Novel Watashi, Nouryoku wa Heikinchi de tte Itta yo ne! Bahasa Indonesia chapter 7





Chapter 7   Sekolah Persiapan Pemburu



Sekolahnya kecil. Gedung sekolah ini hanyalah bangunan kecil satu lantai. Begitu juga dengan asrama yang menampung anak laki-laki dan perempuan. Satu lagi bangunan sepertinya digunakan untuk tempat latihan. Begitulah sekolah yang hanya melayani sekitar empat puluh siswa ini, semuanya belajar di kelas yang sama.


Mile tidak mau menonjol, namun di saat yang sama juga tidak ingin master guild kehilangan muka. Tujuannya adalah mendapat sekitar peringkat lima di kelas.

Setelah Mile selesai mendaftar, ia lalu pergi ke asrama yang masing-masing kamar ditempati empat orang dengan dua tempat tidur susun. Karena sekolah didanai oleh uang pajak negara, mereka tidak  menyediakan dana untuk kamar sendiri-sendiri.

Tapi untuk saat ini ruangan itu kosong karena tampaknya Mile adalah yang pertama datang. Dia pun kemudian memilih-milih tempat tidurnya. Dengan pendidikan etika orang Jepangnya, ia tak bisa lepas dari kecenderungan yang tertanam dalam dirinya agar menahan diri dan membiarkan orang lain mendapatkan posisi terbaik.

Mungkin aku akan jadi yang termuda dan terkecil, jadi kurasa lebih baik memilih tempat tidur atas saja ...

Jadi meskipun  tidur di bawah lebih menguntungkan, namun Mile lebih memilih salah satu dari dua ranjang atas.

Ruangan itu memiliki satu lemari empat bagian untuk masing-masing orang. Selain itu hanya ada satu kotak kecil dengan kunci, walau Mile tak peduli karna dia bisa menyimpan barang-barang berharganya di Item Box. Jadi sekali lagi, dia memilih yang paling tidak menguntungkan.

Di negara ini memberikan keuntungan pada orang lain adalah sesuatu yang hanya dilakukan orang bodoh, tapi bagi Mile itu bukan masalah.

"Kurasa beres-beresnya tidak akan makan waktu lama."

Di sini ia tak berniat menyembunyikan fakta bahwa dirinya punya sihir penyimpanan. Bahkan, master guild sudah menulis informasi ini dalam rujukan pendaftarannya, jadi tidak ada gunanya menyembunyikan itu. Jadi tak masalah jika barang bawaannya juga diamankan dengan sihir penyimpanan. Bahkan jika beberapanya sangat aman dalam Item Box.

Karena itu dia tidak membutuhkan lemari, jadi tiga orang lainnya bisa mendapat ruang penyimpanan lebih.

Selain tempat tidur, lemari, dan kotak dengan kunci, ruangan itu benar-benar kosong. Tidak ada yang lain — bahkan meja atau kursi pun tak ada. Sekolah ini tidak meyediakan dana lebih untuk perabotan rumah. Sebagian besar waktu para siswa dihabiskan untuk latihan sehingga kamar ini hanya digunakan untuk ganti pakaian dan tidur saja. Begitulah.

Mile duduk santai menatap ke langit dan menghabiskan waktu sampai makan siang, disaat terdengar ketukan dari pintu.

"Masuk!" Jawab Mile.

Seorang gadis berparas tinggi membuka pintu, tingginya sekitar lima kaki tujuh inci, dengan rambut emas dan ekspresi tegas. Mungkin dia berusia sekitar tujuh belas atau delapan belas tahunan meskipun tampak kenanakan. Mile pun langsung bisa tahu kalau dia juga tipe orang yang akan populer diantara gadis-gadis lain.

“Oh, teman sekamarku! Mohon kerjasamanya selama enam bulan ke depan! " Gadis itu menyeringai sambil mengulurkan tangan kanannya. Mile tersenyum dan membalas. Dia merasa akan cocok dengan gadis ini.

"Senang bertemu denganmu. Namaku Mavis. Aku seorang ksatria. Aku akan menceritakan detailnya nanti. Kamu tidur di ranjang yang mana? ” (Mavis)

"Oh — yang ini, di atas sini." (Mile)

"Hmm ..." (Mavis)

Mile khawatir Mavis mungkin berpikir dia itu bodoh, akan tetapi gadis itu malah menepuk kepalanya dengan lembut.

"Kamu anak yang baik ..." (Mavis)

Mereka pasti bisa akrab! Mile yakin akan hal itu.

"Tubuhku cukup besar," kata Mavis,
"jadi kuharap kamu tidak keberatan jika aku tidur di bawahmu."

Mavis mengangkat kopernya ke ranjang di bawah Mile, dan mereka berdua mengobrol sampai terdengar ketukan lagi.

"Masuklah!"  Jawab Mile.

Kali ini begitu pintu terbuka, ada dua gadis berdiri di luar lorong.

Yang pertama adalah seorang gadis yang tampak baik hati nan polos berusia sekitar tiga belas atau empat belas tahun dengan rambut kecoklatan. Gadis kedua berambut merah dengan tampang yang tangguh berusia dua belas tahunan.

“Teman sekamar lagi, ya? Hai, aku Mavis! " (Mavis)

"Dan aku Mile. Senang bertemu kalian semua! " (Mile)

"Reina. Senang bertemu dengan kalian. ” Sahut Gadis berambut merah itu melangkah masuk ke dalam. Dia melirik kedua tempat tidur kosong lalu melemparkan tasnya ke ranjang paling bawah. — Sepertinya kebanyakan orang berpikir seperti itu, pikir Mile. Burung paling cepat akan mendapatkan semua cacingnya.

"Aku Pauline. Senang bertemu dengan kalian. ” Ucap gadis itu sambil dengan lembut meletakkan tasnya di atas ranjang, tanpa sedikitpun protes pada gadis yang melempar tas tadi.

 Para siswa tidak harus tiba sehari sebelum upacara masuk, namun bukan kebetulan kalau keempat penghuni ruangan ini tiba lebih awal, tiga hari lagi sebelum dimulainya semester. Malam ini akan menjadi malam pertama mereka  tidur di asrama sekolah, juga hari pertama mereka mendapatkan jatah makanan gratis, dimulai dengan makan siang. Singkatnya, tak ada satupun dari mereka punya tabungan.

Tentu saja itu tidak berlaku untuk Mile yang sekarang punya tabungan sendiri. Meski begitu, dia ingin datang lebih awal untuk membiasakan diri dengan sekolah dan daerah sekitarnya. Meskipun tidak termasuk  mengakrabkan diri dengan gadis-gadis lainnya. Paling tidak dia bisa menikmati kamarnya sedikit lebih baik dibanding  saat di Akademi Eckland.

Segera waktu makan siang pun tiba, mereka semua pun menuju kantin dengan niat melakukan perkenalan lebih rinci setelah makan nanti.

Meskipun baru hari pertama pendaftaran, kebanyakan siswa lain juga tiba lebih awal, hampir setengah dari empat puluh siswa memenuhi kantin. Saat ini semua siswa semester sebelumnya sudah lulus dan pergi sehingga semua yang di sini adalah siswa baru.

Para cowok melahap makanan seolah-olah belum makan berhari-hari, dan meskipun para gadis tidak segitunya, jelas mereka makan dengan lahap. Karna semuanya masih belum saling kenal untuk ngobrol, kami semua makan dengan tenang.

Setelah makan siang, Mile dan yang lain kembali ke kamar untuk saling berkenalan.

"Bagaimana kalau memperkenalkan diri sesuai urutan kedatangan kita?" (mavis)

Saran Mavis mengutamakan Mile.

"Namaku Mile. Umurku dua belas tahun. Aku adalah pengguna sihir dan pemburu rank-F. "

"Cuma itu?" Tanya Reina si rambut merah.
“Ada lagi yang ingin kamu katakan? Seperti keahlian sihirmu, atau kota asalmu, atau keluargamu, atau ...? ”

Mendengar keluhannya, Mile tidak punya pilihan selain melanjutkan. "Um, mari kita lihat. Aku bisa menggunakan sihir penyimpanan — Aku tidak memakai lemarinya kalian semua bisa menggunakannya. Aku juga bisa sedikit berpedang untuk melindungi diri. Dan untuk keluargaku, membicarakan mereka tidak akan menyenangkan, jadi tolong maafkan aku soal itu ... ” (Mile)

"………"

Terjadi keheningan panjang.

"Tunggu sebentar—" Reina tiba-tiba menyela.
“Ada yang aneh. Jika bisa menggunakan sihir penyimpanan, seharusnya kamu diberikan rank-C! Apa yang kamu lakukan di sini?! Selain itu, dibutuhkan banyak tenaga untuk mempertahankan sihir itu bukan? Bagaimana bisa kamu menggunakannya sebagai pengganti lemari ?! "

"Hah…?" (Mile)

"Bukan kau, harusnya aku yang bilang ‘Hah?’!" (Reina)

Saat Reina terus berteriak, Mile hanya memiringkan kepalanya.

