguh, apa yang anda lakukan saat itu? ” (Wolf)

Aku gak bisa bilang. Seharusnya aku merahasiakan soal senjata api. Maid-san hanya menyebutnya sebagai alat yang mengeluarkan suara keras, tapi jika itu adalah Wolf-sensei, dia akan paham maksudnya, dan kalau begitu, janjiku dengan paman Gnome akan teringkari ...

"Y-yah, aku memperkuat tubuhku dengan Sihir Darah, dan kebetulan itu terjadi atau sesuatu ... kau tahulah, semacam itu!" (Astrid)

"Apa mungkin Sihir Darah yang saya ajarkan kepada Anda sampai mampu mengalahkan 5 pria bersenjata? Bahkan saya merasa ada sesuatu yang disembunyikan. "

Urk! Ketahuan! Pasti ketahuan!

“Tidak, aku menggunakan Sihir elemen, kurasa! Aku menciptakan beberapa batu dengan Roh tanah, membariskan lalu melemparkannya ke orang-orang bersenjata! Sungguh ajaib bukan? " (Astrid)

Aku terus beralasan karena panik, mencoba menyelesaikan adegan ini.

“Saya mengerti. Anda pernah berbicara dengan roh bumi, jadi saya menerima penjelasan itu untuk saat ini. Kalau saatnya tiba, tolong katakanlah yang sebenarnya. Saya juga tidak keberatan kalau Anda menjelaskannya dalam esay. " (Wolf)

"Uh, uhm, yang kukatakan tadi itu memang beneran, tahu?" (Astrid)

Aku senang Wolf-sensei tidak terlalu gigih ...

“Baiklah, aku akan membawa makalah tentang pengendalian mana dalam suatu objek saat pelajaran berikutnya. Apa Anda membutuhkan yang lain? " (Wolf)

"Mari kita lihat ... Kalau sensei punya lebih banyak buku mengenai Sihir Darah, kalau bisa dibawa juga. Aku sudah membaca dan memahami bab pengenalannya, jadi aku mau membaca bab pengaplikasian praktis untuk persiapan kelas berikutnya. " (Astrid)

Tanpa sihir darah, tak peduli seberapa banyak senjata modern dibuat, aku tidak akan bisa menggunakannya. Aku bisa saja terus melatih ototku, namun katanya kalau mulai jadi binaraga sejak usia muda, kau akan berhenti tambah tinggi, jadi ...

(TN: Loli selamanya, Yeeay!)

Yah, memiliki kekuatan fisik tanpa bergantung Sihir Darah itu juga cukup penting kan? Mungkin akan bagus jika Earhart bisa mengajariku mengenai pertarungan di medan perang.

" Kalau dilihat dari ekspresi itu, anda sedang memikirkan sesuatu kan?" (Wolf)

"Ehehe, hanya sedikit, soal masa depan." (Astrid)

Sementara Wolf-sensei tersenyum pahit, aku ikut senyum sambil menyembunyikan rasa maluku.

Di lain sisi, aku bertanya-tanya gadis seperti apa Astrid itu aslinya. Saat game dimulai Astrid sudah SMP, jadi aku tak tahu bagaimana dirinya ketika masih kecil.

Misalnya dia arogan dalam game, tapi tiba-tiba jadi jinak sekarang.

Karna berbakat dalam sihir, pergaulan akan membuat dia emosian dan jadi sombong lalu menjadi seseorang dengan kepribadian semacam itu. Mungkin saja, bukan? Maksudnya manaku ini cukup menakjubkan. Dengan kekuatan ini, normal saja kalau seseorang akan menjadi populer dan karenanya menjadi sombong.

Untuk memastikan driku tak jadi seperti itu, aku harus mempertahankan kepolosanku ini dan memahami batasannya. Jadilah diriku sendiri!

Dirikuu sedikit lebih berkembang sejak bisa mengalahkan pencuri ternak, tapi itu berkat Wolf-sensei yang mengajariku dan paman Gnome.

Jangan tergesa-gesa; jangan sombong.

Kau harus menjalani hidup dengan rendah hati, atau sesuatu seperti itu.



-----------------------------------



"Susah sekali ..." (Astrid)

Keesokan harinya, aku diberi makalah oleh Wolf-sensei, tapi isinya sangat sulit dipahami. Aku sudah mempelajari ilmu sosial, namun makalah ini menyajikan rumus angka, grafik, dan symbol-simbol yang tak kumengerti. Pukulan langsung ke otakku!

Bagaikan ... Tak bisa dimengerti, tapi aku terus membacanya berulang-ulang seolah mencoba membobolnya. Namun aku penasaran, apa hanya aku atau semakin dibaca semakin tak bisa dipahami? Aku yakin itu hanya perasaanku saja.

Untungnya aku sudah mendengar ringkasan makalah ini dari Wolf-sensei, jadi aku bisa membayangkan apa isinya. Mana yang bisa dikontrol hanyalah 1/500 dari mana yang kau miliki. Kamu tidak bisa mengendalikan lebih dari itu.

AKu, secara pribadi ingin membaca dan memahami isi makalah ini untuk mencari tahu apa penyebab batasan ini dan menemukan komponen untuk melepasnya, tapi  seharusnya aku tidak meremehkan hasil penelitian bersama tiga profesor Akademi sihir Saint Satanaquia; AKu tidak bisa begitu saja membalikkan hasil penelitian itu dengan mudah ... meskipun hanya mampu memindahkan 1/500 mana takkan ada gunanya bagiku ...

