Novel Si penjahat, Membawa Kehancuran dengan Senjata Modernnya chapter 8





Chapter 8   Si penjahat Ingin Menghibur Orang Tuanya



"Ayah," (Astrid)

Pagi ini aku memutuskan untuk merubah perilakuku. Kami sedang sarapan saat ini.

"Ada apa, Astrid? Aku tidak akan mendengarkan keegoisan sihirmu lagi, mengerti? " (Ayah)

Ugh ... Aku diperlakukan seperti anak bandel. Kukira diriku menuai apa yang kutabur.

"Tidak, bukan soal sihir. Ini menyangkut ibu dan ayah. " (Astrid)


"Hoo, apa itu?" (Astrid)

Ini pertanda baik melihat ada sedikit minat di wajah ayah. Ibu, di sisi lain ... masih penuh dengan senyum oriental; Aku tak bisa memahami emosinya. Ada kalanya aku tak tahu apa yang ia pikirkan. Agak menakutkan.

“Baru-baru ini aku sering menyibukkan diri dengan sihir, dan melupakan hal-hal yang paling penting. Orang yang membayar gaji Wolf-sensei adalah ayah, dan di masa depan ketika aku mendaftar di akademi, ayah juga akan menjadi orang yang membayar uang sekolah. Alasan diriku dapat hidup dengan nyaman saat ini juga berkat ayah dan ibu. ” (Astrid)

Aku berkata demikian, dengan wajah yang menunjukkan rasa bersalah akan hal itu ketika mengerutkan alisku.

“Meskipun begitu, aku tidak melakukan apapun selain belajar sihir dan aku bahkan belum bicara dengan ayah atau ngobrol dengan ibu. Aku menyesali itu. " (Astrid)

"Begitukah, begitu ya, aku bersyukur kalau kamu menyadarinya." (Ayah)

Ayah adalah orang yang cukup sederhana. Kalau ibu ... Aku tidak tahu.

"Itulah sebabnya, saat ayah libur nanti, bolehkah kita menghabiskan waktu bersama? Aku ingin menghabiskan waktu bersama ibu dan ayah! " (Astrid)

“Hari libur berikutnya, yah. Aku punya rencana pergi berburu dengan para menteri ... " (Ayah)

Berburu! Beneran?!

"Kalau gitu, izinkan aku untuk ikut! Aku juga mau coba berburu! " (Astrid)

"Kenapa kamu segirang itu? Setengah waktunya akan membosankan karna kita Cuma ngobrol saja, kau tahu? " (Ayah)

Berburu! Alasan ku pergi tentu saja untuk menembak! Tentu saja aku akan bersimpati pada hewan yang menjadi targetku. Aku punya pengalaman bertahan hidup di luar rumah sejak berada di klub kegiatan luar ruangan saat sekolah, aku bisa membedah kelinci atau ayam, memasaknya dengan benar, dan mengadakan upacara kematian untuk mereka.

"Kalau bisa menghabiskan waktu bersama ayah, maka aku gak keberatan!" (Astrid)

“B-Begitukah. Bagaimana menurutmu, Louise? Kamu mau ikut?" (Ayah)

Aku tak boleh lupa. Aku kan ingin menghibur ibu dan ayah.

“Baiklah, aku ikut. Aku bisa menikmati waktu dengan minum teh bersama para menteri wanita. "

Mantap. Ibu juga ikut.

"Kalau begitu kamu harus menyiapkan kuda, ya? Yang lebih kecil akan lebih memudahkanmu menaikinya. Kamu mau memilihnya sendiri? " (Ayah)

"Kalau boleh aku mau memilihnya bareng ayah." (Astrid)

Aku harus menggunakan daya tarik putri kecil nan imut ini.

“Baiklah! Kita pergi sore ini. Mari kita cari kuda yang bagus di peternakan. Aku yakin kita bisa menemukan yang cocok. Aku menantikan itu." (Ayah)

"Ya, aku juga menantikannya." (Astrid)

Aku lebih suka mengendarai LAV atau Humvee. Aku akan cukup senang mendapatkan ATV. Tapi bukan itu yang akan terjadi.