"Um, yah, soal rank itu adalah kesalahan guild," kata Mile.
 “Ketua guild mengirimku ke sini untuk memperbaiki itu. Dan aku tidak tahu — apa memang butuh banyak tenaga untuk mempertahankan sihir penyimpanan itu? "

"K-kau ..." Reina terdiam.

"Yah, kurasa aku berikutnya!" Mavis menyela, dengan sedikit gugup.

Mampu membaca situasi itu sungguh kemampuan yang luar biasa.

"Tadi Mile sudah menjelaskan semuanya, biarkan aku jujur ​​juga. Kita akan tinggal bersama mulai sekarang, jadi cepat atau lambat aku harus mengatakannya.

“Saya Mavis von Austien, tujuh belas tahun. Aku seorang ksatria, tidak bisa sihir.
Keluargaku telah menjadi ksatria selama beberapa generasi, dan ketiga kakak lelakiku juga menjadi ksatria. Aku juga ingin jadi ksatria sama seperti mereka, akan tetapi saudara dan orang tuaku sangat menentang, jadi aku pun lari dari rumah. Jadi sekarang aku hanya Mavis, tanpa nama keluarga. Semoga kita bisa akrab! ” (Mavis)

Whoa ...

Saat Mavis bicara, nama panggilan "Rascal" muncul dalam kepala Mile — Tapi itu nama untuk rakun bukan? Mungkin dia memikirkan hal lain.

“S-selanjutnya aku! Reina, lima belas tahun! Mereka memanggilku 'Crimson Reina,' dan keahlianku adalah sihir serangan. Kuberitahu kalau julukan 'Crimson' tidak ada hubungannya dengan rambutku! Aku tidak punya keluarga ... "

Mengakhiri perkenalannya, Reina menunduk, sedih, tapi tak seperti Mile, sepertinya dia tidak perlu membicarakan keluarganya.

Gadis-gadis lain semua mengajukan pertanyaan yang sama. "Lima belas tahun?"

"Apa?! Apa kau punya masalah soal itu ?! " (Reina)







Reina sangat pendek untuk anak berusia lima belas tahun, tidak lebih dari 156 cm. Jika di Jepang, tinggi segitu akan cocok dengan usianya, tapi untuk orang-orang di negara ini yang mirip dengan Ras Kaukasia di Bumi, dia sekitar 5 sentimeter lebih pendek dari tinggi rata-rata gadis berusia lima belas tahun — lebih seperti gadis dua belas tahun.

Mile juga terkmasuk pendek untuk usianya, jadi dia bersyukur  tidak ada yang menyinggungnya.

"Kurasa tinggal aku, lalu ... Namaku Pauline, usiaku empat belas tahun. Aku adalah anak selingkuhan pimpinan Perusahaan Beckett, sebuah perusahaan dagang menengah. " (Pauline)

Apaaaaaa ?! Gadis-gadis lain bertukar pandangan terkejut.

"Keberadaanku dianggap  gangguan bagi ayahku, tapi aku jenius dalam sihir penyembuhan, jadi dia mengirimku ke sini untuk memoles skillku sehingga diriku bisa menjadi hadiah bagus untuk pedagang kaya dan bangsawan." (Pauline)

Hentikan ituuu !!!

"Setelah lulus dari sini, aku mungkin akan dijual kepada seorang pria paruh baya—" (Pauline)

"SUDAH CUKUP PERKENALANNYA," potong tiga orang lain.

Sungguh, teman sekamar ini pasti akan akrab .


***


Selama tiga hari berikutnya, keempat gadis itu menghabiskan waktu mengobrol di kamar mereka dan jalan-jalan di ibukota. Karena tak punya banyak uang, mereka hanya melakukan sesuatu yang gratis.

Lagipula meskipun belanja, ada masalah selain uang. Kamar mereka sangat kecil, mereka tidak bisa membeli apa pun selain beberapa pakaian ganti dan cemilan.

Masing-masing dari mereka memiliki kepribadian yang sangat berbeda, tetapi entah bagaimana, mereka semua tampak saling melengkapi. Jelas mereka berempat akan jadi teman sekamar yang sangat akrab.

Untuk beberapa alasan Reina sangat menyukai Mile, dia juga sadar kalau gadis lain sering nempel padanya. Saat Mile menanyakannya, Mavis  menjelaskan dengan cukup baik.

"Yah, itu mungkin karena, kau tahu, tubuhmu itu — tidak, tidak apa-apa, bukan apa-apa." (Mavis)

"Tunggu, apa itu?!" (Mile)

Mile menuntut agar Mavis melanjutkan. Meskipun tetap sopan, dia merasa cukup akrab untuk berbicara dengan santai pada teman sekamar barunya.

Yang sebenarnya adalah saat Reina berdiri di sebelah Mile, dia terlihat jauh lebih tua. Dia akan tampak lebih tinggi dari Mile yang berusia dua belas tahun dan terlihat lebih dewasa.

Karena Reina selalu prihatin tentang penampilan mudanya, wajar jika dia ingin menonjolkan kontras di antara mereka — yang berarti tetap dekat dengan Mile. Bagi Mile yang berusia duabelas tahun, terlihat lebih muda dari gadis usia limabelas tahun itu bukan masalah.

Mavis berusia tujuh belas tahun jadi tak bisa disandingkan. Paulinelah yang memberi Reina alasan untuk khawatir. Dia lebih tinggi dari rata-rata gadis empat belas tahun, yang berarti lebih tinggi dari Reina. Yang terburuk dari semua itu adalah fakta bahwa dadanya jauh dari rata-rata, bahkan melebihi Mavis.

"Grngh ..." Mile menatap tajam ke arah dada Pauline tepat begitu Reina kembali dari kamar mandi.

"Yah, ayo berangkat!"

Penantian telah berakhir. Inilah hari upacara penerimaan Sekolah Persiapan Pemburu.


***

Upacaranya membosankan.

Karena sebagian besar siswa berasal dari kalangan miskin, keluarga mereka tidak mungkin hadir.

meskipun upacara penerimaan di Akademi Eckland tidak ada yang istimewa dibandingkan dengan Ardleigh yang jauh lebih bergengsi, sekolah itu masih terdapat keturunan bangsawan dan pedagang besar, yang berarti mereka harus menjaga penampilan. Di sini, upacara masuk tidak lebih dari sebuah perkenalan untuk siswa dan guru saja.

Bisa dibilang, meskipun akademi tiga tahun dan sekolah persiapan pemburu cuma enam bulan, keduanya adalah "sekolah," namun perbandingannya seperti universitas empat tahun dan sekolah mengemudi.  Dengan kata lain, itu bukan perbandingan yang sepadan. Bahkan perbedaan ukuran tubuh siswa terlihat jelas di mata Mile.

Dan tentu saja, sekolah ini tidak memiliki seragam. Semua orang memakai pakaian mereka sendiri. Namun saat menghadiri upacara masuk, para siswa tidak mengenakan pakaian bisa melainkan pakaian perburu mereka, yang membuat mereka seperti pemburu pemula.

Total siswa terdiri dari empat puluh orang sama seperti biasanya, dan hanya ada satu kelas. Sekolah ini sebenarnya masih dalam tahap uji coba sehingga cakupannya sangat kecil, lebih seperti Bimbingan belajar daripada sekolah.

"Selamat datang! Aku Kepala Sekolah kalian,  Elbert! ”Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun menyambut mereka dari panggung. Dia tidak terlihat seperti kepala sekolah namun lebih mirip pemburu pensiunan.

"Aku sudah menjadi pemburu sejak berusia enam tahun sampai sekitar enam tahun yang lalu, kemudian pensiun dan mengambil alih tempat ini." (Elbert)

Tak heran kalau begitu, ternyata dia memang pemburu pensiunan!

Dan bagaimanapun juga, sekolah yang hanya terdiri dari empat puluh siswa tidak memerlukan perhatian khusus dari kepala sekolah.

Mereka mungkin juga menyebutnya "Pusat Pelatihan Pemburu" atau "Hunter Boot Camp," pikir Mile.

“Tujuan dari tempat ini adalah memberikan kalian semua pengetahuan yang diperoleh dari  keberhasilan dan kegagalan selama bertahun-tahun hanya dalam rentang enam bulan. Dengan begitu, kalian akan langsung dipromosikan ke Rank-D atau C setelah lulus nanti! Kalian mengerti apa artinya itu kan? ” (Elbert)

Elbert memandang wajah para siswa.