Oh benar! Mari coba kita pikirkan alasan Orihalcon tidak bisa mengalirkan mana.

Orihalcon digunakan sebagai isolator mana total. Kau tidak bisa membuat Orihalcon dengan sihir ataupun mengubahnya.

Dengan itu, aku berhipotesis bahwa mungkin ada perbedaan dalam konduktivitas dan kontrol mana tergantung pada substansinya. Seperti menuangkan air di atas kertas, namun mungkin bisa dilakukan atau dikontrol lebih baik pada logam seperti baja.

Apa yang harus kulakukan? Aku mungkin bisa membuat terobosan abad ini ...

Sementara memikirkan ide amatir itu, seseorang mengetuk pintu.

"Ojou-sama, anda masih bangun?" (Pelayan)

"Ya, aku mau baca makalah ini sedikit lagi sebelum tidur." (Astrid)

Maid-san yang masuk tercengang, sementara aku hanya melambaikan tangan.

"Haruskah saya menyiapkan teh?" (Astrid)

"Boleh, terima kasih!" (Astrid)

Pelayan di rumah kami pada baik dan bijaksana. Maksudku, kalau tidak begitu, mana mau mereka menemani saat aku menguji senjata kan?

“Tehnya, Ojou-sama.  Ini adalah teh Herbal Serai untuk membantu Anda tidur lebih nyenyak. ” (Pelayan)

“Terima kasih! Kalau bisa boleh aku minta biskuit juga ...? ” (Astrid)

"Tapi kalau makan sebelum tidur, berat badan Anda akan bertambah." (Pelayan)

Selain baik dan bijaksana, para Maid-san  rumah kami ini juga sama ketatnya.

"Bagaimanapun Ojou-sama, Anda benar-benar telah banyak berubah ... Saya menyesali bahwa Anda menjadi kurang patuh, bahkan kepada tuan dan nyonya. " (Pelayan)

"Eh? Apa begitu?" (Astrid)

Tahan. Aku mencoba jadi Astrid yang lebih baik dari saat di game, tapi bukankah aku malah lebih nakal?

“Begitulah. Dulu anda selalu mematuhi tuan dan tak pernah terlibat masalah, tapi tiba-tiba anda mulai ingin belajar sihir, dan akhirnya menangkap beberapa pencuri ternak ... " (Pelayan)

Maid-san terus menatapku .

... Aku berpikir untuk menjadi putri Duke yang lebih hebat, tetapi berakhir seperti ini yah…

Kalau begini sebelum mendapatkan bad ending karakter penjahat, aku mungkin akan mendapatkan Bad ending sebagai putri Duke. Jika diusir dari rumah saat ini maka aku akan bermasalah. Sangat bermasalah.

"A-Apa ada saran untuk memperbaiki suasana hati ayah dan ibu?" (Astrid)

"Coba saya pikirkan, mula-mula saya akan merekomendasikan anda tidak begadang. Begadang tidak baik untuk kesehatan Anda. Juga, tolong jangan terlalu terobsesi oleh sihir lalu mengabaikan tuan dan nyonya. Saya yakin tuan dan nyonya juga ingin membuat kenangan indah bersama putri mereka yang imut. ” (Pelayan)

Cukup adil. Aku tak punya apapun untuk membalasnya.

Setelah sarapan, aku biasanya segera kembali ke kamar dan membaca buku-buku yang dipinjamkan Wolf-sensei… Setelah makan siang biasanya aku langsung pergi ke pintu depan, nyantai dan menunggu Wolf-sensei datang, lalu mulai pelajaran ... Di malam hari aku melakukan uji menembak ... dan setelah makan malam aku lanjut membaca buku. Bilas dan ulangi lagi.

Aku hampir tidak memiliki kenangan saat berbincang dengan orang tuaku!

Ini buruk, sangat buruk.

Bisakah ini mengarah pada krisis kehancuran keluarga? Kalau aku jadi orang tua, jika anakku mengabaikanku sampai sejauh ini, diriku akan menangis. Mungkin aku akan menemukan pertanyaan di forum internet yang mengebutkan sesuatu seperti “Anakku yang berusia 4 tahun terus mengabaikan diriku, apa yang harus kulakukan?”

Daripada itu, apabila ayah tidak mengakuiku, menghentikan ajaran Wolf-sensei, aku tidak bisa mendaftar ke akademi! Diriku akan berakhir, kau tahu!

"Aku harus melakukan sesuatu soal ini, kalau tidak maka akan jadi buruk, ya?" (Astrid)

"Ya, itu akan berakibat buruk." (Pelayan)

Pembantu-san mengangguk atas apa yang kukatakan.

"Yosh! Astrid ini akan merubah perilakunya mulai besok lalu menghibur ibu dan ayah! " (Astrid)

"Itulah semangatnya Ojou-sama. Namun daripada besok, kenapa Anda tidak mulai hari ini saja? Hari sudah berganti, anda tahu? ” (Pelayan)

Aku begadang lagi...




Sebelumnya          Daftar Isi         Selanjutnya

Post a Comment