(TN: LAV itu kepanjangan Light-Armored Vehicle, sedangkan Humvee /HMMWV adalah High Mobility Multipurpose Wheeled Vehicle)

Dan setelah ini dan itu, kami pun pergi berburu.

Malam ini kau tidak akan melakukan uji tembak dan sebagai gantinya memilih kuda bareng ayah.

Akhirnya kami memilih kuda poni kecil. Ini adalah kuda kecil yang biasa dikendarai anak usia 4 tahun.

Jadi kucoba mengendarainya, tapi ...

"Ayah! Ayah! Si kecil ini berusaha menjatuhkanku! ” (Astrid)

“Berusahalah! Jika bisa mengendalikannya, dia akan mematuhimu! " (Ayah)

Sepertinya kuda yang kunaiki sedang gelisah.

"Jika begini caramu bermain maka aku akan menggunakan Sihir Darah!" (Astrid)

Aku meningkatkan kekuatan dengan Sihir Darah, terus mencengkeram kuda yang mengamuk. Namun membalas yang kulakukan, kuda poni mengamuk lebih kuat lagi. Terus menerus, berulang-ulang.

"Ayah! Mungkinkah kuda bisa merasakan Sihir Darah !? ” (Astrid)

"Kuda yang tak terbiasa dengan sihir bisa saja terkejut!" (Ayah)

Hiee !! Kuharap ayah memberitahuku lebih dini!

"Hah, maaf tapi sihir darahku jauh lebih kuat daripada amukanmu!" (Astrid)

Aku meningkatkan Sihir Darahku sampai MAXIMUM OVERDRIVE dan terus menekan amarah kuda itu.

Kuda poni akhirnya menyadari bahwa usahanya takkan membuatku jatuh, jadi amukannya perlahan mereda. Fufun ~ tidak bisa mengalahkanku, ya? Memerangi kekerasan dengan kekerasan itu hal yang luar biasa.

Aku akan menahan diri sebelum jadi terlalu sombong.

"Dengan begini dia akan menjadi kudamu. Kamu harus memberinya nama. " (Ayah)

"Baiklah, Umatarou." (Astrid)

 "U-Umatarou?" (Ayah)

Aku mengendarai Umatarou selama dua putaran mengelilingi peternakan.

“Tidak buruk. Mengendarai kuda tidak buruk sama sekali. Melewati jalan yang tidak rata seperti di pegunungan Afghanistan akan lebih mudah dengan seekor kuda. Kudengar beberapa operasi Angkatan Darat AS juga menggunakan kuda. " (Astrid)

Diriku merasa seperti salah satu dari spec-ops yang mengendarai kuda.

“Sudah cukup, bukan? Ayo pulang sebelum sekelompok pencuri ternak dating lagi." (Ayah)

Sejak hari itu, para ksatria dan bahkan manajer peternakan berpatroli di peternakan dan daerah sekitarnya. Kami hampir aman, walaupun Ayah masih waspada.

"Ayah, aku menantikan perburuan kita." (Astrid)

“Ya. Ini adalah kesempatan bagiku untuk memamerkan pada para menteri putriku yang berharga ini. " (Ayah)

Bagus, aku mendapat love poin dari ayah!

Aku akan terus berperilaku seperti ini sehingga tidak akan diusir dari kediaman Duke.



______________________________



Hari ini adalah hari yang dinantikan.

Setelah memastikan shotgun tersandang di punggungku beserta sheel  dan peluru karetnya, aku berlari keluar dari pintu depan.

“Oh, ini dia. Aku sudah menunggumu." (Ayah)

“Maaf sudah menunggu. Persiapanku membutuhkan waktu.” (Astrid)

Ayah dan beberapa orang lain sedang menunggu di luar di atas kudanya, sementara ibu sedang naik kereta bersama beberapa pelayan menuju ke tempat berburu.

"Lokasi perburuannya jauh yah?" (Astrid)

"Sekitar 3 jam perjalanan. Seharusnya tidak sejauh itu. Kumu bisa menunggangi kuda atau naik kereta saja. ” (Ayah)

Apa yang harus kulakukan? Kudengar jika naik kuda dalam waktu lama akan membuat pantatmu sakit, jadi ada alasan untuk memilih naik kereta, namun karna karna baru saja belajar cara menunggang kuda, maka takkan seburuk kalau naik Umatarou.