"Benar sekali! Tempat ini sangat keras! Tidak semua orang bisa berada di sini! Mereka yang lulus dengan bahagia dan kemudian menendang ember beberapa hari kemudian — atau lebih buruk, menyeret semua anggota partai mereka ke dalam lumpur? Bukan itu yang kita inginkan. Kami tidak membiarkan itu terjadi! Jika kalian tak mampu melakukannya, serahkan surat pengunduran dirimu sekarang! " (Elbert)

Demi masuk sekolah, semua orang yang hadir telah melewati persaingan sengit. Membawa harapan keluarga di pundak mereka. Tak ada yang mau menyerah begitu saja. Setidaknya saat ini tidak ada yang menyerah.

Mengikuti pidato Elbert, instruktur lain diperkenalkan, dan kemudian para siswa diminta menuju kelas. Detail kecilnya akan dibahas nanti di ruang kelas.


***


Ketika mereka menunggu instruktur mereka tiba, para siswa mengobrol dalam kelompok-kelompok kecil. Teman sekamar yang sudah akrab, saling berbincang.

"Maksudku, itu sudah jelas," kata Reina.

Tiga lainnya juga mengangguk.

Dia merujuk pada komentar kepala sekolah. Semua orang di sana sangat menyadari reputasi sekolah ketika mereka mendaftar. Tidak ada gunanya mengoceh tentang hal itu.

Setelah beberapa saat pintu kelas terbuka, dan instruktur mereka masuk. Dia adalah Elbert, kepala sekolah itu sendiri.

"Aku kepala instruktur kalian. Kami tidak memiliki anggaran yang sangat besar, jadi kalian bisa menganggapku sebagai kepala sekolah, pelatih, kepala instruktur,atau lainnya. Selain diriku, ada tiga instruktur lain yang mau kuperkenalkan. Dan selain itu ada koki yang masak di kantin dan staf pemeliharaan sekolah.”
“Kurikulum kami difokuskan pada pendidikan praktek, tapi kalian akan mendapatkan pelajaran juga. Kalau tidak tahu cara mengidentifikasi tumbuhan obat atau membedakan monster yang mirip, kalian akan mati. Dan jika tidak tahu bagaimana memperlakukan bangsawan yang kalian kawal, kau akan terlibat perkelahian yang berakhir dengan dirimu ditebas atau dimasukkan ke dalam daftar penjahat. Kalian harus mempelajari itu semua. "

Penjelasannya singkat, tapi tidak ada yang bisa membantah kebenaran itu.

Elbert mulai menulis di papan tulis sambil terus berbicara.

Total Siswa : 40 ; Laki-laki: 27 , Perempuan: 13
Pengguna pedang;  Laki-laki: 13, Perempuan: 3
Pengguna tombak: Laki-laki: 4
Pemanah; Laki-laki: 4, Perempuan: 2
Penyihir; laki-laki: 6, Perempuan: 8

Tim Perempuan A :   5 anggota; 2 Penyihir, 1 Pengguna pedang, 2 Pemanah
Tim Perempuan B:    4 anggota; 3 Penyihir, 1 Pengguna pedang
Tim Perempuan C:    4 anggota; 3 Penyihir, 1 Pengguna pedang

Tim Laki-Laki 1: 5 Anggota; 1 Penyihir, 3 Pengguna pedang, 1 Pemanah
Tim Laki-Laki 2: 5 Anggota; 1 Penyihir, 2 Pengguna pedang, 1 Pemanah, 1 Pengguna tombak
Tim Laki-Laki 3: 5 Anggota; 1 Penyihir, 2 Pengguna pedang, 1 Pemanah, 1 Pengguna tombak
Tim Laki-Laki 4: 4 Anggota; 1 Penyihir, 2 Pengguna pedang, 1 Pengguna tombak
Tim Laki-Laki 5: 4 Anggota; 1 Penyihir, 2 Pengguna pedang, 1 Pengguna tombak
Tim Laki-Laki 6: 4 Anggota; 1 Penyihir, 2 Pengguna pedang, 1 Pemanah


“Kelas ini dibagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan jenis kelamin dan profesi kalian. Tim A sampai C adalah tim perempuan, dan Tim 1 hingga 6 adalah laki-laki. Aku yakin beberapa dari kalian sudah menyadarinya, pembagian ini sama dengan pemilihan kamar kalian. Jadi, kalian akan terus bersama sampai lulus, suka ataupun tidak.
Meskipun tidak saling mengenal, itu adalah tanggung jawab kalian untuk saling berkomunikasi. Itu juga bagian dari pelatihan. Lagi pula kalian tidak akan selalu bersama lagi setelah lulus.

Saat ini tidak ada banyak kelompok party yang semuanya perempuan, tetapi di sekolah ini kita tidak punya waktu untuk melerai pertengkaran kekasih atau berurusan dengan bayi tak terduga. Lebih mudah kalau mengajarkan kalian semua secara terpisah.
Tapi itu hanya berlaku saat kalian di sini. Setelah lulus kalian bisa membentuk party campuran kalau mau. Lagipula begitulah biasanya, ” (Albert)

Saat itu Mile merasa bahwa Elbert agak terlalu jujur, tapi lanjut mendengarkan penjelasannya.

Tempat duduk di kelas terbagi berdasarkan profesi, sehingga memudahkan instruktur untuk mengetahui kelompok mana yang paling cepat belajar. Namun saat para pemburu bertugas, ada kalanya mereka harus mengangkat lengan kawan yang jatuh atau terkepung oleh musuh, sehingga sangat penting melatih pemburu dengan kondisi diluar perkiraannya. Di masa depan, ini akan membantu kerjasama party mereka. Tentu saja, penting untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan musuh seseorang, sehingga sesi bersama dengan siswa dari profesi lain juga merupakan bagian dari pelatihan mereka.

Lalu sudah waktunya bagi siswa untuk memperkenalkan diri satu sama lain.

"Aku tidak berharap kalian bisa saling mengingat nama satu sama lain" kata Elbert.
“Tujuannya hanya untuk mengetahui orang macam apa saja yang ada di kelas ini. Kita mulai dari sisi kanan. Beritahu nama, usia, pekerjaan, keahlian, dan peringkatmu. Kau bisa menambahkan yang lain. Jangan ragu untuk memberi tahu teman sekelas seperti apa dirimu itu. ”

Terlepas dari dorongannya, hampir tidak ada yang memberitahukan melebihi apa yang diminta.

Beberapa siswa takkan mau memberitahukan informasi pribadi kepada orang asing, kekuatan mereka, atau kelemahan mereka. Bahkan Mavis, Reina, dan Pauline memperkenalkan diri  jauh lebih singkat daripada sewaktu di asrama.

Dan tiba saatnya bagi Mile untuk memperkenalkan diri.

"Nama saya Mile. Saya berumur dua belas tahun dan pengguna sihir. Saya tidak punya spesialisasi khusus. Saya bisa menggunakan sihir penyimpanan, dan saya bisa sedikit berpedang. Rank saya F. "

Tidak seperti Reina, tidak ada seorang pun di sini yang terkejut akan pengetahuan Mile tentang sihir penyimpanan. Tidak peduli seberapa mengesankan Skill itu, tak terlalu sulit membayangkan kenapa seseorang akan mengambil resiko mengirim gadis usia dua belas tahun tanpa berpengalaman dalam berburu. Pastinya mereka akan mengirimnya ke sini untuk mempelajari beberapa hal. Juga bisa dibayangkan kenapa dia masih rank-F.

Memang, setelah perkenalan Mile para siswa mulai saling berbisik untuk alasan yang sama sekali berbeda, yaitu soal anggota. Mungkinkah mereka bisa mengenal  dan membujuknya bergabung dengan mereka sebelum lulus nanti.

Dia gadis yang imut dan bisa menggunakan sihir penyimpanan — juga sihir lainnya, dan dia bahkan bisa menggunakan pedang.

Kapan lagi ada kesempatan mengajak gadis seperti itu bergabung bersamamu?

Bagi Mile, masalah lainnya akan segera dimulai.


***


"Baiklah! Saatnya untuk rapat party pertama kita, ”Reina mengumumkan malam itu setelah makan, setelah kembali ke kamar mereka.

Tiga lainnya menatap kosong.

“Tidakkah kalian mengerti? Sesuatu yang mengerikan telah terjadi! Kita harus mendiskusikan ini! "

"Apanya yang mengerikan?" Tanya Mile seolah tidak peduli.

 "Kamu! Kau tidak memperhatikan ?! ” Teriak reina membalas.
 "Lihatlah bagaimana mereka semua menatapmu ?!"

"Hah? Apa aku semenawan itu? ” (Mile)

"Bukan itu!!! Yah, bukannya kamu tidak menarik, tapi semua karna sihir penyimpananmu itu! Sebelum kau sadari, mereka akan mulai membujukmu bergabung dengan party mereka! Dan jika kita tidak melakukan sesuatu, itu akan menjadi bencana. Selain itu, kamu sudah menjadi ... " (Reina)

"Hmm?" (Mile)

“S-sudahlah! Ngomong-ngomong, dengarkan ini.  Kamu akan mulai dikerumuni oleh orang-orang yang tidak tertarik pada dirimu, melainkan sihir penyimpananmu! Kita harus melakukan sesuatu untuk itu! " (Reina)

"Apa yang kau maksud?"  (Mile)
Dengan takjub Mile, Mavis dan Pauline menghela nafas dalam-dalam.

“Dengar, hampir semua orang yang masuk sekolah ini berusia lima belas tahun ke atas. Mereka yang bergabung dengan guild sebagai pemburu saat usia sepuluh tahun mampu menjadi pemburu rank-D hanya dalam beberapa tahun, bahkan jika mereka mulai dari rank-F. Dan begitu mencapai rank-D, mereka bisa mulai mengambil misi yang sesungguhnya dan tidak perlu datang ke tempat seperti ini. Tidak ada yang akan mengirim pemula ke dalam misi untuk melawan monster peringkat tinggi.

Namun tak ada orang di sini yang bisa bergabung dengan guild di usia sepuluh tahun. Meskipun ada yang bergabung ke guild nanti,mereka hanya para siswa dari sini yang dianggap memiliki potensi. Guild mengirim mereka ke sekolah ini sehingga mereka bisa lebih siap dalam menjalankan misi.

Jelas, Mile, kamu berada di luar aturan itu, karna kamu masih sangat muda. Tidak salah lagi kamu ada di sini karena sihir penyimpanan itu. " (Reina)

Reina melanjutkan.
“Sebagian besar orang di sini sudah remaja. Tentu, beberapa dari mereka hanya mencari anggota party untuk nanti, akan tetapi beberapa dari mereka juga mencari pasangan. Seseorang sepertimu, yang memiliki sihir penyimpanan akan memberikan potensi penghasilan yang besar, dan tampak mudah dikendalikan, dan apa, bisa kukatakan, kamu begitu imut ... Kamu bagaikan hadiah yang sangat lezat. Kamu sudah paham apa yang kukatakan? " (Reina)

"Um." Mile menundukkan kepalanya sedih.

"Jadi kalau kamu mendapatkan bergabung, bilang saja 'Aku punya janji dengan teman sekamarku.' Dan, jika ada yang mencoba memintamu kencan, bilang pada mereka, 'Aku tidak tertarik. Aku mau fokus pada latihanku. ' Mengerti ?! " (Reina)

"S-Siap Komandan!"

Melihat Mile terkejut, balasan langsung dan kepuasan Reina terlihat jelas, Mavis dan Pauline pun bisa mengerti.

Jadi begitu.

Ya, itu pasti "seperti itu."

"Oh, itu benar," kata Mavis. "Kita harus memilih seorang pemimpin."

Segera, ketiga gadis itu menunjuk ...

Ke Mavis.

Dia yang paling tua dan paling tinggi, bijaksana, namun juga menarik dan baik hati.

Yang lain — tentu saja — terdiri dari Reina yang pemarah, Pauline yang ramah, dan Mile yang selalu tampak selangkah di belakang mereka.

Dengan kata lain, Mavis adalah pilihan yang paling pasti.


***


Keesokan paginya, dimulai dari pelajaran di kelas.
Latihan praktek akan berlangsung di lapangan sore hari nanti.
"Baiklah, semua kelompok ada di sini. Sebelum memulai pelatihan, kami perlu melihat tingkat kemampuan kalian saat ini. Majulah dan perlihatkan kemampuan kalian satu per satu. Berpisahlah dari kelompokmu lalu berbaris sesuai profesi kalian. ” (Elbert)

Seperti yang diarahkan Elbert, para siswa mulai berkumpul sesuai profesi mereka.

Tiga instruktur lainnya juga hadir. Yang pertama adalah Huey, yang bertanggung jawab untuk profesi pedang pendek, pisau lempar, dan pemanah. Yang kedua adalah Neville, seorang instruktur sihir, dengan spesialisasi khusus dalam sihir tempur. Dan yang ketiga adalah Jilda, instruktur sihir lain, yang bertanggung jawab untuk peralatan dan sihir penyembuh. Mereka semua adalah mantan pemburu.

Meskipun semuanya memiliki spesialisasi sendiri, bukan berarti tidak punya keahlian di bidang lain. Saat salah satunya sedang sibuk, yang lain bisa membantu.

Ketika semuanya berkumpul, terlihat pengguna pedang dan pemanah kebanyakan laki-laki, dan tidak ada pengguna tombak wanita. Di sisi lain, kebanyakan pengguna sihir adalah perempuan.

Mempertimbangkan kemampuan fisik, tidak mengherankan kalau sebagian besar siswa yang berprofesi jarak dekat itu laki-laki. Bahkan jika ada laki-laki yang bisa menggunakan sihir tempur kemungkinan ia tetap akan memilih pedang sebagai profesi utama mereka. Selain itu, sebagian besar pelamar di sekolah adalah laki-laki.

Tetap saja meskipun jumlah perempuannya lebih sedikit daripada anak laki-laki, kebanyakan pengguna sihir itu perempuan, mungkin alasannya sama dengan tadi.

Semua siswa mengenakan armor mereka sendiri, tapi senjatanya akan disediakan sekolah.

Bahkan dalam pertarungan percobaan, jika seseorang menggunakan pedang sungguhan maka akan ada risiko cedera. Oleh karena itu, para siswa diminta mengenakan armor. Ini adalah keuntungan bagi Mile yang terlihat mirip pengguna pedang, namun tidak terlihat mencolok di antara para pengguna sihir lainnya.

Mereka bisa disebut penyihir, ya, tapi tak ada yang memakai jubah. Sebaliknya, semua orang mengenakan armor kulit yang sama, atau jika mereka tidak mampu membelinya, pakaian yang tebal dan polos, yang berarti Mile tidak akan menonjol dengan sepatu bot dan pelindung kulitnya itu.

Hanya dalam pilihan peralatanlah yang membuat Mile jadi menonjol. Pengguna sihir lain membawa tongkat kayu, tongkat logam, atau senjata tumpul lainnya, tapi Mile tetap menggunakan pedang kepercayaannya itu. Kehidupan pengguna sihir bergantung pada pelafalan mantra dan sihir mereka. Karena itu, mereka biasanya enggan membawa senjata yang membutuhkan perhatian ekstra atau keterampilan khusus. Hal yang sama berlaku untuk apa pun yang menambah beban dan membuat pelarian menjadi sulit.

Akibatnya, mereka cenderung memilih peralatan yang ringan dan seimbang juga mudah digunakan, tidak ditujukan untuk menumbangkan musuh namun hanya untuk melindungi diri apabila musuh mendekat.

Tentu hal-hal seperti itu bukan masalah bagi Mile. Selain itu, jauh lebih mudah untuk menjatuhkan musuh dengan pedang atau tombak daripada tongkat — itulah yang dipikirkannya.

Untuk tujuan yang sama Mile juga membuat ketapel. Tentu saja, ketapel sederhana tidak akan mengeluarkan sepenuhnya kemampuan Mile, tapi pada kenyataannya mungkin itu pilihan yang tepat.
Saat dia bersemangat atau panik tali ketapel tetap hanya bisa ditarik sedikit, jadi tak ada risiko membuat kesalahan yang memungkinkan kekuatannya lepas kendali lalu menyebabkan bencana. Selain itu apabila sesuatu benar-benar terjadi, akan mudah untuk mengatasinya.

Busur itu merepotkan karna seseorang harus selalu membawa anak panahnya, jadi itu bukan pilihan. Peluru katapel jauh lebih mudah dibawa, juga kita bisa menggantinya dengan kerikil saat keadaan darurat — dan kerikil bisa dengan mudah dibentuk jadi bulat. Ketika berada di medan berpasir, dia bisa mengumpulkan pasir besi sebagai bahannya. Selain itu untuk akurasi ia bisa mengandalkan nano-chan untuk mengarahkan sasaran, sehingga lebih simpel.

Tidak peduli bagaimana orang melihatnya, peluru ketapel seperti memukul, lalu menjatuhkannya.

(TN: maaf kalo salah kaprah, Tee-hee)



***


"Mulai!"

Sementara Mile duduk merenungkan itu, duel pedang telah dimulai.

Para siswa menggunakan pedang kayu. Sekolah itu tidak sebegitunya mengerikan sampai membiarkan sekelompok pemula menggunakan pedang logam untuk latihan. Namun demikian, duel itu benar-benar berbeda dari yang di Akademi Eckland, meski Mile tidak terlalu terkejut dengan itu. Para siswa ini adalah kandidat pemburu pro, kebanyakan dari mereka berusia lima belas tahun ke atas. Skill dan kekuatan mereka berada di level yang sangat berbeda dibanding teman sekolah Mile yang dulu.