"Kalau gitu, aku akan menunggangi kudaku sampai pertengahan jalan, lalu naik kereta sampai tujuan." (Astrid)

“Ide bagus. Lebih baik kamu mengendarainya sedikit demi sedikit sampai mahir. Kamu harus terus berlatih menunggang kuda. Bagaimanapun kamu kan putri Duke. " (Ayah)

Ayah selalu bilang kalau aku terlalu muda untuk belajar sihir, tapi kalau nunggang kuda gak masalah? Aku gak ngerti standarnya.

"Baiklah, ayo kita berangkat berburu ayah!" (Astrid)

"Ya, ayo berangkat." (Ayah)

Dengan begitu, kami pun berangkat menuju tempat berburu.

... dan begitulah, 30 menit kemudian,

"Pantatku sakit ......" (Astrid)

Aku menunggang kuda selama 10 menit saat di peternakan, namun sekarang sudah 30 menit berlalu.

Pantatku kesemutan dan sakit. Ngomong-ngomong, aku ingat spec-ops juga bilang kalau pantat mereka sakit setelah naik kuda. Ngomong-ngomong pantatku sengsara sekali. Aku tak bisa. Aku tak mau melakukan ini lagi.

"Ayah-ayah, boleh aku pindah ke kereta?" (Astrid)

“Ya, aku tak keberatan. Kamu akan lelah kalau belum terbiasa menunggang kuda. Kamu sudah melakukannya dengan baik selama 30 menit ini. Bagus sekali, Astrid. ” (Astrid)

Oh Apa tiba-tiba saja aku mencetak beberapa poin lagi? Mantap jiwa!

Atau begitulah yang kupikirkan sambil pindah ke kereta. Kereta cantik yang biasa digunakan ketika anggota keluarga Duke pergi ke suatu tempat jauh. Interiornya mendetail dan kursinya empuk. Aku merasa seperti kursi ini menyembuhkan pantatku yang telah terluka oleh kuda ...

"Astrid, kenapa kamu mau ikut Paulus pergi berburu?" (Ibu)

Ibu tiba-tiba mengajukan pertanyaan itu padaku sambil merajut.

“Yah, baru-baru ini aku berpikir kalau tidak baik kalau jarang ngobrol dengan ibu dan ayah. Aku ini tipe orang yang terlalu asyik dalam melakukan sesuatu, namun terkadang kupikir meluangkan waktu untuk hal seperti ini juga penting. Ibu masih duduk di sana dengan senyum orientalnya, jadi aku tak tahu apa yang ia pikirkan.” (Astrid)

"Kamu cukup cerdik, Astrid. Biasanya kami orang tua yang harus angkat bicara lebih dulu, namun ternyata kamu mendahului kami. Ibu lega kamu bisa jadi lebih mandiri. " (Ibu)

"Ehehe ..." (Astrid)

Menilai dari tanggapan ibu, sepertinya aku berhasil. Tentu saja aku juga harus mendapatkan beberapa poin favorit dari ibu.
(TN: Yang main Eroge/ Otome game pasti paham maksud dari poin itu)

"Namun, bukankah alasanmu sebenarnya untuk menguji benda itu di punggungmu itu?" (Ibu)

"Urk !?" (Astrid)

Tanpa sadar aku mengerang.

"Para pelayan mengatakan bahwa itu adalah benda yang membuat suara nyaring, tapi kamu membawanya di hari kamu menangkap pencuri ternak itu. Kamu menangkapnya dengan itu kan? ” (Astrid)

"Ah, um ... Ini benar-benar hanya alat sihir untuk membuat suara nyaring bu!" (Astrid)

 “Benarkah begitu? Si pelayan bilang kamu memintanya  tidak berada di depanmu karna apa yang keluar dari benda itu berbahaya. Sesuatu terbang keluar dari lubang bundar itu, bukan? ” (Ibu)

Ini buruk. Ibu sangatlah jeli.

"Aku sudah janji pada paman Gnome, jadi aku tidak bisa memberitahu siapa pun meskipun itu ibu! Maafkan aku!" (Astrid)

Saat kehabisan alasan, aku memutuskan bilang ke ibu kalau aku gak boleh memberitahunya.