Duel pertama diawali dengan gerakan kaki voli pantai, lalu salah satu mengayunkan pedangnya melesat ke lawan dari samping, dan pertandingan berakhir.

Pertandingan selanjutnya juga tak berbeda jauh. Memang, semua siswa umurnya gak beda jauh, masing-masing adalah kandidat terbaik yang dipilih oleh tempat asalnya, yang berarti perbedaan kemampuan mereka tak berbeda jauh.

Mile memperhatikan pertarungan mereka dengan cermat, menganalisis kemampuan semua orang. Bagaimanapun, dia itu gadis yang rajin belajar, dan mampu melakukan apapun yang dia pikirkan terutama dalam menggabungkan ketekunannya dengan pengalaman praktek ...

Jumlah pengguna pedang prianya ganjil, jadi anak laki-laki terakhir dipasangkan dengan seorang gadis. Gadis itu adalah Mavis.

Biasanya laki-laki dianggap lebih kuat, tapi Mavis, yang tertua dan paling tinggi di antara perempuan, dengan mudah menutup celah dan memastikan kemenangan yang luar biasa. Bocah itu pun kesal, tampak sesaat kecewa, namun kemudian mengucapkan selamat kepada Mavis sambil tersenyum.

Untuk sesaat, tatapannya tampak dalam yang mengingatkan Mile akan bocah sebelas tahun itu, tapi dia segera menenangkan diri, dan menawari Mavis jabat tangan erat.

Mereka benar-benar orang dewasa, pikir Mile.



***



Setelah duel antar pengguna pedang wanita, Mile mengira selanjutnya adalah duel tombak, tapi saat itu ...

"Oi, Mile. Kamu bilang bisa menggunakan pedang, kan? Mari kita lihat apa yang kau bisa. " (Elbert)

"Hah ?!" Mile kaget atas perintah Elbert yang tak terduga.

Tanpa diketahui siswa lain, Mile mendaftar di sekolah tanpa ujian berkat rekomendasi dari master guild. Sebagai kepala sekolah dan kepala instruktur, Elbert tentu saja menyadari hal ini. Karena Mile memang memiliki sihir penyimpanan, jelas bahwa rujukan master guild itu sah. Namun, dalam rekomendasi juga menyatakan kalau ilmu pedang Mile "Setara dengan pemburu peringkat C," dan Elbert penasaran mau menguji skillnya.

Aku ... tidak bisa nolak yah? Pikir Mile. Aku harus melakukannya. Bagaimanapun, dia telah menganalisis level semua orang saat mereka bertarung untuk kejadian seperti ini. Semua akan baik-baik saja. Semua akan baik-baik saja…

Saat Mile menguatkan diri, Elbert memilih lawannya. Ketika dia meminta sukarelawan, hampir semua dari mereka mengangkat tangan, jadi dia memilih salah satu anak lelaki yang tampak lebih lemah dari pertarungan sebelumnya.

Kenaapa, Mile bertanya-tanya, kenapa semua orang mau melawanku? Apa ini semacam konspirasi? Apa mereka melawanku karena aku masih muda?

Namun, sebenarnya mereka semua mengangkat tangan dengan tujuan mau menyapanya nanti lalu bertanya, mengatakan sesuatu seperti, "Maaf soal sebelumnya. Gimana kita tidak kumpul nanti dan membicarakan pertandingan latihan? Aku akan membawa teh dan kue. "

"Mulai!"

Pertandingan dimulai dengan sinyal Elbert, dan saat Mile memblokir serangan pemuda itu, dia memblokirnya juga, pertarungan mereka berjalan dengan baik. Akhirnya, salah satu pukulan pemuda itu mengenai Mile dari samping, dan pertandingan berakhir.

Bagaimanapun, dia adalah gadis yang cerdas.

“……”

Meskipun pertandingan sudah berakhir, Elbert terus menatap Mile yang tenggelam dalam pikirannya. Setelah beberapa saat, dia memanggil bocah yang Mavis lawan sebelumnya, dan mereka berdua menjauh untuk berbicara.

Ketika mereka berbicara, siswa laki-laki itu tiba-tiba berkobar, seolah-olah dia marah pada Elbert. Setelah itu, percakapan misterius mereka berlanjut, pemuda itu mengangguk dengan enggan seolah-olah ada sesuatu yang tak ia mengerti, dan akhirnya, keduanya kembali.

"Baiklah, Mile. Putaran dua! "

"Hahhhhh?!?!"

Kali ini, Mile bukan satu-satunya yang meneriakkan keterkejutannya.

"Mulai!"

Dan pertandingan kedua dimulai.

Pria muda itu tampak sama tidak senangnya dengan Mile. Dia dipaksa untuk bertarung melawan seorang gadis kecil yang barusan kalah dari seorang bocah lelaki dimana bahkan tidak mendekati tingkat kemampuannya. Lebih buruk lagi, dia adalah seorang penyihir — dan di atas itu, meskipun dia telah dikalahkan seorang wanita muda sebelumnya, Mavis setidaknya adalah pengguna pedang, dan dia kuat. Wajar saja kalau dia kalah, tidak diragukan lagi, tetapi setidaknya untuk saat ini, dia bisa menerima itu.

Namun, pertarungan ini tidak dapat diterima. Bahkan jika dia menang, itu akan menjadi kemenangan yang tidak memuaskan, tanpa kehormatan, kebanggaan, ataupun gengsi. Meninggalkan rasa tidak enak di mulutnya. Namun, ini adalah bagian dari pelajaran, praktek yang diamanatkan oleh instruktur mereka. Dia tidak punya pilihan selain melakukan apa yang ia perintahkan.

Pertandingan dimulai dan dengan cepat menjadi sengit, membuat Mile bingung.

Kenapa dia hanya membidik titik yang tidak terlindungi armor?!?!

Setiap serangan diarahkan ke lengan, leher, atau persendian armornya, semua tempat yang pasti akan menyakitkan apabila menerima pukulan dengan kekuatan penuh. Akan beruntung kalau bisa lolos hanya dengan memar. Dia terus memblokir seolah-olah hidupnya dipertaruhkan, dan terus berlanjut beberapa saat, akhirnya, dia mendapat kesempatan.

Yang itu langsung menuju armorku.

Sama seperti pertandingan pertama, pertarungan diakhiri dengan pukulan ke samping.

Thwap!

Mile merasa lega. Tetapi saat dia mendongak, dia melihat anak laki-laki di depannya menatap kesal — namun ke Elbert, bukan dirinya.

Mile mengikuti pandangannya dan melihat Elbert menyeringai seperti orang gila.

Hah? Apa ...

Itu adalah set-up.

Namun, baru belakangan Mile menyadari hal ini.


***

Setelah pengguna tombak dan busur menyelesaikan pertandingan mereka, akhirnya giliran pengguna sihir untuk menunjukkan kemampuan. Berbeda dengan pengguna pedang, tombak, pemanah, penyihir tidak saling bertarung secara langsung. Tentu, saling menembakkan sihir itu sangat berbahaya. Jadi mereka membandingkan kecepatan rapalan dan kecepatan tembakan, keakuratan, dan kekuatan mereka saat menyerang target yang jauh.

Satu per satu secara berurutan, melepaskan mantra serangan mereka.
Fireball, Water sphere, Fire arrow, ice arrow, rock arrow, inferno, explosion…

Semua sihir bervariasi dalam ukuran, kecepatan, dan kekuatan, walau sekali lagi, tingkatannya melebihi apa yang dilihat Mile di Eckland. Ada beberapa siswa di sana yang bahkan mampu menggunakannya dalam pertempuran nyata.

Namun, kemampuan yang paling mengejutkan dating dari Reina.

“Oh Api, berkobarlah api Neraka! Binasakan mereka menjadi abu dan tulang! "

Kobaran api merah tua yang bergelombang berputar dan mengenai sasarannya, membakar target.

"Luar biasa!" Mile berbisik.

Reina menoleh padanya dengan penuh pujian.

Jadi itu sebabnya ia dipanggil "Crimson Reina," pikir Mile. Meski begitu, sepertinya kekuatan sihir Reina tidaklah setinggi itu, dan aku tidak berpikir sihirnya itu istimewa ...

Untuk beberapa alasan Mile mampu memahami sihir Reina, namun dia tidak mencoba menganalisanya lebih lanjut. Dia merasa bahwa melakukan itu hanya akan membuatnya lelah. Itu pemikiran yang bijak.

DIA SEMANGAT SEKALI.

"Eep!"

Mile menjerit mendengar bisikan tiba-tiba di telinganya, menyebabkan beberapa teman kelas melihat ke arahnya kebingungan. Dia berusaha bersikap seolah-olah tak ada yang terjadi, lalu menonton siswa lain melakukan sihir.

J-jangan menakutiku seperti itu!