"Jadi itu benda berbahaya yang bahkan sampai diperingati oleh roh, ya?" (Ibu)

Dia mengatakan itu tanpa melepas senyum oriental ataupun rajutannya.

"Kalau begitu, gunakan dengan hati-hati yah? Kalau kamu terluka, kami harus menghentikanmu belajar sihir. " (Ibu)

"Akan kuukir dalam hati ini." (Astrid)

Ibu benar-benar jeli. Jujur, Itu membuatku takut.

“Juga, selama berburu, bawakan ayahmu dan yang lainnya bunga. Aku yakin dia ingin terlihat keren di depan putrinya. Dia selalu bangga akan keterampilannya berburu, jadi kalau kamu melakukan itu, ia pasti akan luluh.​” (Ibu)​

"Begitu." (Astrid)

Jika memuji keterampilan ayah, aku akan mendapat beberapa poin favorit, ya? Aku harus mencatat ini dalam kepalaku.

“Juga, tolong ingatlah kalau tak peduli seberapa eksentrik perilakumu, atau tak peduli seberapapun kamu terobsesi akan pelajaran sihir, kami takkan meninggalkanmu, jadi tenanglah. Begitulah orang tua. " (Ibu)

"Ah, uh ... terima kasih ..." (Astrid)

Jangan bilang ... ibu bahkan tahu kalau aku takut diusir !? Ibu, apa kamu membaca pikiranku atau semacamnya!?

Ibu benar-benar menakutkan! Senyum orientalnya menakutkan!

"Astrid, aku tidak punya bakat dalam sihir, tapi aku memiliki lebih banyak pengalaman dalam hidup ini daripada kamu, itu sebabnya, jangan terkejut." (Ibu)

Tidak mungkin aku gak terkejut, ibu.

"Bisakah aku menjadi seperti ibu setelah memiliki cukup pengalaman hidup?" (Astrid)

“Itu tergantung pada bagaimana kamu mengumpulkan pengalaman hidup itu. Hidup bisa sangat panjang ataupun pendek. Tidak apa jika meneliti sihir secara mendalam, tetapi ibu pikir kamu akan mendapatkan sesuatu yang baik kalau kamu juga belajar tentang interaksi antarmanusia. Bukankah sia-sia apabila hidupmu hanya diisi oleh sihir? " (Ibu)

Kukira ibu benar. Belajar sihir bagiku hanyalah metodologi, bukan tujuan hidup. Tapi untuk memperdalam hubunganku dengan orang lain, ya. Itu terasa sulit.

“Kamu tidak perlu terburu-buru melakukannya sekarang. Kamu bisa menemukan beberapa teman dengan minat yang sama nanti saat memasuki di akademi. Kamu dapat berinteraksi dengan mereka yang memiliki minat yang sama denganmu. Astrid, kamu gadis yang baik, jadi ibu yakin kamu akan menemukan teman baik. " (Ibu)

"Itu benar. Kalau masuk akademi, cakrawalaku akan semakin luas bukan? ” (Astrid)

Mari temukan beberapa anak yang memiliki minat dalam sihir saat masuk akademi. Dan setelah itu kami akan bersama-sama mengembangkan sihir!

... tunggu, bukankah itu artinya melanjutkan penelitian sihir ...?

 “Fufu, kamu pasti bisa menyaingi Paul. Kalian berdua selalu mengutamakan perasaan." (Ibu)

"B-benarkah begitu?" (Astrid)

Aku selalu buruk dalam membuat Poker Face, tampaknya itu menular ke Astrid. Sungguh, diriku ini mengecewakan.

"Namun tak apa. Itu membuatmu trlihat lebih imut ... ”

(TN: Ah.. Jiwa loliconku bergetar)

Sebaliknya, senyum oriental ibu bahkan tidak bergeming sedikitpun. Akan luar biasa kalau aku bisa seperti dirinya.

Sementara berpikir demikian, aku menatap keluar jendela melihat pemandangan perbukitan dan ladang.

Kami pun segera tiba.




Sebelumnya          Daftar Isi         Selanjutnya

Post a Comment