MAAF. TAMPAKNYA ANDA SEDANG MENCARI INFORMASI.

Aku hanya sedang kepikiran!! Tapi, yah, karena ada kalian di sini, sekalian aku tanyakan. Apa yang kalian maksud dengan "Bersemangat"?

AKAN KAMI JELASKAN. SEPERTI YANG ANDA TAHU, KAMI TIDAK MEMILIKI PENERIMAAN DAN PENGATURAN SELEKSI TERTENTU. KARENA INI, JUMLAH NANOMACHINE YANG BEREAKSI DALAM PERWUJUDAN SIHIR AKAN BERVARIASI. BEGITU PULA VARIASI TINGKAT PENGIMAJINASIAN DAN EFISIENSINYA . SEMUA FAKTOR INI MEMPENGARUHI PERWUJUDAN SIHIR.

NAMUN, DARI WAKTU KE WAKTU MUNCULAH ORANG YANG DAPAT MENGGUNAKAN SIHIR DENGAN KEKUATAN YANG LEBIH BESAR DARI YANG LAIN, MENDAPATKAN KETERAMPILAN LUAR BIASA DALAM KEKUATAN, KONSENTRASI, MAUPUN GAMBARAN. INI ADALAH APA YANG KAMI REFERENSIKAN SEBAGAI “SEMANGAT.” YANG DIKATAKAN — BAGAIMANA MENEMPATKANNYA? —TINGKAT KONSENTRASI MEREKA SANGAT KUAT YANG MEMBUAT NANOMACHINE DENGAN SENSITIVITAS RENDAH PUN AKAN BEREAKSI.
(TN: Bingung? Saya juga :v)

Hmm ...

Dengan penjelasan singkat itu, Mile mengakhiri pembicaraan tanpa memahami penjelasan nano. Gilirannya untuk mempraktekkan sihir.

Sejauh ini segalanya berjalan baik, pikir Mile, jadi seharusnya ia bisa diterima jika menggunakan sihir yang cukup kuat. Dia ingin mencoba di posisi kelima dalam peringkat kelas. Karena itu, mengingat jumlah siswanya menjadi penyihir terbaik kedua bukanlah hal yang tidak masuk akal. Aku harus membuatnya sedikit lebih lemah dari yang Reina lakukan ...

Dengan pemikiran itu, Mile memutuskan menggunakan mantra yang sama dengan teman sekamarnya tapi dengan hanya sekitar delapan puluh persen dari kekuatan Reina.

“Oh Api, berkobarlah api Neraka! Binasakan mereka menjadi abu dan tulang! "

Sama seperti ketika Reina melakukannya, api merah menyala berputar, mengelilingi target lalu menjadikannya abu.

"A ...?"

Yang lain sedikit terkejut melihat Mile menggunakan mantra yang sama kuat dengan Reina, namun segera tenang. Karena Mile bisa menggunakan sihir penyimpanan, itu tidak terlalu mengejutkan kalau dia juga terampil dalam sihir lain.

Namun, ada satu orang yang tidak bisa menerima ini.

"Mile, aku perlu bicara denganmu nanti." Reina memelototinya dengan kasar, dan bulu kuduk leher Mile berdiri.

"Ke-kenapa ...?"

Setelah Mile, beberapa siswa lagi memamerkan sihir serangan mereka, diikuti oleh mereka yang memiliki sihir support. Sihir penyembuhan akan diuji pada lain waktu karena tidak ada orang terluka di sana, yang berarti tidak bisa melakukan demonstrasi.

Untungnya itu bukan masalah. Tidak ada seorang pun yang Cuma punya kemampuan sihir penyembuhan saja, sehingga semua siswa dapat menunjukkan keterampilan mereka menggunakan sihir lain.



***



Setelah latihan praktek selesai, para siswa pu meninggalkan lapangan. Reina masih tampak gelisah, jadi Mile menjaga jarak, berjalan terseok-seok di belakang siswa-siswa lain dalam perjalanan ke kantin dengan harapan tetap tidak menonjolkan diri.

"Mile-san!"

"Eek!" Mile menjerit dan tegang ketika seseorang mendekat dari belakang dan tiba-tiba menepuk pundaknya.

"Oh maafkan aku…"

Mile berbalik melihat siswa laki-laki yang ia hadapi dalam latihan putaran kedua berdiri di belakangnya.

“Maaf membuatmu takut — dan maaf soal pertarungan sebelumnya. Sejujurnya, itu semua perintah dari instruktur ... Meskipun dia menyuruhku, meskipun itu salahku karna mengenai bagian tubuhmu yang tak terlindungi. Aku sangat menyesal!"

"Hah? Oh, tidak, tidak apa-apa! Dalam pertarungan itu masuk akal apabila membidik titik lemah musuh — dan jika instruktur yang memintanya, kamu tidak punya pilihan, bukan? ”

"Terima kasih banyak."

Dengan itu, dia pun pergi. Mile terkesan. "Astaga, orang dewasa benar-benar berbeda ..."

Saat berbalik menuju kantin, ia dihentikan oleh suara laki-laki lain.

"Maaf tentang tadi, Mile!"

Kali ini, dia berbalik melihat siswa yang dia hadapi dalam pertempuran putaran pertama.

"Apa kamu terluka? Bagaimana kalau kita berkumpul setelah makan malam dan membicarakan pertandingan latihan tadi? Banyak saran yang bisa kuberikan padamu! ”

Lubang hidungnya melebar di wajahnya yang licin dan menyeringai.

Mile, yang bisa mencium motif tersembunyi dari jarak satu mil jauhnya, dan merasa tidak senang.

“Maaf, aku ada janji setelah makan malam. Bagaimanapun, aku adalah penyihir, bukan seorang pengguna pedang, jadi wajar saja kalau aku memiliki banyak kekurangan dalam teknik pedangku. Jika aku punya waktu untuk memoles keterampilanku di luar pertahanan diri, maka kupikir lebih baik jika aku mengasah kemampuan sihir — karena itu adalah profesi utamaku ... "

"O-oh, eh, tapi ..."

"Permisi." Sebelum bocah itu cari alasan lain, Mile berjalan pergi secepat mungkin.

Tampaknya di antara pria dewasa yang matang, masih ada banyak apel yang busuk.



***



Seperti biasa, makan malam disantap bersama empat teman sekamarnya di kantin. Mile dengan malu-malu melirik Reina beberapa kali, namun tampaknya ia tidak memperhatikan dan makan seperti biasa. Mile senang diberi jeda sesaat.

Namun, segera setelah kembali ke kamar mereka ...

"Kita mulai rapat party ke dua!" Kata Mavis.

"Mile! Apa maksudnya itu ?! ” Teriak Reina.

"Hah? Apa? Yang mana? "

“Jangan bertingkah bodoh! Mantra yang kamu gunakan! Apa maksudnya itu ?! ”

Mile tersentak menghadapi kemarahan Reina.
Mavis dan Pauline hanya duduk diam, menyaksikan kejadian itu.

"Um, yah, aku hanya menggunakan mantra api normal, sama sepertimu ..."

"Begitu ... Sama sepertiku, hmm? kamu menjiplak 'Crimson Hellfire,' mantra orisinil Crimson Reina, dan menyebutnya dengan 'mantra api normal,' kan ?! "

"Apa ... ?!"

Setelah beberapa pertanyaan panjang dan terus-menerus oleh Reina, Mile akhirnya menyerah. Dia menceritakan segalanya pada Reina.

Yah, tidak semuanya. Tapi dia menyusun cerita yang cukup mendekati kebenaran.



***


"Jadi kamu bilang kalau ada menteri yang menginginkan kekuataanmu bekerjasama dengan raja iblis, dan sang pangeran membawamu ke tempat yang aman ...?"

"Iya! Kupikir aku benar-benar akan mati! "

“KAU PIKIR AKU AKAN PERCAYA ?! DASAR BODOH TULEN!! ”

"Aa ... Bagaimana kamu tahu ...?"

"Aku juga membaca novel itu!!!"

"Waah !!"

Reina meraih tangan Mile.

Kali ini, dia menceritakan yang sebenarnya.

"Jadi kamu tidak mau mendapatkan perlakuan khusus, dan  tidak ingin semua orang memanfaatkan kekuatan sihir dan sihir penyimpananmu? Juga kamu melarikan diri dari rumah karena kamu akan dibunuh karena masalah hak waris keluargamu? "

"Ya ..." Meskipun Mile telah menyesuaikan beberapa detailnya, semua elemen dari kisah ini adalah kenyataan, jadi itu jauh lebih meyakinkan — setidaknya, lebih dari novel romantis yang ia ceritakan sebelumnya.

“Yah, aku bisa mengerti. Kebanyakan dari mereka berada di sini karena ada yang mencoba menggunakan atau menjualnya sebab kemampuan mereka yang luar biasa, atau masalah tertentu. Sekolah ini adalah tempat untuk melindungi orang-orang seperti itu. ”

Dengan ekspresi sedih, Reina akhirnya melepaskan tangan Mile.

"Ngomong-ngomong Mile, pria yang menghampirimu saat menuju kantin tadi ada urusan apa?" Tanya Mavis.

"Apa ?!" Reina, yang baru saja melepaskan Mile, menarik dan mencengkeram kerah bajunya dengan keras.

"Tunggu! Hentikan! Ka-kau mencekikkuuu ... ”

Setelah menceritakan seluruh isi percakapan dengan kedua pria itu, dia akhirnya dibebaskan lagi.

“Tak ada masalah, namun lebih baik kita wasada dengan yang pertama — dia mungkin menyembunyikan sesuatu. Mavis, jika pria itu mendekati Mile lagi, tahan dia! "

"Kupastikan itu..."

Mavis tersenyum kecut. Tiba-tiba, pertanyaan lain muncul di kepalanya. Dia berbalik ke Mile.

“Tapi kenapa Instruktur menjebakmu seperti itu? Kamu itu kan pengguna sihir ... "

"Entahlah?"

Ketika Mile menundukkan kepalanya, Mavis bertanya, dengan acuh tak acuh,

 “Ngomong-ngomong, Mile, kenapa kamu berhenti menangkis saat pukulan terakhir di pertandingan kedua itu? Khususnya dalam pertarungan itu kamu tidak kesulitan memblokir semua serangan tercepatnya, namun anehnya kamu membiarkan pukulan terakhir yang sangat lambat itu mengenaimu. Kenapa begitu? Apa kamu kena tipuan atau sesuatu? "

"……Hah?"

"Yah, maksudku, serangan terakhirnya itu cukup lemah, bukan?"

Atas bisikan Mavis, Mile tiba-tiba teringat apa yang dikatakan pemuda itu.
Perintah instruktur.

... bagian yang tidak terlindungi ...

Dan kemudian, kata-kata Mavis.

Serangan terakhirnya sangat lemah ...

Itu terjadi lagi.

Instruktur sedang menguji kebenarannya dan memastikan kalau dia sengaja kalah.

"A-ada apa ?!" tanya Mavis setelah melihat Mile yang termenung.

Dihadapkan dengan desakan Reina, Mile, yang sekarang cukup tertekan oleh kenyataan, memutuskan untuk menumpahkan kacang akan kemampuan pedangnya juga. Lagi pula, sekarang instruktur sudah tahu, itu hanya masalah waktu sampai semua orang juga tahu.

Setidaknya dengan ini, teman-temannya akan jadi yang pertama kali mendengarnya. Memikirkan itu, Mile menyadari bahwa dirinya tidak menyesal telah ketahuan.

"Teman," ya? Dalam hatinya berkata. Dan memang, duduk di sana di sampingnya, yang bingung karna Mile tiba-tiba menyeringai, adalah tiga teman barunya.



***


Hari-hari berikutnya dipenuhi dengan latihan praktek dari pagi sampai sore. Mulai dari meningkatkan kebugaran hingga mempelajari teknik bertarung, metode menyerang berbagai jenis monster, dan segala yang berhubungan dengan pemburu. Dari pelatihan individu serta latihan pertempuran, kadang-kadang bahkan melawan para instruktor. Selain itu sesi latihan juga dilakukan secara per profesi maupun dalam party. Tanpa memahami tugas yang dilakukan temannya di profesi lain, mereka tidak akan dapat menjalin hubungan kuat dengan anggota party mereka. Selain itu, ketika berpartisipasi dalam pertempuran nyata sebagai pegawal maupun petarung, memahami kemampuan musuh dan mampu melawan teknik mereka bisa berarti perbedaan antara menang atau kalah.

Para perempuan memiliki proporsi yang lebih besar dalam pengguna sihir, dan karena itu mereka tidak memiliki kekuatan di garis depan. Jadi saat latihan tarung antar party, mereka bertukar anggota dengan para laki-laki untuk sementara. Namun, karna keterampilan Mile sebagai penguna pedang dan kekuatan ketiga temannya, party Mile bisa bertarung tanpa bertukar anggota.

Karena kalau tidak melakukan kegiatan selain latihan praktek akan menyebabkan siswa kehabisan tenaga, pelajaran di kelas pun diadakan sesekali. Selama pelajaran ini, mereka belajar bagaimana mengidentifikasi tanaman obat, herbal, dan yang beracun, mempelajari kelemahan berbagai jenis monster, dan berbagai tindakan pencegahan. Mereka juga menerima pendidikan umum tentang sejarah negara-negara terdekat, susunan guild, dan etika yang berkaitan dengan interaksi dengan para bangsawan.

Biasanya, seorang pemburu akan mempelajari hal-hal seperti ini saat bertugas, dengan petunjuk dari anggota party yang lebih berpengalaman atau mempelajari dari melihat mereka. Masing-masing belajar memperbaiki diri melalui percobaan dan kesalahan.

Namun belajar dengan metode ini membutuhkan waktu, dan potensi kecelakaan karna kurangnya pengetahuan sangatlah tinggi. Karena itulah kebanyakan butuh bertahun-tahun untuk menjadi pemburu sepenuhnya, melewati banyak kegagalan, mengulang tahun demi tahun, untuk menndalami pengetahuan dan pengalaman ... Lebih buruk dari itu, bagaimanapun, adalah fakta bahwa banyak pemburu yang kehilangan nyawanya karna kegagalan tersebut.

Maka dari itulah Mile rajin belajar, menerima pelajaran dengan cukup serius, menuliskan semua itu dalam buku catatan yang dibawanya dalam kelas. Meskipun banyak yang membuat catatan seperti dirinya, beberapa siswa tampaknya lebih suka mendengarkan pelajaran, jadi tidak pernah menulis sepatah kata pun di catatan.

Suatu hari di kamar asrama mereka, ketika Mile yang penasaran menanyakan hal itu, Reina menjawabnya dengan agak jengkel, "Itu karena mereka buta huruf, bodoh."

"Hah? Tapi kalau gitu bagaimana mereka membaca permintaan quest? "

"Mereka akan meminta staf guild memilih yang pas — atau kadang-kadang meminta anak-anak yang berkeliaran membacakannya lalu diberi imbalan sedikit uang jajan."

"..."

Di kehidupan sebelumnya Mile suka membaca — tanpa teman, ditemani TV dan game sebagai satu-satunya hiburan. Dia hampir tidak bisa membayangkan tak bisa membaca atau menulis dan hanya bisa memikirkan betapa tragisnya ketidakmampuan mereka itu.



***


"Rapat party ketiga dimulai!"

Kali ini, saat Reina mengumumkan, sebuah pertanyaan muncul sebelum Mile bahkan sempat memikirkannya. "Um, jika Mavis adalah pemimpin kita, kenapa kamu yang selalu mulai bicara?"

"………"

"Um, maaf! Lupakan yang kukatakan! ”

"Topik pertemuan kali ini adalah ... hari libur kita berikutnya!" Reina melanjutkan bicara seolah-olah tak ada yang terjadi. "Seperti yang kalian tahu, party ini kurang dalam kekuatan, keterampilan, kecepatan, dan yang terpenting, uang!" Dia meneriakkan itu, suaranya nyaring sekali.
 “Setelah mempelajari cara berburu monster saat latihan praktek, kita bisa mulai menghasilkan uang dengan menukar bagian tubuh monster. Namun kita tidak bisa menunggu sampai saat itu! "

Memang, Reina sudah kehabisan uang — satu-satunya saat bisa ia makan hanyalah sajian tiga kali sehari dari kantin. Bukan hanya itu, dia mulai kehabisan tinta.

Keadaan semacam ini bisa disebut  "Di ujung tali" atau "Memukul sampai dasar batu."

"Mavis, kamu dan Pauline tidak memiliki pengalaman sebagai pemburu dan baru saja terdaftar sebagai rank-F setelah datang ke sini," lanjut Reina.
"Mile, kamu punya sedikit pengalaman, tapi sayangnya kamu juga masih rank-F. Bagaimanapun aku sudah rank-E, artinya aku bisa menerima pekerjaan melawan monster setingkat goblin dan orc.

"Jika ada permintaan pemusnahan, kita akan menerimanya. Jika tidak, kita akan mengumpulkan jackalope dan berburu hewan kecil. Jika semuanya berjalan dengan baik, harusnya kita bisa mendapatkan masing-masing tiga sampai empat perak. ”

"Hmm ..." kata Mile.

"Apa? Apa kamu keberatan? "

"T-tidak, gak masalah ..." Mile hanya terkejut akan antusiasme Reina dalam menghasilkan uang yang sedikit. Itu saja.



***


Malam itu, Mile berbaring di tempat tidur, memikirkan apa ia harus mengajarkan teman sekamarnya apa yang dia ketahui tentang sihir atau tidak.

Bahkan jika mengajari mereka, ia tahu dirinya tidak bisa melakukannya sama seperti yang dia ajarkan ke Marcela dan yang lainnya. Tiga temannya di Eckland hanya memiliki sedikit kemampuan sihir dan tidak akan pernah menjalani kehidupan di mana nyawa mereka akan dipertaruhkan pada kemampuan sihir. Dengan kata lain, bahkan jika dia mengajari mereka beberapa trik khusus, ketiganya tidak akan pernah menjadi pengguna yang dapat mempengaruhi nasib banyak orang, juga tidak akan melakukan sesuatu yang ceroboh jika mereka menghadapi bahaya fana. Mereka, dia tahu, akan bisa menjaga rahasianya.

Bagi para siswa di sekolah ini semua itu berbeda. Kehidupan mereka terkait erat dengan kemampuan sihir, dan nasib akan bergantung pada kemampuan anggota party mereka, bukan hanya diri mereka sendiri. Jika orang-orang seperti itu belajar bagaimana menumbuhkan kekuatan sihir secara pesat, mereka pasti akan berbagi pengetahuan ini dengan anggota partynya. Dan saat party itu bubar dan bergabung dengan yang lain, mereka akan memberi tahu orang-orang itu juga.

DI masa mendatang, orang-orang itu akan mengajarkan itu ke anak-anak mereka — dan anak-anak itu akan memberi tahu teman-teman mereka, beberapa di antaranya pasti akan sukses dan mungkin membuka sekolah sihir, atau bekerja sebagai pelatih anak-anak bangsawan, atau menjual keahlian mereka ke negara lain ...

Dengan kata lain, tidak mungkin pengetahuan Mile akan tetap menjadi rahasia.

Faktor lain yang perlu dipertimbangkan adalah fakta bahwa orang-orang di sekolah ini sudah memiliki kemampuan sihir yang signifikan. Kekuatan, konsentrasi, dan imajinasi mereka sudah jauh melebihi orang lain, itu berarti mereka mampu menggunakan sihir yang cukup kuat. Jika dia mengajarkan orang seperti itu...

Ketika memikirkannya itu, Mile sadar, dia tidak boleh mengajari teman-teman sekamarnya dengan cara sama seperti yang ia ajarkan ke Trio Ajaib. Namun, dirinya juga tak sanggup membayangkan salah satu dari mereka mokad tak lama setelah lulus. Juga mereka semua bertujuan untuk menjadi rank-C  saat lulus nanti, bukan D-rank, jadi kemampuan sihir ekstra akan sangat membantu.

Apa yang harus kulakukan…?

Mile terus merenungkan pertanyaan itu sampai fajar tiba.



***



"Baiklah para gadis, ayo berangkat!"
Hari ini kami libur.

Setelah bangun pagi dan bergegas sarapan - atas desakan Reina - keempat gadis itu pergi ke ibu kota menuju Guild Pemburu.

Tentu saja ada aula guild di ibukota.

Karena lokasinya, aula guild sudah seperti pusat ibukota, berfungsi sebagai tempat untuk mengkonsolidasikan kebutuhan semua penduduk negara ini. Namun, karena Guild Pemburu tersebar di banyak negara, masih belum ada satu pun tempat yang bisa disebut markas utama, dan itu menguntungkan. Tanpa "Pimpinan" di tempat tertentu, maka tidak bisa dengan mudah dihancurkan — organisasi pun tidak dapat diambil alih.

Namun akibat dari keamanan dan keseimbangan ini, pengerahan petugas guild pun lambat, dan begitu sebuah keputusan telah disepakati, tidaklah mudah untuk menrubahnya. Kapan pun keputusan besar perlu dibuat, itu harus didiskusikan dalam konferensi antar negara.

Hari masih pagi, tapi aula guild sudah penuh.

Atau lebih tepatnya, aula itu penuh karena masih pagi.

Salah satu alasannya adalah ...

"Hei! Mereka dari sekolah! "

Memang tampaknya semua siswa sama bokek dengan Mile dan teman-temannya, dan punya ide yang sama.
Papan quest, rank-F dan E khususnya, telah kosong. Semua pekerjaan layak yang bisa diselesaikan dalam sehari sudah lama habis.

"Kita telat ..."

Reina berlutut, harapannya hancur.

“Y-yah, masih ada quest pesanan dan tugas pengumpulan. Yah lan ?! ”kata Mile.

Dia sedikit lebih semangat atas dorongannya dan pergi untuk mengkonfirmasi harga di papan permintaan dan bahan. Setelah melihat kalau hadiah untuk burung dan jackalope cukup bagus, kekuatannya pun pulih.
(TN: Bagi yang gak tahu Jackalope, sekali lagi itu adalah hewan sejenis kelinci bertanduk rusa, wawalu di animenya ga dikasih tanduk :v)

"Yah, itu bagus untukmu! Ada banyak pembeli, jadi setidaknya harga daging akan tinggi. Ayo bergegas! "

Maka, Tim C dari dua belas kelompok ‘Sekolah Persiapan Pemburu ’memulai misi pertama mereka.



***



“Gak berhasil ..."
Reina tejatuh, kedua tangannya mengenggam tanah.
Untuk mendapatkan empat perak, mereka harus menangkap setidaknya delapan burung atau jackalope — atau dua rubah.

Jika mereka menangkap yang lebih besar seperti rusa, itu akan sangat membantu, tapi sejauh ini tak ada keberuntungan seperti itu menghampiri mereka.

Sudah tiga jam sekarang sejak mereka mulai berburu dan hampir siang. Mereka hanya menangkap seekor jackalope dan seekor burung. Kalau terus begini, mereka akan pulang hanya dengan satu perak.

Bahkan jika mereka bekerja keras dalam empat jam setelah istirahat makan siang dan hal-hal berlanjut seperti ini, paling banyak mereka hanya akan mendapat tiga ekor lagi. Bagi Reina yang palng kesulitan dari mereka semua, ini adalah masalah serius.

Sepertinya dia telah mengabaikan sesuatu yang kritis. Benar, populasi ibu kota itu besar, begitu juga jumlah daging yang dikonsumsi semua penduduknya — dan juga jumlah pemburu pemula. Akibatnya, area perburuan di dekat kota sudah disapu bersih.

Lebih baik aku mengatakan sesuatu, pikir Mile, ketika mereka duduk untuk istirahat mengambil membuka bungkus bekal mereka.

Saat itu, tatapan Reina tertuju ke makanan Mile.

"Tunggu, apa itu ?!"

"Hah? Ini hanya makan siangku ... "

Tiga yang lainnya sedang makan roti sisa dari kantin dan direhidrasi dengan air, namun Mile makan roti isi daging panggang dan minum teh hitam, yang pura-pura ia tarik dari ruang penyimpanan — meskipun pada kenyataannya, itu berasal dari Item Box.

"Bagaimana bisa makanannya masih hangat?" Tanya Reina. 
Pada akhirnya, dia mencuri bagian terbesar dari roti itu.



***


"Um, ada sesuatu yang ingin kusarankan kepada kalian semua ..." Mile akhirnya mengutarakan pemikirannya, ketika para gadis beristirahat setelah makan, Mile pun berbicara.

Semua orang berbalik melihat dan Mile melanjutkan.

"Alasan kenapa kita tidak bisa menangkap apa pun sebagian karena mangsanya sulit ditemukan, tapi aku juga berpikir sebagian lagi itu karena sihir kita tidak cukup akurat. Kita tidak memiliki pemanah, jadi hanya bisa mengandalkan mantra jarak jauh ... "

"Hei! Apa kau mau bilang kalau aku ini payah ?! "Reina tergagap.

Mile terus berbicara untuk menenangkan gadis lain.

 "Um, aku sebelumnya bilang kalau aku ahli dalam banyak jenis sihir, jadi, yah, jika kamu mau, mungkin kita bisa istirahat sejenak dan mempelajari beberapa teknik."

"Apa kamu mau mengajari kami sesuatu?"

"Y-ya, yah ..." Dia terdiam, menyadari kalau diajarkan oleh seseorang yang lebih muda darinya tidak akan baik untuk ego Reina. Sudah terjadi, Mile menyesal melakukan itu.

Namun…

"Kalau dipikir-pikir, kamu sudah membuatku mengambil semua tugasmu" kata Mile. "Kamu belum menembakkan sihir sekalipun. Dan duduk frustasi tidak akan membawa kita kemana-mana. Mungkin kita harus melakukan sedikit latihan — kau tahu, untuk melatih kecepatan. ”

Dengan langkah tak terduga, Reina pun setuju dengan Mile.

Mile terkejut, tapi dia tersenyum.

Saatnya petualangan mereka dimulai.




Sebelumnya             Daftar Isi             Selanjutnya

Post a Comment